by

POTENSI BENCANA ALAM CUACA EKSTRIM MASA TRANSISI PANCAROBA DI KABUPATEN BOGOR

BOGORONLINE.com, BOGOR – Dalam periode 10 harian (Dasarian) ketiga bulan September, di wilayah Bogor dan Sukabumi tercatat musibah bencana alam yang diakibatkan banjir bandang, hujan deras dan angin puting beliung. Banjir bandang di kabupaten Sukabumi dan kabupaten Bogor pada tanggal 21 September 2020 kemarin belum selesai evakuasi dan pemulihan pasca bencana, diperparah dengan hujan deras disertai angin kencang dan hujan es pada hari Rabu tanggal 23 September 2020 yang menyebabkan pohon tumbang dan atap rumah beterbangan.

Secara klimatologis, wilayah Kabupaten Bogor termasuk iklim tropis sangat basah di bagian selatan dan iklim tropis basah di bagian utara, dengan rata-rata curah hujan tahunan 2.500–5.000 mm/tahun, kecuali di wilayah bagian utara dan sebagian kecil wilayah timur curah hujan kurang dari 2.500 mm/tahun. Suhu rata-rata di wilayah Kabupaten Bogor adalah 20°- 30°C, dengan suhu rata-rata tahunan sebesar 25°C. Kelembaban udara rata-rata 70% dan kecepatan angin cukup rendah dengan rata–rata 1,2 m/detik serta tingkat evaporasi (penguapan) di daerah terbuka rata–rata sebesar 146,2 mm/bulan.

Kabupaten Bogor mempunyai topografi bervariasi, dari dataran yang relatif rendah di bagian utara hingga dataran tinggi di bagian selatan. Selain itu, sebagian besar kondisi morfologi Kabupaten Bogor berupa dataran tinggi, perbukitan dan pegunungan dengan batuan penyusunnya didominasi oleh hasil letusan gunung, yang terdiri dari Andesit, Tufa dan Basalt. Gabungan batuan tersebut termasuk dalam sifat jenis batuan “relatif lulus air” dimana kemampuannya meresapkan air hujan tergolong besar. Jenis pelapukan batuan ini relatif rawan terhadap gerakan tanah bila mendapatkan siraman curah hujan yang tinggi. Selanjutnya, jenis tutupan tanah didominasi oleh material vulkanik lepas agak peka dan sangat peka terhadap erosi, antara lain Latosol, Aluvial, Regosol, Podsolik dan Andosol (Disbudpar Kab. Bogor; ESDM). Makanya tak heran terdapat beberapa wilayah di Kabupaten Bogor yang rawan tanah longsor.

Tatanan hidrologis di wilayah Kabupaten Bogor terdapat 8 (delapan) buah Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu : (1) DAS Cidurian; (2) DAS Cimanceuri; (3) DAS Cisadane; (4) DAS Ciliwung; (5) DAS Cileungsi; (6) DAS Cikarang; (7) DAS Cibeet dan (8) DAS Ciberang. Selain itu juga terdapat 32 jaringan irigasi pemerintah, 900 jaringan irigasi pedesaan, 95 situ dan 201 mata air.

Awal Musim Hujan 2020/2021 Di Kota/Kabupaten Bogor

Badan Meteorologi, Klimatologi, Dan Geofisika (BMKG) secara nasional telah mengeluarkan Prakiraan Musim Hujan tahun 2020/2021. Diprakirakan wilayah Indonesia akan memasuki Musim Hujan sebanyak 34.8% pada bulan Oktober, 38.3% pada bulan November dan 16.4% akan memasuki Musim hujan pada Desember 2020. Sementara sebanyak 72.5% wilayah musim akan mengalami puncak Musim Hujan pada bulan Januari dan Februari 2021. Stasiun Klimatologi Bogor juga secara resmi telah mengeluarkan Buku Awal Musim Hujan Provinsi Jawa Barat Tahun 2020/2021.

Menurut Stasiun Klimatologi Bogor, sebagian wilayah kabupaten Bogor merupakan Non Zona Musim, kurang dari 30% wilayah yang masuk dalam Zona Musim (ZOM). Non Zona Musim adalah wilayah yang tidak terdapat perbedaan yang nyata antara Musim Hujan dan Musim Kemarau. Kecamatankecamatan Tenjo, Parung Panjang, Rumpin Utara, Gunung Sindur akan memasuki awal musim hujan pada Dasarian I Oktober 2020. Gunung Putri, Cileungsi, Jonggol, Cariu dan Tanjungsari akan memasuki musim hujan pada Dasarian II Oktober 2020, dan kecamatan Caringin, Ciawi, Cisarua dan Megamendung memasuki musim hujan mulai Dasarian III September. Untuk wilayah Non Zona Musim, musim hujan dapat datang lebih awal. Akhir September hingga Oktober ini merupakan periode transisi / peralihan musim hujan ke musim kemarau di Bogor dan sekitarnya.

