Pusat Penelitian Biologi LIPI Minim Peneliti

Cibinong – Pusat penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengalami kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) peneliti lantaran sebagaian memasuki masa pensiun, dampaknya pengidentifikasian keanekaragaman hayati yang tersebar di tanah air kurang maksimal.

Hal tersebut dikatakan Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Witjaksono, saat menggelar kegiatan Multi-stakeholder Participatory Seminar bertemakan “50 Tahun Peran Pusat Peneliti Biologi dalam Pengungkapan dan Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati Indonesia secara Berkelanjutan untuk Kesejahteraan Bangsa” di Gedung Diseminasi IPTEK, Pusat Peneliti Biologi-LIPI Cibinong Science Center, Jl. Raya Jakarta Bogor KM 46 Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Selasa (05/09).

“Untuk kekayaan aneka hayati yang telah teridentifikasi seperti jenis serangga hanya 10 persen, jenis mamalia 70 persen, apalagi mikro organisme di Indonesia sangat luar biasa. Yang masih banyak belum teridentifikasi adalah kekayaan kita terutama di laut, karena kurangnya tenaga peneliti. Bagaimana kita bisa tahu, kalau penelitinya saja masih kurang,” kata Witjaksono.

Menurutnya, dalam dunia penelitian keanekaragaman hayati, telah banyak dimanfaatkan oleh dunia industri sehingga banyak memperoleh royalti. “Kami paling banyak menghasilkan royalti dari kerjasama dengan perusahaan swasta. Termasuk yang paling banyak paten nya sehingga banyak digunakan untuk swasta,” ujarnya.

Dalam penelitian, setiap melakukan penelitian di suatu tempat pasti menemukan hal baru, sehingga tidak menemukan adanya jumlah keseluruhan keanekaragaman hayati. “Kalau keanekaragaman hayati kita secara total nya tidak akan pernah tahu, karena eksplorasi yang dilakukan terus menemukan hal baru,” katanya.

Sejauh ini, jelas Witjaksono, terdapat sekitar 300 spesies mamalia yang telah di identifikasi, sedangkan tumbuhan sekitar 30 sampai dengan 40 ribu. “Keanekaragaman hayati yang tertinggi adalah Kumbang,” imbuhnya.

Ia juga mengakui, jika selama ini dalam melakukan penelitian seperti halnya yang baru dilakukan penelitian di salah satu hutan lindung di Papua, pihaknya menggandeng Kopassus. “Kami sangat terbantu dengan Kopassus, LIPI ini benar-benar netral tidak ada agenda politik, kecuali kebutuhan penelitian saja. Kalau tidak dengan Kopassus kami dicurigai,” tukasnya. (di)

Comments