Diiming-iming Rp 125 juta per Bulan, Pemilik Hotel Cibinong 2 Tertipu

CIBINONG – Pemilik Hotel Cibinong 2 Yahya Rauf mengaku telah ditipu oleh rekan bisnisnya yakni Muhamad Yusuf Wahid dengan diiming-iming mendapatkan royalti sebesar Rp 125 juta tiap bulannya dalam suatu perjanjian kerja sama bisnis.

Surat perjanjian kerjasama itu sendiri dibuat oleh Notaris Pejabat Pembuat Akte Tanah (PPAT) Dheasy Suzanti yang beralamat di Ruko Plaza Niaga I Blok A nomor 22 Sentul City Selatan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor pada Agustus 2014 yang lalu.

Melalui Kuasa Hukum pemilik Hotel Cibinong 2 Mochammad Ramli menuturkan, awal mula kasus yang dialami klien nya tersebut dari sebuah perjanjian kerjasama yang ditawarkan oleh Muhammad Yusuf Wahid dengan menawarkan investasi usaha minyak kepada Yahya Rauf.

“Ketika itu persetujuan perjanjian kerjasama di terima oleh klien saya. Karena sebuah iming-iming dan royalti yang mencapai Rp 125 juta per bulan jika bersedia berinvestasi di usaha bisnis minyak yang ditawarkan Muhammad Yusuf Wahid itu,” kata Romli kepada wartawan saat jumpa pers, kemarin.

Ia menambahkan, dengan perjanjian kerjasama itu, kliennya memberikan surat tanah di atas bangunan Hotel Cibinong II yang berlokasi Jalan Raya Jakarta Bogor KM 46 RT002 RW 011, Kelurahan Pakansari, Kecamatan Cibinong.

“Perjanjian yang diterima saat itu, jika mau mendapat keuntungan dari investasi tersebut harus memberikan surat sertipikat tanah Hotel Cibinong II kepada M. Yusuf Wahid beserta kuasa jual dari Muhammad Yusuf kepada Yahya Rauf,” ungkapnya.

Ia menerangkan, setelah perjanjian kedua belah pihak telah final, tak lama Yahya Rauf langsung mendapat gelontoran dana cukup tinggi dengan total mencapai Rp4.5 miliar rupiah.

“Setelah perjanjian kerjasama itu telah selesai dilakukan, klien saya langsung mendapat gelontoran dana seperti yang dijanjikan oleh Muhamad Yusuf Wahid itu hingga total Rp4.5 miliar. Dengan Rp 2,5 miliar bentuk uang tunai dengan cara bertahap, sisanya lagi yakni Rp2 miliar dengan bentuk barang,” terangnya.

Kecurigaan timbul dan baru menyadari bahwa telah tertipu oleh rekan bisnisnya setelah dua tahun berlalu. Yakni saat adanya pegawai bank Mandiri bagian Special Asset Managemen 1 Group RSAM Region III/Jakarta 1 mendatangi Hotel Cibinong II ini dengan melakukan foto-foto. “Katanya foto itu untuk pelelangan yang dilakukan pada tanggal 19 Juli 2017 di kantor KPKNL Bogor,” ungkapnya.

Setelah itu, sambung dia, tak lama berselang pada 30 Mei 2017 lalu adanya surat resmi pemberitahuan pelaksanaan lelang eksekusi hak tanggungan dan pengosongan Agunan.

“Kan adanya surat tersebut klien saya itu jadi bingung, kok ada surat resmi dari bank Mandiri langsung dari Jakarta yang isinya akan dilakukan pelelangan di KPKNL Bogor. Karena dalam surat itu tertulis perihal pernyataan Wanprestasi dan mengingat sampai saat ini saudara atau Muhammad Yusuf Wahid itu belum menyelesaikan kewajiban kredit atas nama PT Petroleum Energi Indonesia,” imbuhnya.

Atas kejadian ini, pihaknya telah melaporkan kasus ini ke Polres Bogor dengan nomor Surat tanda bukti Laporan, No Pol : STBL/B/2189/XI/2016/JBR/RES BGR terkait pelaporan kasus penipuan dengan pasal 378 KHUPidana.

“Kita sudah laporkan ini ke Polres Bogor, karena ada indikasi penipuan. Kan awal perjanjian kerjasama itu pinjam meminjam, kok malah menjadi adanya Jual Beli dan pinjaman dana hingga total Rp28 miliar yang dilakukan secara sepihak oleh terlapor yakni M Yusuf Wahid je Bank Mandiri tanpa sepengetahuan kitat. Kan pinjaman ini dilakukan secara pribadi dengan pihak bank sebagai jaminan surat sertipikat klien kami ini. Kenapa tidak dibayarkan dan ini malah akan dilakulan pelelangan pula,” ungkapnya.

Pihaknya juga berharap, dengan adanya kasus sengketa ini, pihak KPKNL Bogor dapat menunda pelelangan. “Kami berharap KPKNL Bogor agar menunda pelalangan tersebut. Karena ini sedang dalam sengketa, karena sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia no.106/PMK. 06/2013 tahun 2013. Sehingga klien kami mendapat keadilan, perlindungan dan kepastian hukum karena klien kami sedang mengajukan gugatan perdata. Dan juga kami sudah melakukan permohonan Pemblokiran Sertifikat atas nama Yahya Rauf,” pintanya.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi Notaris Dheasy Suzanti mengatakan, akta yang dibuatkan pihaknya itu atas dasar permintaan kedua belah pihak yang kini sedang berseteru. “Malah Yahya sendiri yang meminta ke saya untuk membuatkan surat perjanjian kerjasama dengan Yusuf. Klien saya itu Yahya bukan Yusuf,” kata Dheasy.

Ia memaparkan, pihaknya sudah melakukan hal yang sudah masuk ke pihak kepolisian ini sesusai dengan tupoksinya berdasarkan kode etik kenotarisan. “Akta Jual Beli (AJB) dan surat perjanjian itu saya buat berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak terlebih dahulu. Saya juga sudah di BAP di Polres Bogor terkait persoalan ini,” tandasnya. (di)

Comments