Fenomena Cuaca Ekstrim Pada Masa Transisi

Pada masa transisi, kondisi permukaan masih secara intensif terkena pancaran radiasi matahari, sementara kondisi perairan di sekitarnya yang hangat menyediakan suplai uap air yang cukup untuk pembentukan awan hujan. Uap air yang cukup akan mengisi ruang-ruang permukaan yang panas akibat radiasi matahari, dan dengan bantuan topografi masa uap air akan dipaksa naik (konveksi) dan terbentuk awan. Suplai uap air yang cukup dan terus menerus akan terbentuk awan Cumulonimbus, dimana banyak fenomena cuaca ekstrim terjadi mulai dari hujan lebat, hujan es, badai petir hingga angin kencang.

Ketika udara hangat dan lembab naik akan mengembang dan mendingin, uap air di dalamnya akan mengembun dan membentuk kumpulan awan. Jika ada ketidak-stabilan atmosfer, panas yang dilepaskan pada proses pengembunan akan menjaga udara di dalam awan lebih hangat daripada udara di sekitarnya, memungkinkan awan tumbuh besar dan tinggi. Kekuatan masa udara naik (updfarft) membuat jutaan butiran air tersuspensi sampai menjadi berat dan jatuh sebagai hujan.

Di atas garis beku (biasanya pada ketinggian 9.000 – 15.000 meter di atas permukaan tanah), butiran air akan membentuk kristal es super dingin dan dapat tumbuh menjadi batu es. Ketika awan ini mencapai lapisan tropopause, aliran jetstrim menarik awan kedalam bentuk “landasan”, dan naiknya udara ke atas akan jatuh kembali ke bawah dalam suhu yang dingin (downdraft). Udara kering akan mengelilingi udara hangat dan lembab, sebagai inti dari awan badai ini. Downdraft ini akan berputar di dasar awan dan membentuk microburst (angin kencang tiba-tiba disertai dengan butiran hujan).

Listrik statis terbentuk ketika terjadi bentrokan antar masa udara, downdraft membawa ion positif dan updraft membawa ion negatif akan memicu percikan api listrik di langit dengan kecepatan 145.000 Km/detik. Petir memanaskan udara di sekitarnya yang mengembang pada kecepatan supersonik, menciptakan kilatan yang dikenal dengan kilat/guntur.

Benda-benda di permukaan yang dilintasi oleh awan Cumulonimbus akan mengalami hujan lebat bahkan pada beberapa kasus dapat menimbulkan hujan butiran es (hail) yang menyebabkan atap rumah atau kaca mobil pecah. Selain itu aktifitas angin kencang updraft dan downdraft dapat menimbulkan pohon, tianglistik dan baliho tumbang, atap rumah beterbangan dan lain-lain. Kekuatan aktifitas listrik statis dapat menyambar benda-benda yang ada di permukaan seperti pohon kelapa, tower antena, dan bangunan tinggi yang dapat mengakibatkan kematian bagi makhluk hidup jika tersengat arus listrik dari petir.

Banjir Bandang dan Tanah Longsor

Ketika awan Cumulonimbus terbentuk, berjuta liter air dapat ditumpahkan ke bumi. Fase pertumbuhan, matang hingga punah awan ini terjadi dalam durasi antara 1-2 jam. Curah hujan tinggi Gambar 2. Ilustrasi Pertumbuhan Awan Cumulonimbus Gambar 3. Peta Zona Kerawanan Pergerakan Tanah (Sumber ESDM) dapat turun dalam durasi singkat akan menyebabkan kemampuan tanah menyimpan air menjadi berkurang, sehingga air tanah dengan cepat dialirkan kembali. Ketika tanah menjadi jenuh dan hujan masih secara intensif diturunkan, maka akan menyebabkan tanah menjadi longsor. Material tanah, batu, pohon dan lain-lain akan dialirkan melalui sungai-sungai sehingga daerah landai di kaki gunung akan menjadi sasaran air bandang.

Kabupaten Bogor bagian selatan yang mana merupakan wilayah padat pemukiman penduduk terbentang pada kaki-kaki pegunungan. Dari Peta Zonasi Kerentanan Gerakan Tanah Kota dan Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat yang dikeluarkan oleh Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terdapat kecamatan-kecamatan dengan Tingkat Kerentanan Pergerakan Tanah Tinggi, Sedang dan Rendah. Zona Kerentanan Pergerakan Tanah Tinggi diataranya kecamatan Citeureup, Klapanunggal, Jonggol, Babakan Madang, Sukamakmur, Tanjungsari bagian tenggara, Cisarua, Cijeruk, Taman Sari, Tenjolaya, Leuwiliang bagian selatan, Nanggung, Sukajaya dan Jasinga bagian selatan.

Sumber : Asep Firman Ilahi, S.Stat., M.Si.
Stasiun Meteorologi Citeko – Bogor Badan Meteorologi, Klimatologi, Dan Geofisika http://www.bmkg.go.id

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed