7 Restoran Gunakan Gas Melon, Kena Sidak Disperdagin Pemkab Bogor

CIBINONG –

Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Bogor menggelar inpeksi mendadak (Sidak) gas elpiji tiga kilogram ke restoran diwilayah Bumi Tegar Beriman. Sidak tersebut, terbukti dari 10 rumah makan yang disatroni dua instansi Pemkab Bogor, tujuh diantaranya masih menggunakan gas melon. Padahal sasaran dari elpiji tersebut 50 persen merupakan rumah tangga yang berpenghasilan Rp1,5 juta dan 50 persen lagi untuk Industri Kecil Menengah (IKM). Bersama dengan Satpol PP Kabupaten Bogor dan Hiswana Migas Bogor, Disperdagin Kabupaten Bogor menertibkan sekaligus memberikan sosialisasi.

Kabid Perdagangan pada Diseprdagin Kabupaten Bogor Jhona Sijabat mengatakan, bahwa mayoritas pemilik usaha beralasan tidak mengetahui bahwa gas tersebut bukan untuknya berusaha dan harus ditertibkan. “Kita tukar tiga buah elpiji ukuran tiga kilogram milik mereka dengan satu elpiji ukuran 5,5 kilogram sehingga tidak ada alasan lagi mereka tidak tahu,” kata Jona kepada Wartawan Rabu (8/11/17).

Ia menjelaskan, bahwa para pemilik usaha juga diberikan sosialisasi bahwa tutup elpiji yang asli memiliki barcode dari Pertamina. Selain itu, pemilik usaha tidak diperbolehkan membeli gas diluar agen wilayah Kabupaten Bogor. Untuk Kabupaten Bogor berwara kuning, Kota Bogor hijau, dan Kota Depok biru.¬†“Kalau yang 5,5 kilogram dan 12 kilogram kita lihat barcode dan rayonisasi. Kalau beli diluar rayon akan ada sanksi administrasi atau di skors,” bebernya.

 

Jhona menjelaskan, bahwa jika saat ini masih banyak plastik tutup gas yang belum memiliki barcode itu merupakan stok lama. Namun, jika seterusnya tidak ada maka diduga itu oplosan.¬† “Barcode itu sudah dari sebulan. Tadi banyak juga yang tidak ada barcode nya, kita duga apakah itu oplosan atau stok lama. Barcode itu juga upaya untuk mengantisipasi gas oplosan. Barcode yang asli itu dari pertamina kalau terkena cahaya akan timbul tulisan atau logo pertamina,” ungkapnya.

Pada hari ini, kata Jhona, elpiji mengalami kenaikan harga. Namun untuk ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram. Jika sebelumnya ukuran 5,5 kilogram seharga Rp60 ribu, naik menjadi Rp60 ribu. Sedangkan untuk 12 kilogram seharga Rp129.500 menjadi Rp139.500. “Kami mengimbau, masyarakat untuk sadar dalam penggunaan elpiji. Hal tersebut agar subsidi gas tiga kilogram tepat sasaran. Selain itu, agen atau pangkalan gas juga tidak menjual dengan sembarangan,” tegasnya.(rul)

Comments