Kejari Bogor Tahan Dirum PD PPJ

Amankan Barang Bukti 550 Gram Logam Mulia

bogorOnline.com

Kejaksaan Negeri Kota Bogor menjadi Direktur Umum (Dirum) PD Pasar Pakuan Jaya (PDPPJ) sebagai tersangka dalam kasus tuduhan korupsi Dana Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) PDPPJ yang dialih fungsikan menjadi dana Deposito di Bank Muamalat.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Kejari melimpahkan penahanan tersangka Dirum ke LP Paledang, Senin (3/9/18). Dengan menggunakan rompi berwarna merah, Dirum digiring dari kantor Kejariasuki mobil tahanan dan melaju ke LP Paledang.

Sesampainya di LP Paledang, tersangka akan mengakuisisi ruang Masa Pengenalan Lingkungan (Mapenaling). Tersangka akan disimpan untuk masa 30 hari kedepan hingga proses hukumnya disidangkan.

Kasi Intel Kejari Kota Bogor, Widiyanto Nugroho mengatakan, Kejari menetapkan tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi dana PMP PD PPJ yang di depositokan di Bank Muamalat Cabang Tajur sebesar Rp 15 Miliar.

“Hari ini kami memanggil sebagai saksi, dan setelah dilakukan gelar perkara dan expose, status saksi ditetapkan sebagai tersangka. Inisialnya DSH yang menjabat sebagai Dirum di PD PPJ,” kata Widiyanto.

Dalam penanganan kasus korupsi itu, Kejari telah mengamankan barang bukti diantaranya, bukti fisik logam mulia seberat 605 gram, namun yang baru dikembalikan dan diserahkan ke penyidik hanya sebesar 550 gram. Ukuran logam mulia yang diserahkan berukuran 100 gram, 30 gram dan 25 gram.

“Logam mulia ini salah satu bukti kejahatan tindak pidana korupsi yang dilakukan tersangka,” tegasnya.

Tim penyidik mengusulkan ditetapkan sebagai tersangka karena tahun 2015 bulan juli tersangka mendepositokan uang Rp 15 miliar ke Bank Muamalat dan hasil deposito ini tersangka memperoleh uang yang dipecah menjadi dua. Dari hasil bunga yang dipecah itu diantaranya menjadi uang dan menjadi logam mulia. Untuk yang menjadi uang telah disetorkan ke kas PDPPJ, sedangkan yang digunakan bisnis logam mulia ini masuk ke kantong  pribadi.

“Dalam bentuk uang yang disetor ke PD Pasar sampai saat ini belum dihitung dan dalam bentuk logam mulia sebesar 605 gram. Kalau disetarakan uang, logam mulai sebesar Rp 312 juta,” jelasnya.

Widi menambahkan, uang hasil dari bisnis logam mulia itu dipergunakan dan belanja sendiri oleh tersangka. Terkait penyerataan modal untuk revitalisasi pasar saja, namun oleh tersangka di depositokan dengan jangka waktu setiap tiga bulan sekali.

“Pasal yang berlaku untuk pasal 2 ayat 1 undang-undang tentang tindak pidana korupsi dengan ancaman minimal empat tahun dan maksimal 20 tahun. Tersangka selama 30 hari kedepan di Lapas Paledang. Untuk potensi tersangka lain masih dalam dalam dan belum ada artinya dari pihak lain, “tandasnya. (Nai / ist)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *