Berebut Mic Saat Shalat Jum’at, Imam Masjid dan Ketua DKM Berseteru Hingga ke Pengadilan

CIBINONG – Seorang imam, semestinya menjadi panutan dan memberikan contoh dan keteladanan yang baik kepada jamaah nya. Namun yang terjadi, Imam masjid ini malah berseteru dengan ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) nya, hingga akhirnya berujung ke persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Cibinong.

PN Cibinong untuk kedua kalinya, Kamis (16/11), menggelar sidang atas dugaan penganiayaan terhadap Burhanudin Husaini yang diduga dilakukan oleh terdakwa Acep bin Husein saat hendak menjalankan ibadah sholat Jum’at di Masjid Jami Nuru Zaman di RT 02/02 Desa Kedung Waringin, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor.

Dugaan penganiayaan tersebut terjadi pada 25 Agustus 2017 yang lalu sekitar pukul 11.50 WIB sesaat sebelum shalat Jum’at dimulai. Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Chandra Gautama ini, dengan agenda menghadirkan tiga orang saksi pelapor yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Ketiga orang saksi pelapor itu yakni Burhanudin Husaini, Ahmad Safei dan Ahmad Takiyudin. Dalam keterangan di persidangan, Burhanudin Husaini yang juga tetangga dari terdakwa itu mengaku, bahwa kronologis kejadian berlangsung singkat, hanya saja bagian bawah mata kirinya mengalami luka lebam sampai sobek akibat dipukul oleh terdakwa.

“Pada saat kejadian, saya bukan imam untuk sholat Jum’at itu. Ketika saya sedang berdiri dan memegang mic yang akan menyampaikan perihal Idul Adha, tiba-tiba dirampas oleh terdakwa, sehingga saya tepis atau dorong, setelah itu terdakwa langsung memukul saya yang mengenai bagian mata bawah saya. Saya tidak tau penyebab terdakwa memukul saya,” kata Burhanudin Husaini dalam keterangannya di persidangan.

Ia mengakui, bahwa dirinya sempat pingsan setelah dipukul oleh terdakwa yang juga dikenal lihai puncak silat. “Saya terjatuh dan disaksikan ratusan jamaah, sampai terhuyung-huyung lalu pingsan,” imbuhnya.

Setelah usai Sholat Jum’at, ia langsung pulang, tidak berselang lama dirinya langsung ke Polres Depok untuk membuat laporan. “Karena bagian bawah mata saya sakit, sampai lebam dan sobek kemudian saya laporkan ke Polres Depok. Secara manusia saya memaafkan, tapi proses hukum tetap berjalan,” ungkapnya.

Diketahui, Burhanudin adalah Dewan Iman di Masjid Nuru Zaman, sedangkan terdakwa merupakan Ketua DKM sementara setelah ketua DKM sebelumnya mengundurkan diri. “Saya adalah Dewan Masjid yang sehari-hari mewakili para iman,” tuturnya.

Sementara itu, saksi lainnya yakni Ahmad Safei mengatakan dalam keterangannya, bahwa pelapor memang mengalami lebam di bagian bawah mata kirinya, hanya saja tidak sampai sobek seperti apa yang dikatakan saksi pelapor.

“Saya tidak lihat kejadian pasti saat kejadian karena sedang dzikir. Saya mengamankan kedua pihak tersebut setelah ada ramai-ramai, dan menenangkan Burhanudin untuk duduk, setelah itu baru dimulai sholat Jum’at,” katanya.

Tidak seperti keterangan saksi pelapor, yang mengatakan bahwa dirinya sempat pingsan, saksi Ahmad Safei menuturkan bahwa pelapor tidak mengalami pingsan usai dipukul oleh terdakwa. “Posisi korban setelah insiden sadar, tidak pingsan. Luka warna biru hanya sedikit, tidak ada sampai sobek,” tuturnya.

Sedangkan saksi ketiga, yaitu Ahmad Takiyudin dalam keterangannya, lebih banyak menjawab tidak tahu, atas sejumlah pertanyaan baik yang dilontarkan oleh majelis hakim maupun dari kuasa hukum terdakwa.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa, Rosadi, usai persidangan mengungkapkan, banyak terungkap kejanggalan antara hasil berita acara pemeriksaan (BAP) di Kepolisian dengan keterangan di persidangan.

“Keganjalan yang terjadi salah satunya, dalam BAP disebutkan bahwa saksi Ahmad Takiyudin mengenal saksi pelapor enam bulan terakhir, namun ketika ditanya di persidangan ternyata masih ada hubungan keluarga yakni iparnya saksi pelapor. Kemudian dalam BAP juga mengetahui kejadian pemukulan itu, tapi ternyata di persidangan tidak tahu,” ungkapnya.

Ia juga menganggap, bahwa kasus yang ditanganinya sebetulnya cukup sampai musyawarah di kedua belah pihak saja, karena bukan merupakan penganiayaan berat. “Pasal yang di dakwakan adalah pasal 351 KUHP tentang penganiayaan berat, padahal faktanya kan penganiayaan ringan yang semestinya dikenakan pasal 352 KUHP,” ucapnya.

Langkah selanjutnya, kata Rosadi, pihaknya akan menghadirkan saksi-saksi yang meringankan terdakwa. “Selain saksi yang meringankan, kami juga akan mengajukan permohonan penangguhan penahanan karena selain kondisi kesehatan, juga faktor usia yang memang sudah tua,” katanya.

Dalam sidang tersebut, majelis hakim sempat menanyakan kepada terdakwa dan saksi pelapor apakah keduanya bisa saling memaafkan. Sehingga keduanya secara manusiawi saling memaafkan dan berpelukan didepan majelis hakim dan juga masyarakat yang berjubal di ruang sidang. Dalam ruang sidang, terlihat dari keluarga terdakwa memadati untuk menyaksikan jalannya persidangan. (di)

Comments