Guru “Zaman Old” Kota Bogor, akan Dilatih Menjadi Guru “Zaman Now”

Bogor – bogorOnline.com

Berdasarkan survei dari HP (Hewlett-Packard) dan Universitas Paramadina didapatkan hasil jika 85 persen siswa menggunakan handphone saat berada di kelas tanpa sepengetahuan dari gurunya. Data tersebut berbanding jauh dengan hasil wawancara ribuan tenaga pendidik dalam mengakses internet yang diperoleh angka 33 persen guru mengakses internet yang hanya sesekali dalam beberapa bulan.

“Gurunya masih kurang melek internet, sementara siswa-siswanya maju lebih tinggi,” ujar Wali Kota Bogor Bima Arya seusai acara Peluncuran Hasil Penilaian Kesiapan Teknologi Pendidikan Nasional di ruang Paseban Sri Baduga, Balaikota Bogor, Kamis (23/11/17).

Bima mengatakan, survei tersebut diperoleh dari penelitian yang dilakukan dengan sangat serius dalam jangka waktu dua tahun. Responden dari penelitiannya mencapai ribuan orang yang terdiri dari guru, orangtua dan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan kesiapan institusi pendidikan dalam menggunakan teknologi.

“Pada intinya guru-guru menyatakan siap, tetapi siswa jauh lebih siap berteknologi ria dibanding guru-gurunya,” terangnya.

Kesiapan guru berteknologi, lanjut Bima, akan didorong Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dengan melengkapi peralatan teknologi yang tepat sesuai dengan permintaan dari para guru. Pasalnya, dari para guru pun menginginkan masuknya teknologi yang canggih di institusi pendidikan. Sebab teknologi bukan hanya media sosial saja, tetapi secara keseluruhan. Mulai dari menggunakan perangkat komputer, mengimplementasikan semua teknologi dalam setiap aktivitas belajar.

“Pemkot Bogor akan fokus untuk pembinaan dan pendampingan guru karena itu yang terpenting. Jangan sampai anak-anaknya zaman now, gurunya zaman old,” katanya.

Bima menambahkan, program HP  NETR (National Education Technology Readiness Assessment) di Kota Bogor ini merupakan pilot project pertama di Asia Pasifik. Kota Bogor terpilih dikarenakan Bogor dinilai sebagai salah satu kota yang fokus mewujudkan Smart City.

“Serta dari karakteristik di Kota Bogor yang mana kelas menengahnya siginifkan dan usia sekolahnya cukup tinggi 10 tahun,” jelasnya.

Kepala riset Totok Amin Soefijanto mengatakan, teknologi itu tidak hanya laptop tetapi juga gawai yang turut mempengaruhi anak-anak belajar. Banyaknya siswa yang menggunakan handphone di kelas secara sembunyi-sembunyi, menurutnya akan lebih baik jika guru memanfaatkan penggunaan handphone di kelas sebagai proses pembelajaran.

“Memang tidak semudah itu guru harus dilatih memanfaatkan teknologi. Apalagi kebanyakan guru masuk di kategori generasi digital imigran, sementara siswanya pribumi digital atau digital native jadi tidak bisa dihidari,” jelasnya.

Pemanfaatan teknologi kata Totok dalam pembelajaran juga tetap memerlukan filter. Ia menuturkan, ada dua filter yang dapat dilakukan, yakni filter teknologi dan filter dari siswa. Filter teknologi berupa pencegahan konten-konten tidak mendidik yang bisa disharing. Sedangkan filter dari siswa berupa penguatan mental dan karakter anak.

“Jadi kita perkuat pendidikan karakternya agar mereka bisa menjadi orang-orang yang dapat memilih literasi medianya, ada rem kontrol dalam dirinya,” pungkasnya. (Nai/hms)

Comments