Ulama dan Kyai Terkemuka Kota Bogor Hadir di Holaqoh Alim Ulama

Ulama dan Umaro Harus Bersatu dan Sinergis Hadapi Pilkada
 
bogorOnline.com
Para kyai, ulama dan ajengan dari berbagai wilayah di Kota Bogor hadir dalam acara Holaqoh alim ulama se-Kota Bogor yang digelar GP Ansor Kota Bogor di Hotel Ayuda, kawasan Sempur, Kamis (14/12/17).
Dengan mengangkat tema “Masa depan kepemimpinan Kota Bogor dalam perspektif alim ulama”, para ulama, kyai dan umaro terkemuka di Kota Bogor yang hadir diantaranya, mewakili wilayah Kecamatan Bogor Barat, KH Fuad Fitri, KH Badrin, KH Agus Fauzan, dari Kecamatan Tanah Sareal, KH Ridwan Towil, KH Firdaus, KH Zaenal Abidin, KH Ahmad Nahrowi, Kecamatan Bogor Timur, KH Ahmad Supardi, KH Baban Subandi, KH Nasrudin Latif, Kecamatan Bogor Utara, KH Nafis Hamidi, KH Abah Adang, KH Deden, Kecamatan Bogor Selatan, KH Taufik Khudori, KH TB. Kholidi, KH TB Muhidin, KH Sowi Dimyati, Kecamatan Bogor Tengah, KH Wahid Mubarok, KH Tavip Budiman, KH Mus.
Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan, selama mengemban amanat menjadi Wali Kota Bogor, ia menyimpulkan hidup mati di Bogor, jatuh bangun dan pecah bersatunya maupun bangkitnya Kota Bogor, atas peran serta seluruh masyarakat, terutama para ulama dan umaro. Ada dua hal yang menentukan hal itu, semakin banyak orang tidak takut kepada Allah maka semakin besar persoalan di Kota Bogor terjadi. Kedua tentang silaturahmi, karakter dan kemampuan membangun hubungan baik antara umaro dan ulama.
“Saya menyadari bagaimana sulitnya mengatur aparat maupun masyarakat yang melanggar peraturan. Kami mohon bimbingan, nasehat para ulama untuk memperkuat aspek itu. Bisa saja kita mengatur itu dengan teknologi atau bisa saja mengatur sistem teknologi smart city untuk meningkatkan kinerja, namun tetap saja teknologi buatan manusia ada batas dan kelemahan. Saya sangat merasakan gelar doktor atau profesor belum tentu menjamin bisa menyelesaikan Kota Bogor tanpa membangun dengan ukhuwah islamiyah maupun membangun kebersamaan dengan merangkul semua pihak,” ulas Bima.
Masa tiga tahun ini, lanjut Bima, merupakan masa pembelajaran dalam memahami birokrasi dan lainnya. Aspek aspek itu harus di perbaiki dan bersatunya ulama dan umaro harus bersanding dalam menghadapi untuk memajukan Kota Bogor kedepan. Terkait masalah substansi tehnis, Bima mengulas tentang APBD Kota Bogor. Menurutnya persoalan APBD itu esensinya adalah uang rakyat harus kembali kepada rakyat, dengan APBD 2018 sebesar Rp2,3 triliun, tahun depan ditargetkan PAD Kota Bogor sebesar  Rp850 milyar. Setiap tahun terjadi peningkatan PAD sekitar Rp100 milyar.
“Jadi uang APBD ini sangat besar dan semuanya akan dikembalikan kepada rakyat. Para ulama, kyai dan ajengan semoga terus memberikan saran dan masukannya untuk Kota Bogor,” harapnya.
Dalam kesempatan itu, Bima juga menerangkan persoalan politik jelang Pilwalkot 2018. Bima mengungkapkan bahwa saat ini masih berjalan proses koalisi untuk Pilwalkot Bogor, juga untuk Pilgub Jabar dan tingkat nasional. Keputusan DPP juga diharapkan akan keluar dalam satu minggu kedepan kaitan koalisi partai.
“Saya minta doa agar kedepan koalisi yang terbangun adalah koalisi yang maslahat, tidak memecah dan koalisi harus benar benar atas kebersamaan. Semoga koalisi nanti sesuai dengan harapan para kyai dan ulama,” jelasnya.
Dewan penasehat GP Ansor Kota Bogor Zaenul Mutaqin menuturkan, dalam kegiatan holaqoh alim ulama se-Kota Bogor ini digelar diskusi membicarakan tentang kepemimpinan khususnya di Kota Bogor. Ulama adalah warisan para nabi dan tentu saja memgandung makna bagi generasi muda yang tergabung dalam organisasi Nadhatul Ulama yaitu GP Ansor. Ansor artinya penolong dan tentu saja para ulama ini menolong siapapun yang membutuhkan di jalan allah SWT. Ansor adalah benteng ulama yang bertugas menjaga ulama dan aqidah ahli sunah wal jamaah.
“GP Ansor berinisiatif melakukan holaqoh para alim ulama ini sebelumnya meminta pentunjuk dari MUI dan PCNU, sehingga hadir para ulama, kyai dan ajengan di Kota Bogor. Kita bersama sama bersilaturahmi dan membicarakan tentang bagaimana kepemimpinan Kota Bogor dalam perspektif alim ulama dan masa depan Kota Bogor. Tujuannya mewujudkan Kota Bogor yang aman, yang toleran dan sejablhtera. Sejahtera tidak akan dirasakan kalau Kota Bogor tidak aman. Kota bogor juga tidak aman kalau terjadi intoleran,” kata Zaenul.
Sosok agamis yang juga Ketua DPC PPP Kota Bogor ini menerangkan, banyak stigma miring terkait Ansor akhir akhir ini, bahkan banyak isu isu menyesatkan dan hoax tentang Ansor. Ansor menjaga toleransi bukan mendukung agama lain selain Islam. Ansor menjaga untuk keamanan dan ketertiban masyarakat agar terwujud rasa aman dan damai. Ansor tetap ahli sunah wal jamaah dan Banser sebagai pasukan penjaga keamanan.
“Acara ini bertujuan menyampaikan kepada Wali Kota Bogor terkait rekomendasi dan amanat amanat dari para kyai dan ulama ulama di Kota Bogor. Jadi ulama perlu di dengar aspirasi dan saran serta masukannya. Semoga hasil dari holaqoh ini menjadi perhatian bagi Wali Kota Bima Arya,” ucapnya.
Pemerintah juga harus memperhatikan kondisi pondok pondok pesantren dan majelis taklim, karena selama ini yang fokus dilakukan pemerintah adalah hanya membantu dan memperbaiki sekolah sekolah formal dari SD hingga SMA.
“Memang pondok pesantren atau kobong sebagai pendidikan no formal kurang diperhatikan pemerintah. Dalam acara ini para kyai dan ulama pimpinan ponpes meminta agar pemerintah memperhatikan ponpes. Kita juga akan lakukan gerakan Revitalisasi Kobong sebagai bentuk perhatian terhadap ponpes maupun pengajian pengajian,” tegasnya.
Terkait banyaknya pihak yang menggadang gadangkan akan bersandingnya Bima dan Zaenul di Pilwalkot mendatang, Zaenul menjelaskan bahwa untuk masalah Pilwalkot Bogor, sampai saat ini belum ada keputusan dari partai tingkat DPP, dan komunikasi masih berjalan.
“Mudah mudahan akhir desember sudah ada keputusan DPP soal koalisi partai untuk Pilwalkot Bogor,” ujarnya.
Lanjut Zaenul, PPP dengan siapapun berkoalisi siap dan menjadikan pilihan terbaik untuk maju di Pilwalkot. Sampai saat ini komunikasi yang sudah dibangun dengan parpol parpol terus berjalan. Ada juga yang semakin intensif menjajaki dalam mencari kebersamaan membangun koalisi. Kaitan dengan bidikan posisi di Pilwalkot, tentu saat ini baru berbicara koalisi partai, nanti setelah itu baru menentukan figur posisi F1 maupun F2. Jadi bagi PPP tidak jadi masalah ada di posisi mana, karena target di Pilwalkot nanti intinya PPP harus menang.
“Semua bicara paling ideal dengan incumbent, tetapi tidak seratus persen disikapi karena incumbent juga memiliki perhitungan dan kalkulasi sendiri. Kita masih menunggu DPP soal koalisi, semoga dalam waktu dekat sudah keluar,” pungkasnya. (Nai)