PGH PARUNGPANJANG




Kebijakan Batik ASN, Saeful Bakhri: Apa Tidak Memberatkan ASN?

Kota Bogor – bogorOnline.com

Batik ASN akan menjadi salah satu seragam yang akan dikenakan oleh Aparatur Sipil Negera (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Bogor. Hal ini menyusul terbitnya surat edaran bernomor 025/2174-Adekon dan KS tentang Penggunaan PDH Batik ASN Kota Bogor di Lingkungan Pemerintahan Kota Bogor pada 29 Agustus 2019, yang ditandatangani Walikota Bima Arya.

Surat edaran itu diterbitkan untuk menindaklanjuti persetujuan Walikota Bima Arya terhadap usulan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Bogor, Yane Ardian dengan nomor 537/025/IX/2018-DESK tertanggal 3 September 2018 perihal permohonan penggunaan batik ASN Kota Bogor sebagai seragam ASN Pemkot Bogor.

Dalam surat edaran tersebut juga tertera bahwa untuk penggunaan PDH batik digunakan pada hari Jumat minggu pertama setiap bulannya. Selain itu, untuk pengadaan bahan pakaian batik ASN terdapat di Bagian Administrasi Perekonomian dan Kerjasama Setda Kota Bogor sebagai Sekretariat Dekranasda Kota Bogor.

Kebijakan ini dikomentari oleh Anggota DPRD Kota Bogor, Saeful Bakhri. Saeful mengatakan, bahwa kebijakan tersebut terkesan aneh dimana PNS harus membeli secara masing-masing bahan batik seharga Rp225 ribu per dua meter. Biaya itu diluar pembuatan batik ASN yang pastinya akan dikeluarkan nanti oleh setiap PNS.

“Kalau ditotal setiap ASN harus mengeluarkan uang Rp400 ribu dengan ongkos jahitnya. Apa itu tidak memberatkan pegawai? Kami sih mendukung saja, kalau tidak terlalu membebani dan membantu pengusaha kecil menengah. Tapi kan masalahnya bagaimana dengan ASN yang golongannya rendah,” ujarnya, Selasa 17 September 2019.

Di kesempatan ini juga ia mempertanyakan mengapa usul Dekranasda seputar batik ASN serta merta disetujui. “Apa latar belakangnya? Menghidupkan ekonomi usaha batik? Pengusaha yang mana? Ada berapa produsen batik itu? Kalau cuma segelintir ya tidak fair,” katanya.

Menurut politisi PPP itu, apabila melihat kondisi perekonomian yang cenderung lesu, alangkah baiknya pemerintah mengkaji ulang kebijakan tersebut. “Dikaji ulang saja, sambil melihat perkembangan ekonomi ke depannya. Sekarang pakai saja batik KORPRI,” ungkapnya.

Saeful menegaskan kembali, bahwa pihaknya mendukung apabila penggunaan batik tersebut untuk identitas ASN Kota Bogor dan memajukan pengusaha kecil. “Kalau untuk identitas ASN bagus, tapi jangan dijadikan sebagai politik identitas,” tuturnya.

Sementara itu kepada awak media, Kepala Sub Bagian Pengembangan Usaha Daerah pada Bagian Administrasi Perekonomiam dan Kerjasama Setda Kota Bogor, Sopyan Ari Taufik mengatakan, untuk pengadaan batik ASN dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan produksi dari produsen batik. Batik ASN dibuat oleh lima produsen, yakni Tradisiku, Handayani Geulis, Pancawati, Paniisan dan IRD.

“Kenapa bertahap karena setiap bulan kemampuannya hanya memproduksi 500 pcs saja. Jadi siapa yang pesan duluan itu yang kami akomodir,” papar Sopyan Ari.

Dikatakannya, bahwa jumlah ASN di lingkungan Pemkot Bogor kurang lebih ada 7.000 orang dan untuk mendapatkan bahan batik tersebut dikenakan biaya Rp 225 ribu per dua meter.

“Itu bahan saja, nanti ngejahitnya sendiri. Kenapa harganya mahal? Karena itu batik cap bukan printing. Kami melakukan kontrak kerja dengan kelima produsen batik,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan, kontrak kerja dibuat untuk menghindari persaingan harga antar produsen dan tak mengubah warna, ukuran dan lainnya. “Jadi pengrajin tak boleh jual langsung ke ASN. Dalam kontrak kerja ini tidak ada fee untuk pemkot dan Deskranasda. Tujuan utama adalah untuk memberdayakan IKM,” ucapnya.

Lebih lanjut kata Sopyan, ikhwal adanya batik ASN itu lantaran adanya perlombaan membuat batik khas Kota Bogor, dan karya pemenang dijadikam batik ASN. “Kami ingin menyeragamkan batik ASN. Surat imbauan dari Pak Wali juga sudah ada,” tukasnya.

Sekedar catatan, batik ASN yang kedepannya wajib dikenakan oleh ASN di lingkungan Pemkot Bogor itu diluncurkan bersamaan dengan logo 100% Bogor Pisan oleh Wali Kota Bogor, Bima Arya pada Senin 17 Juni 2019 lalu.

Batik ASN warna hitam ini memiliki motif ikon-ikon Kota Bogor, seperti uncal atau rusa, bunga bangkai dan Kebun Raya Bogor hingga gunung Salak. Sedangkan logo 100% Bogor Pisan dari rencananya akan menempel di setiap produk Industri Kecil dan Menengah (IKM) asli Kota Bogor, mulai dari kuliner hingga kerajinan tangan. (HRS)