Menghijaukan Sepenggal Jalan R3

Pembangunan Jalan R3 yang dirancang membentang dari Warung Jambu sampai dengan Wangun di Tajur, hingga kini masih terhenti di wilayah Kelurahan Katulampa. Tepatnya di wilayah RW 16 dan 17 Perumahan Mutiara Bogor Raya. Di wilayah tersebut kini terdapat sepenggal Jalan R3 yang sudah dibangun dua jalur, lengkap dengan trotoar dan saluran drainase di kedua sisinya.

Badan jalan itu terpenggal dari ruas jalan yang sudah tersambung dari Warung Jambu,sampai dengan Katulampa, oleh jembatan Kali Baru yang pembangunannya belum rampung.Sepenggal jalan tersebut panjangnya diperkirakan sekitar 300 meter. Di kanan kirinya terdapat fasos dan fasum perumahan Mutiara Bogor Raya.

Lahan terbuka hijau yang terletak di wilayah RW 17 sudah dikelola mandiri oleh warga setempat menjadi taman bermain. Sedangkan di bagian seberangnya yang masuk wilayah RW 16, sudah dibangun masjid dengan halaman yang cukup luas.

Menurut Priyono, Ketua RW 16, Kelurahan Katulampa, kondisi fisik jalan relatif masih bagus. Warga setempat dan sekitarnya sudah memanfaatkannya sebagai akses jalan masuk dan keluar kompleks perumahan melalui urugan jembatan Kali Baru.

Dari situ mereka bisa menuju ke arah jalan R3 yang sudah tersambung ke Warung Jambu atau ke arah Parung Banteng dan Sukaraja melalui jalan arteri yang sudah lebih dulu tersedia. Namun median jalan dan bahu jalan serta drainase yang sudah dibangun, menurutnya perlu perawatan.

“Terutama perlu dibersihkan dari ilalang dan sampah-sampah plastik serta dihijaukan,” katanya.

Sebab badan jalan yang sudah terbuka, membuat lahan di sekitarnya menjadi terasa gersang dan panas terik jika di siang hari. Kecuali di lahan masjid yang sudah ditanami pohon trembesi dan di ruang terbuka hijau yang sudah ditumbuhi pohon jati.

Berdasarkan kondisi itulah, Priyono beserta Zaenuddin, Ketua RT 09 yang wilayahya mencakup sisi jalan tersebut, berinisiatif menghijaukan lahan sekitarnya.

“Kami ingin wilayah itu menjadi rimbun dan hijau supaya wilayah perumahan tempat kami tinggal menjadi lebih nyaman,” kata Zaenuddin.

Itulah sebabnya ia selalu berusaha membersihan lahan sekitarnya, termasuk sebuah danau kecil yang ada di wilayahnya.

“Untuk itu, beliau sampai membeli sendiri mesin pemotong rumput, dan sering memotong dan membersihkan rumput sendiri di dekat danau itu,” kata Priyono.

Seperti kata pepatah, pucuk dicinta ulam tiba, gagasan mereka disambut oleh para mahasiswa yang tergabung di dalam Badan Eksekutif Mahasiswa IPB program vokasi.

“Kebetulan kami memang sedang melaksanakan program sahabat pohon dengan kegiatan melakukan penghijauan di wilayah yang perlu dihijaukan,” kata M. Reza Andisa.

Setelah kedua belah pihak berembug sekitar 2 minggu, maka pada hari Minggu, 15 September 2019 lalu, mereka bekerjasama mengadakan kegiatan penanaman pohon di wilayah sepenggal Jalan R3 tersebut.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan kami sekaligus mengajak warga masyarakat memperingati hari lapisan ozon sedunia,” ungkap Reza yang bertindak selaku Ketua Panitia Pelaksana kegiatan.

Hari itu kegiatan dimulai dengan membersihkan ilalang dan sampah plastik yang bertebaran, terutama di saluran drainase. Hasilnya, terkumpul 8 karung sampah yang selanjutnya dibuang ke TPST Katulampa. Ada sekitar 70 – an mahasiswa dan warga setempat yang terlibat.

Dilanjut dengan serah terima sekitar 500 batang bibit sebelas jenis pohon dan penanaman bibit pohon di median jalan dan di sekitar danau. Sebagian bibit berhasil ditanam saat itu dan sebagian lainnya disimpan, karena masih belum cukup waktu untuk ditanam.

“Yang terutama kami tanam di median jalan adalah pohon pucuk merah, supaya kalau sudah tumbuh nanti kondisinya sama dengan yang sudah tumbuh di sepanjang Jalan R3 depan Kantor Kelurahan Katulampa,” lanjut Priyono.

Hal itu dilakukan supaya nantinya terasa ada kesinambungan antara sepenggal jalan itu dengan ruas jalan R3 yang sekarang sudah berfungsi.

Ke depan Priyono sudah menyiapkan petugas untuk merawat tanaman yang sudah ditanam agar bisa tumbuh dengan baik. Sedangkan para mahasiswa sepakat akan melakukan penijauan secara berkala agar apa yang sudah mereka lakukan hari itu tidak menjadi sia-sia karena bibit tanamannya mati.

Reza mengungkapkan rasa syukur atas berlangsungnya aksi di hari Minggu itu.

“Karena kami mendapatkan dukungan yang begitu bersemangat dari warga,” katanya.

Apalagi warga dan pengurus RW dan RT setempat membiaya sendiri berbagai kebutuhan untuk kegiatan penghijauan tersebut, termasuk menyediakan sendiri bibit pohon pucuk merah.

“Kami hanya menyediakan dan mengirimkan bibit pohon saja dan membantu menanam pas berlangsungnya kegiatan,” ungkap Reza.

Menurut Priyono, apabila kedepan nanti Pemerintah Kota Bogor bermaksud menata ulang kawasan tersebut, pihaknya akan menyerahkan sepenuhnya hal itu kepada Pemerintah Kota Bogor.

“Yang penting saat ini kami berusaha mandiri supaya wilayah tersebut menjadi lebih hijau, lebih teduh, bersih dan rapi, sehingga kami sebagai warga dapat menikmati kenyamanan,” katanya.

Itulah sebuah kesadaran, inisiatif dan semangat warga masyarakat yang patut diapresiasi dan didukung, agar beban masalah kota tak semua menjadi beban yang harus dipikul sendiri oleh pemerintah. (Advertorial)