PABRIK BATIK BANDEL, KALI CIMATUK MAKIN PARAH TERCEMAR LIMBAH

PARUNGPANJANG – Meski operasional perusahaan batik di Desa Lumpang, Kecamatan Parungpanjang, sudah di segel satuan polisi pamong praja (Satpol-PP) Pemkab Bogor pada, Selasa (17/7/2018) lalu, namun warga sekitar yang wilayahnya dilintasi aliran air sungai tersebut mengaku masih resah.

Pasalnya, limbah pabrik konveksi kain batik yang di buang ke dasar kali itu tetap mengalir dan mengendap di kali Cimatuk, sehingga air berubah warna menjadi hitam pekat dan berdampak ikan-ikan di sungai tersebut mati.

Menurut warga, pencemaran di Kali Cimatuk sudah terjadi sejak lama bahkan puluhan tahun. Namun adanya pencemaran baru mencuat setelah smSatpol- PP Pmkab Bogor, melakukan sidak ke kolam penampungan limbah yang mengalir kedasar kali, beberapa bulan lalu.

“Satpol-PP Kabupaten Bogor, sudah menyegel perusahan batik serta menemukan saluran di kolam penampungan limbah yang mengalir menuju ke Kali Cimatuk,” ungkap Tajudin Hasan, Kepala Desa Gintung Cilejet yang wilayahnya dilintasi aliran kali tersebut, Ahad (30/9/18).

Tajudin menegaskan, kondisi kali Cimatuk yang berubah warna menghitam akibat tercemar limbah pabrik batik, membuat warga tidak bisa menggunakan air untuk mandi dan mencuci. Bahkan meski berbahaya, para petani di desa tersebut terpaksa menggunakan air dari kali itu karena tidak adanya lagi sumber air yang dekat.

“Musim kemarau, air di dasar Kali Cimatuk berwarna hitam. Berbeda kalau sudah turun hujan, karena air yang tercemar bisa terbawa kencangnya arus air,” kata dia.

Tajudin menambahkan, sebelum terungkap adanya pencemaran, pihak perusahan batik membuang limbah produksi ketika turun hujan, sehingga tidak terlihat ada limbah.

“Saya berharap pemerintah segera memberikan solusi untuk air Kali Cimatuk yang sudah tercemar, agar kembali bersih dan tidak berbahaya. Sehingga warga tidak resah lagi dan bisa menggunakan lagi airnya.” Tandas Kades Tajudin.

 

Menanggapi adanya pencemaran air Kali Cimatuk, penggiat kali bersih Ridwan Manantik mengatakan bahwa hal ini terjadi akibat kurangnya kesadaran pengusaha konveksi kain batik. Ia mengatakan, pencemaran di kali Cimatuk sudah berulang kali terjadi.

Menurutnya, agar para pengusaha yang nakal tersebut tidak membuang limbahnya ke dasar kali, seharusnya pemerintah menutupnya dulu. “Sampai perusahan memiliki tempat penampungan yang maksimal dan tidak merugikan masyarakat sekitar kali,” tegas Ridwan.

Dia menambahkan, seharusnya pemilik perusahan bertanggung jawab terkait pencemaran kali Cimatuk. Karena kalau itu dibiarkan, bisa menimbulkan dampak yang sangat luar biasa di masyarakat, seperti penyakit kulit atau lain-lainnya.

“karena limbah komveksi batik jelasmengandung bahan kimia. Sebenarnya agar ada efek jera, para oknum pelaku usaha yang mencemari kali/sungai juga bisa dijerat oleh Undang Undang Lingkungan Hidup.” pungkasnya. (MUL)