Alhamdulillah Kudanya Aamiin

Seorang  terkenal dan kaya raya memamerkan  seekor kuda “ajaib”  yang ia beli seharga Rp500 juta sepulangnya dia dari liburan ke negeri Spanyol. Mahalnya harga kuda tersebut, membuat tetangganya heran dan tergoda untuk bertanya.

“Bu Ebah, apa istimewanya kuda ini sehingga ibu mau mengeluarkan begitu banyak uang untuk membelinya?,” kata seoramg tetangganya penuh penasaran.

“kuda ini,” jawab bu Ebah, “selain tubuhnya sehat, larinya kencang, kuda ini juga sangat relijius, sehingga karenanya saya selalu mengingat Tuhan,”.

“loh kok bisa?!!,” tetangganya semakin heran.

Dengan yakin bu Ebah mengatakan, “kalau saya bilang Alhamdulillah, kuda ini jalan.” “lalu kalau mau berhenti?” tetangganya menyela. “saya cukup bilang aamiin,” jawab Bu Ebah, mantap.

 

Bu Ebah kemudian membuktikan omongannya itu, ia naiki pelana kuda dan mengucap, “Alhamdulillah”, dan tak.. tik..tak..  kuda itupun berjalan. “aamiin,” seperti direm, kuda itupun berhenti. Beberapa kali ia mempraktikan untuk meyakinkan para tetangganya. Kuda itupun menurut, setiap kali mendengar “Alhamdulillah” kuda berjalan dan berhenti begitu mendengar kata “aamiin”.

Rupanya, respon tetangganya biasa saja. Tidak menunjukan rasa takjub seperti yang diharapkan oleh Bu Ebah.

Suatu ketika, bu Ebah menyombongkan ke”relijiusan” kudanya itu untuk diketahui warga se kampung. Ia naik pelana kuda dan mengucap “Alhamdulillah,” kuda berjalan. Bu Ebah kemudian berteriak, “alhammmdulilllahhhh,” kuda itu berlari kencang. Teriakan bu Ebah membuat warga kampung keluar rumah dan berkerumun melihat atraksi “relijius” bu Ebah dan kudanya. “alhammmdulillahhh… alhamdulilllahh… alhamdulilllah,” kuda semakin kencang dan mulai tidak terkendali. Bu Ebah panik dan lupa bagaimana cara memberhentikan laju kudanya sendiri.

Kudanya berlari mendobrak kerumunan warga. “berhentiii..berhenti…!!!,” teriakan dari warga tidak membuat kuda itu berhenti, bahkan lari kuda semakin kencang dan mengarah ketepian jurang tidak jauh dari perkampungan. “bilang aamiin… bilang aamiin..,” rupanya ada juga warga yang ingat, cara menghentikan laju kuda bu Ebah itu. Bu Ebah dan warga kampung pun serentak berteriak, “aamiin..” dan criiitttttttt, kuda pun berhenti. Hanya selangkah ke tepi jurang.

Melewati keadaan yang histeris itu, warga se kampung mengelus dada dan mengucap “Alhamdulillahhh,”   kuda jalan lagi membawa serta Bu Ebah jatuh ke jurang.

Keesokannya, Bu Ebah marah kepada warga tetangganya. Ia berpikiran, warga yang mengucap “Alhamdulillah,” menyumpahinya untuk jatuh ke jurang.

Cerita lucu ini, bermaksud menyindir kondisi kekinian kita, yang terkadang menggunakan kata-kata suci agama hanya untuk mengendalikan hal-hal yang bersifat taktis operasional. Kalimat luhur, “Alhamdulillah,” dan “Aamiin,” seperti yang diucapkan bu Ebah, tidak lagi menjadi dialog antara seorang hamba untuk memuji Tuhannya dan pengharapan hamba kepada Tuhannya itu. Kata suci itu, bergeser makna menjadi “mantra” pengendali laju dan berhentinya seekor kuda.

 

Kita mulai sering memanfaatkan agama untuk hal bersifat keduniaan yang memihak kepada kepentingan kita. Dan bahkan kita menganggap perilaku itu sudah yang paling benar,  sehingga kita kemudian teramat mudah menyalahkan orang lain yang tidak sama pemikiran dan kepentingannya dengan kita.

Pada perhelatan Pilkada serentak baru-baru ini misalnya, ada sebagian dari saudara kita yang menilai keimanan sebagian besar saudaranya yang lain tidak kaffah, tidak sempurna. Musababnya, karena mereka mendukung pasangan calon yang menurut penilaian dia merupakan sosok yang tidak “relijius”, mendukung  pasangan yang didukung oleh kelompok musuh agama. Celakanya, hitung cepat yang diselenggarakan berbagai lembaga survey, justru menunjukan pasangan itu yang menang. Padahal, sebagian saudara kita ini menganggap, pasangan calonnya yang paling relijius, di dukung kelompok pembela agama. Yang lainnya, diberi predikat abu-abu hingga musuh agama.

 

Pemaksaaan agama ke ruang politik kepentingan ini, tidak membuat kita menjadi lebih baik, dan bahkan semakin menjauhkan kita dari nilai-nilai luhur agama. Doktrin agama, yang menegaskan perbedaan adalah rahmat, perbedaan adalah alasan kita untuk bersatu, perbedaan bukan untuk berpecah belah, kita abaikan. Sehingga kita terus maju ke jurang pertengkaran semakin dalam, saling mencaci maki, mengumbar aib, gibbah hingga  memfitnah menjadi perilaku yang kita anggap “halal” dan kemudian kita berteriak Allahu Akbar, tanpa penghayatan.

Tidak ada jabatan dunia yang perlu dibela mati-matian dan juga tidak perlu kita benci setengah mati. Demikian juga tidak ada pemimpin di dunia ini yang sempurna sehingga harus dipuja seperti dewa, juga tidak ada pemimpin yang secara sengaja ingin rakyatnya hancur.

Humor berikut barangkali bisa menghibur dan menyadarkan kita yang kadang kerap salah mengerti keadaaan yang sebenarnya, karena terperangkap prasangka.

 

Budi kecil sangat memerlukan uang Rp 1 juta dan berdoa selama dua minggu tapi tidak ada yang terjadi. Lalu ia memutuskan untuk menulis surat kepada Tuhan dan meminta Rp 1 juta. Ketika kantor pos menerima surat yang ditujukan kepada Tuhan di Sorga, mereka memutuskan untuk mengirimkannya ke Kantor Walikota.

Walikota sangat terkesan, tersentuh, dan merasa geli sehingga ia menginstruksikan Sekretaris Daerah untuk mengirimkan Budi bantuan sosial sebanyak Rp. 100 ribu. Walikota berpikir bahwa ini akan menjadi uang yang cukup banyak untuk seorang anak kecil.

Budi sangat senang dengan uang Rp. 100 ribu itu dan mulai duduk untuk menulis surat balasan yang berisi terima kasih kepada Tuhan, yang berbunyi:

Ya Tuhan,

Terima kasih banyak untuk mengirim uang, namun, saya melihat bahwa untuk beberapa alasan Engkau harus mengirimnya melalui Pemda, dan, seperti biasa, orang-orang itu memotong Rp. 900 ribu.

Terima kasih,
Budi

 

 

Comments