Ketua Yayasan Ekawijaya Terkesan Plin-Plan dalam Keterangan Persidangan

Cibinong-bogorOnline.com-Perseteruan yang terjadi di keluarga Ekawijaya yakni antara Anak dan Ayah di Pengadilan Negeri (PN) Cibinong tak kunjung padam, meskipun majelis hakim yang diketuai oleh Barita Sinaga ini berkali-kali menempuh jalur mediasi namun selalu menemui jalan buntu hingga akhirnya berlanjut terus di persidangan.
Sidang yang sudah kesekian kalinya di gelar di PN Cibinong ini, dengan agenda menghadirkan para saksi dari kedua belah pihak. Keduanya saling bersikukuh atas persoalan pabrik pengolahan Mie Bihun berlabel PD Sari Rasa yang terletak di Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.
Sony Ekawijaya selaku pihak tergugat, menghadirkan mantan Kanit Reskrim Polsek Cibinong AKP Zulkarnaidi. Menurut Sony, dalam gugatan yang dilayangkan oleh Yansen Ekawijaya, bahwa telah terjadi perjanjian perdamaian dengan difasilitasi oleh pihak Polsek Cibinong ketika itu.
Namun semua itu sempat dibantah oleh ketua majelis hakim yang menganggap tidak cakap dan tidak melalui syarat yang sah, karena Yuliana Ekawijaya tidak didampingi suami yakni Yansen Ekawijaya, selain itu juga Yuliana tidak cakap dalam membuat perjanjian dan dalam kondisi tekanan. Namun pihak kepolisian ada hak diskresi tersendiri.
“Saksi telah memberikan keterangan apa adanya. Ini sama saja Yansen Ekawijaya telah memberikan keterangan palsu, tidak sesuai dengan keterangan awal berbeda dengan pembuktian para saksi dihadapan majelis hakim,” kata Sony Ekawijaya, kepada bogorOnline.com usai persidangan, kemarin.
Saksi dari  tergugat, Zulkarnaidi dalam persidangan menyebutkan, bahwa dalam gugatan Yansen Ekawijaya yang menyebutkan bahwa perjanjian perdamaian itu tidak melalui syarat yang sah, karena tidak didampingi suami, tidak cakap dalam membuat perjanjian dan dalam kondisi tekanan, semua terungkap melalui kesaksian dalam pembuktian dipersidangan.
“Tidak ada pemaksaan yang dilakukan oleh Sony Ekawijaya terhadap Yuliana, tidak ada juga penekanan atau bahkan intimidasi, sehingga surat perjanjian itu dianggap tidak batal. Dan semua melalui kesepakatan bersama,” kata Zulkarnaidi.
Sementara saksi lain, Dwi mengatakan,  bahwa setelah Yuliana menyerahkan surat perdamaian,  ternyata Yansen juga ikut menyusulkan surat perjanjian penyerahan pabrik kepada Sony.
“Kedua belah pihak secara tidak langsung telah terjadi penyerahan. Jadi tidak bisa dianggap melanggar perjanjian karena pak Yansen ikut menyetujuinya,” ungkapnya.
Diluar persidangan, Sony menambahkan, kenapa dirinya mendatangi sekolahan Ekawijaya, karena biasanya Yansen Ekawijaya berada di sekolah. “Kedatangan kami ke sekolah hanya ingin meminta haknya yaitu meminta barang yang sudah dibayar, bukan menguasai pabrik,” imbuhnya.
Sebelum duduk di kursi persidangan, kepada sejumlah pewarta yang biasa menjalankan tugas jurnalistiknya di PN Cibinong ini, Yansen Ekawijaya selaku penggugat, mengemukakan bahwa dirinyalah pemilik sah atas usaha itu.
“Pabrik itu atas nama saya, barang-barang milik saya, dan rumah saya dilokasi pabrik itu, ketika kami mau masuk malah diusir sampai ibunya didorong hingga terjatuh, itu kan anak yang kurang ajar,” ungkapnya.
Ia juga mengelak atas tudingan Sony Ekawijaya yang menyebutkan bahwa pabrik yang sedang dikelolanya itu sedang kolaps atas hutang kesejumlah rekanannya, hingga akhirnya pabrik itu diserahkan kepada Sony Ekawijaya untuk dikelola.
Namun setelah hutang-hutang telah dilunasi oleh Sony, tiba-tiba Yansen ingin kembali mengelola pabrik itu tanpa mau mengembalikan uang pengganti yang telah dibayar kepada sejumlah rekanan bisnisnya bahkan soni juga sudah banyak membenahi perusahan dan banyak mengeluarkan uang. (di)

Comments