Panas Kepanasan, Hujan Kehujanan, Maswati Sang Janda Tua Tetap Tinggal di Rumah Bilik  

Tidak percaya dan merasa terpanggil. Begitu perasaan Panca saat mendapatkan informasi tentang seorang janda tua yang tinggal di rumah bilik. Siang itu, pemuda yang memiliki nama lengkap Panca Aji Riyanto langsung berangkat untuk membuktikan kebenaran informasi tersebut.

 

Jarak sepuluh kilometer dengan kondisi jalan pedesaan asri tidak membuatnya merasa jauh untuk menemui Maswati yang tinggal di Kampung Bolang RT 3 RW 5 Desa Tajur, Kecamatan Citereup. Kabar seorang janda tua yang ia ketahui melalui pesan pendek dari kawannya.

 

6 Agustus 2019 menjadi waktu yang tidak bisa dilupakan oleh pemuda yang pernah merasakan kenakalan remaja dan kini ingin memberikan kontribusi dan memberikan manfaat untuk sesama. Ketika tiba di rumah bilik Maswati sang janda empat orang anak, Panca menundukkan kepalanya dan mencoba menghela nafas panjang-panjang.

Dengan penuh ketenangan, Panca mencoba memberanikan menatap wajah Maswati, sang janda berusia sekitar 57 tahun yang tinggal di rumah bilik di atas tanah sekitar 20-30 meter persegi. Semakin dalam mengetahui kisah Maswati, Panca semakin merasa bersyukur bahwa keluarganya masih bisa tidur di tempat yang nyaman. Panca tidak bisa membayangkan bila ia harus tinggal seperti Maswati di rumah bilik yang tetap akan merasakan panas ketika siang hari dan tetap kehujanan ketika hujan membasahi kampungnya. Rasanya, definisi rumah sebagai tempat berteduh berbeda bagi Maswati. Meski tinggal di rumah bilik yang membuatnya bersama empat orang anaknya rentan terserang penyakit, Maswati tetap tegar dan berusaha untuk menyambung hidup.

 

Untuk dapat menyambung hidup, Maswati yang sudah berusia 57 tahun ini bekerja sebagai Buruh Tani Singkong di kebun orang lain yang panen setiap 6 hingga 7 bulan sekali dengan penghasilan Rp 300 ribu sekali panen. Bahkan, tiga dari empat anaknya harus memupuskan mimpinya untuk bersekolah dan tidak memiliki pilihan lain selain menjadi pekerja serabutan.

 

Meski demikian, Maswati bersama ketiga anaknya yang bekerja serabutan tidak ingin anak ke-empatnya pupus dalam meraih masa depan. Meski harus terus berfikir tentang hari ini makan apa, Maswati masih menjaga semangat anak bungsunya untuk sekolah di SMK Ksatria Bangsa.

 

Panca masih ingat betul apa yang diceritakan janda yang kondisinya lemah dan lesu itu, apalagi saat mendengar harapan Maswati yang ingin orang lain tahu kondisi dan perjuangannya. Melihat, mendengar dan merasakan kisah Maswati, Panca yang juga aktif di Komunitas Cibinong Society ingin menggalakan bantuan untuk Maswati. Dalam hati kecilnya ia berkata, “saya ingin melakukan suatu bantuan, ya walau tidak bisa memberi apa pun, setidaknya saya bisa menyebarluaskan informasi.”

 

Ditulis oleh Robby Firliandoko




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *