Inilah Operasi Pasukan Khusus Yang Disorot Dunia

bogorOnline.com
Dikutip dari salah satu media online nasional, keberanian, kesabaran, dan strategi jitu adalah ‘senjata’ andal bagi pasukan elite di seluruh dunia kala menjalani operasi militer.

Taktik dan rencana tak akan terwujud jika tidak dilengkapi dengan kepiawaian para prajurit terpilih saat melakukan operasi militer. Melenceng sedikit, bisa-bisa nyawa jadi taruhan.

Para tentara yang menjalani operasi militer itu biasanya berasal dari pasukan khusus yang dibentuk serta dilatih untuk melaksanakan misi perang non-konvensional, anti-teroris, pengintaian, dan pertahanan luar negeri.

Lazimnya, pasukan ini terdiri dari kelompok kecil yang sangat terlatih, bekerja secara mandiri dan ‘siluman’, berkecepatan tinggi, serta dipersenjatai dengan senjata khusus.

Operasi militer yang mereka lakukan biasanya bukan kasus biasa — terkait dengan terorisme, penyanderaan dan lainnya yang membutuhkan keterampilan khusus.

Berikut operasi militer yang paling disorot dunia yang dilakukan oleh pasukan khusus.

Alpha Group, Rusia

Pada 3 September 2004, sekelompok pria dan wanita bertopeng mengenakan sabuk berisi bahan peledak, menyerbu ke sekolah di Rusia, menembaki orang-orang di halamannya.

Kala itu murid-murid tengah berkumpul untuk upacara yang menandai awal tahun ajaran baru.

Para penyerang mengancam akan meledakkan sekolah jika pasukan keamanan menyerbu gedung. Anak-anak pun ditempatkan di jendela, dijadikan sebagai perisai hidup.

Mereka menyandera orang-orang di bangunan sekolah tersebut 3 hari lamanya. Dalam pembicaraan pada 3 September antara pemberontak dan mantan pemimpin Ingushetia, Ruslan Aushev, disepakati pembebasan 26 perempuan dan anak-anak.

Alpha Group atau Spetsgruppa “A” lalu dikerahkan untuk menyelamatkan para sandera. Namun, negosiasi berjalan alot dan berakhir dengan baku tembak serta ledakan.

Alpha Group atau pasukan khusus milik Rusia dibentuk pada 28 Juli 1974 oleh Komandan KGB, Yuri Andropov. Pembentukannya terinspirasi oleh serangan teroris di Munich pada 1972.

Pasukan tersebut juga dikerahkan untuk menangani pembajakan Aeroflot Flight 6833 di Tbilisi, Georgia. Tim Alpha menggagalkan pembajakan tersebut dengan serbuan secepat kilat ke kapal terbang tersebut, menghabisi 3 pembajak dan menangkap lainnya yang hendak kabur. Lima sandera menjadi korban kala itu.

Kaibiles, Guatemala

Pasukan khusus Guatemala ini paling ditakuti di seluruh Amerika Tengah. Dibentuk pada tahun 1974 dengan tujuan untuk melawan milisi.

Saking piawainya pasukan ini, anggotanya dilibatkan dalam UN Peace Keeping Force atau Pasukan Perdamaian PBB dan ditempatkan di Kongo.

Operasi militer yang paling mematikan terjadi kala Kaibiles bergabung bersama PBB untuk menjaga perdamaian di Kongo. saat itu, 80 tentara khusus mencoba menangkap wakil komandan pemberontak, LRA, Vincent Otti pada tahun 2006.

“Sayangnya operasi itu salah taktik,” kata anggota senior kepada Reuters. Delapan orang pasukan khusus Kaibiles tewas sementara target operasi gagal.

Sayeret Matkal, Israel

Pada 27 Juni 1976, maskapai Air France terbang dari Tel Aviv ke Paris membawa 247 penumpang dan 12 kru. Mereka berhenti sejenak, namun setelah beberapa menit terbang landas dari Yunani, di kabin terdengar suara orang saling berteriak.

Kapten Michel Bacos menyuruh chief enginer atau teknisi pesawat melihat apa yang terjadi. Rupanya, salah satu penumpang, Wilfried Bose membawa revolver dan granat. Ia tak sendirian, ada seorang perempuan yang juga berkomplot dengannya.

Bose adalah anggota Revolutionary Cells atau RZ, kelompok teroris yang ditakuti pada masanya. Bose dan kelompoknya meminta pembebasan 53 tahanan. Mereka memaksa pesawat pergi ke Uganda.

Sementara pesawat mendarat di Uganda, di Tel Aviv sejumlah persiapan operasi militer pembebasan penumpang yang mayoritas warga negara Israel dibuat.

Operasi dipimpin Yonatan atau Yoni Netanyahu. Mereka membawa empat Hercules dan dua Boeing 707 berisi 200 tentara elite Israel.

Rombongan itu terbang selama 8 jam di bawah radar. Ketika mendarat di Uganda, operasi itu terlihat kacau karena tak ada koordinasi dengan pemerintah setempat.

Yang terjadi justru baku tembak antara pasukan elite Israel dengan militer Uganda. Yoni lantas mengambil keputusan tepat, ia dan segelintir pasukannya masuk ke pesawat Air France membebaskan tahanan dengan menembak mati para teroris.

Seluruh teroris, 20 tentara Uganda, beserta 4 penumpang tewas. Sementara, Yoni, sang komandan, gugur dalam operasi itu.

Yoni tak lain tak bukan adalah kakak dari Ben Nitay alias Benjamin Netanyahu. Saat operasi militer berlangsung, Ben tengah menimba ilmu di Cambridge, Massachussetts, Amerika Serikat.

Kabar kematian diterima oleh Ben, kala pemuda itu tengah menikmati perayaan 4 Juli Hari Kemerdekaan ke-200 Amerika Serikat.

Kopassus, Indonesia

Pada 28 Maret 1981, pesawat maskapai Garuda Indonesia dibajak di Thailand. Pembajakan berdarah yang menelan korban jiwa ini merupakan yang pertama dalam sejarah penerbangan Indonesia.

Pagi itu, sekitar pukul 08.00 WIB, pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan 206 berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta ke Bandara Polonia, Medan.

Pesawat DC-9 Woyla itu transit di Pangkalan Udara Talang Betu, Palembang dan akan terbang ke Medan dengan perkiraan waktu sampai, yakni pukul 10.55 WIB.

Dalam perjalanan dari Palembang ke Medan, tiba-tiba 5 anggota kelompok ekstremis ‘Komando Jihad’ yang menyamar sebagai penumpang beraksi. Seorang pelaku menuju ke kokpit dan yang lainnya berdiri di gang antara tempat duduk pesawat. Dengan senjata api, mereka meminta pilot untuk menerbangkan pesawat ke Kolombo, Srilangka.

Pesawat sempat mendarat sementara di Bandara Penang, Malaysia untuk mengisi bahan bakar. Garuda Indonesia ini kemudian melanjutkan perjalanan ke Thailand dan mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand. Di sini, klimaks pembajakan terjadi.

Para pelaku meminta agar anggota Komando Jihad yang ditahan akibat peristiwa Cicendo dibebaskan. Mereka juga menuntut uang sejumlah US$ 1,5 juta, pesawat untuk pembebasan tahanan dan terbang ke tujuan yang dirahasiakan.

Menanggapi hal itu, militer Indonesia memutuskan untuk mengerahkan pasukan Kopassandha (Nama satuan Kopassus saat itu) untuk melakukan penyergapan di bandara Thailand tersebut.

Pukul 02.30 tanggal 31 Maret, prajurit bersenjata mendekati pesawat secara diam-diam dan akhirnya berhasil melumpuhkan para teroris.

Namun dalam serbuan operasi kilat Grup-1 Para-Komando yang dipimpin Letnan Kolonel Infanteri Sintong Panjaitan, pilot pesawat Garuda, Kapten Herman Rante, dan Achmad Kirang, salah satu anggota satuan Para-Komando Kopassandha, meninggal dalam baku tembak.

Operasi penyelamatan ini disebut-sebut lebih heroik dibanding operasi Entebbe.(rul)

Comments




Leave a Reply

Your email address will not be published.