Kilas

MCKN Ajak Pemkot dan Masyarakat Bogor, Jaga Kelestarian Alam dan Cagar Budaya

bogorOnline.com

Pasca peristiwa angin puting beliung yang meluluhlantakkan sebagian wilayah di Bogor Selatan, telah menyedot perhatian masyarakat Indonesia, terlebih para budayawan di tanah air.

Ratusan budayawan dari berbagai daerah, berdatangan ke Kota Bogor untuk melakukan ziarah dan tawasulan di makam/petilasan Adipati Oelija (Mbah Dalem), kedatangan mereka tersebut sekaligus untuk melihat langsung Sumur Tujuh yang letaknya persis di samping petilasan.

Konon kabarnya, Sumur Tujuh tersebut dahulunya adalah tempat pemandian Keluarga Kerajaan Padjajaran, jadi sudah sepantasnya kita semua menjaga dan memelihara tempat yang tinggi akan nilai sejarah tersebut.

Ketua Presedium Majelis Cendikiwan Kraton Nusantara Jawa Barat, Ully Sigar Rusadi mengaku sangat kecewa ketika melihat situs sumur tujuh yang kini terlihat rusak akibat proyek pembangunan. Dengan tegas, dirinya meminta kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk dapat melestarikan kembali situs bersejarah ini.

“Kami sebagai pecinta budaya murni begitu terpukul melihat kondisi situs saat ini. Kami berharap Pemkot Bogor bisa mengambil alih tempat tersebut dan kembali melestarikan bangunan cagar budaya ini,” ungkap Ully kepada wartawan, Kamis (13/12/18).

Terkait musibah angin puting beliung, dirinya mengatakan, bahwa musibah tersebut kemungkinan ada kaitannya dengan cagar budaya yang kini tengah dirusak.

“Kita percaya kepada adat istiadat leluhur, kita juga percaya ada sesuatu yang ghoib, jadi hal-hal seperti itu mungkin saja terjadi. Tapi saya katakan saat ini adalah perubahan iklim yang begitu dahsyat, semua berubah dengan cepat dan ini mukjijat Allah SWT,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Ully, musibah itu juga sebagai teguran dan peringatan untuk semuanya, terutama masyarakat Kota Bogor untuk dapat meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT, serta peringatan dalam merawat dan melestarikan alam dan juga cagar budaya.

“Sekali lagi, kami mohon kepada Pemkot Bogor jaga kelestarian alam dan cagar budaya yang ada di sini. Jangan sampai ada pembangunan yang dibangun diatas lahan cagar budaya, kami para budayawan menolak hal-hal yang merusak seperti ini,” tegasnya. (Asep)