Korban Arisan Koling Miliaran Rupiah, Terus Berikan Kesaksian Di PN Cibinong

CIBINONG-
Kasus dugaan tipu-tipu berkedok arisan koling masih berlanjut di persidangan Pengadilan Negeri (PN) Cibinong yang
sebelumnya. Menghadirkan 10 orang saksi korban dugaan penipuan berkedok arisan tersebut. Kali ini dua orang korban juga dicecar sejumlah pertanyaan oleh majelis hakim yang di pimpin oleh Tira Tirtona dalam perkara dugaan penipuan yang menyeret terdakwa Tinur Siregar di PN Cibinong, Kabupaten Bogor, Selasa (21/5/19).

Dua orang saksi yang juga menjadi korban Tinur, tak berbeda jauh dengan keterangan para korban sebelumnya. Keduanya pun, menginginkan terdakwa tidak dipenjara, melainkan hanya ingin uangnya kembali.

“Saya belum pernah dapat arisan koling, saya ikut yang Rp 3 juta. Saya hanya inginnya dikembalikan uang saya. Kalau ditotal seluruhnya ada Rp 60 juta,” kata Rosita Siburian dalam kesaksiannya di depan majelis hakim.

Sementara saksi lainnya, Lubis, mengaku kerugiannya mencapai Rp 84 juta. “Saya selalu tepat menyetorkan uang arisannya, yang biasanya saya berikan ke suaminya Tinur,” tutur Lubis.

Sedikitnya 96 orang menjadi korban penipuan berkedok arisan koling, warga yang mayoritas tinggal di Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor ini mengalami kerugian ditaksir mencapai Rp 3 miliar.

Tinur Siregar yang kini status nya sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Cibinong merupakan pelaku utama, meskipun melibatkan suaminya Miner Silitonga yang tidak diikutsertakan dalam perkara ini.

Sidang selanjutnya, terdakwa Tinur Siregar akan menghadirkan dua orang saksi yang juga ikut dalam system arisan kolingan yang diketuainya.

Sebelumnya, terungkap dari keterangan saksi, bahwa terdakwa melakukan modus nya dengan cara mencantumkan 20 orang fiktif dalam rombongan arisan koling tersebut.

“Awalnya berjalan lancar, karena saya juga pernah dapat. Tapi kesini nya sudah tidak beres lagi dengan berbagai macam alasan kalau ditanya, hingga akhirnya dihentikan secara sepihak tapi uang tidak dapat, hanya setor saja,” kata Oloria.

Para korban ini juga mengaku mendapatkan bujuk rayu dari terdakwa, dengan iming-iming mendapatkan keuntungan.

Sistem arisan koling yang dilakukan Tinur Siregar, adalah dengan cara seperti lelang. “Jadi siapa kolingan tertinggi dialah yang dapat. Cara operasional nya adalah ketua arisan lah yang menentukan pemenang nya, dan disampaikan melalui pesan WhatsApp kepada masing-masing peserta, dan kami sesama peserta tidak saling tahu dan tidak saling kenal,” ujarnya.(rul)