Oleh: Lisa Noviani (Praktisi Marketing Research dan Pengamat Pasar)
Biasanya pada akhir pekan, sekali dalam sebulan, kami sekeluarga mengunjungi Ibuku yang sudah berusia 81 pada tahun ini. Ibu tinggal bersama adik bungsuku di perumahan Depok Permata Estate, yang berjarak sekitar 500 meter dari Stasiun Citayam. Jika dilihat pada waze, dari rumah kami di Kebagusan – Pasar Minggu, Jakarta Selatan, jaraknya sekitar 13 km saja. Waktu tempuh saat normal sekitar 1 jam, sedangkan jika cukup macet, akan ditempuh sekitar 1.5 jam. Yang banyak meramaikan jalanan menuju Citayam adalah kendaraan-kendaraan roda dua yang dipakai oleh para remaja.
Terasa perbedaan, setelah Citayam Fashion Week makin terkenal, kondisi jalanan di area Citayam agak lancar. Waktu tempuh mengunjungi Ibunda minggu lalu berkurang menjadi sekitar 40 menit saja. Efek positif tentunya hehehe.
Tulisan-tulisan tentang SCBD (Sudirman, Citayam, Bojonggede, Depok) yang diikuti dengan aktifitas laiknya fashion show “Citayam Fashion Week” sudah banyak, dan hampir semua tulisan mengangkat fenomena menarik ini dengan semangat yang positif. Suatu kegiatan kreatif yang diinisiasi remaja-remaja yang berasal dari sub-urban area kota-kota penyangga DKI Jakarta.
Agak berkebalikan dengan ruh yang dibawa oleh tulisan-tulisan tersebut, komen-komen netizen cukup julid menanggapi hal ini. Terkesan mereka mengganggap aktifitas yang dilakukan mengganggu ketertiban, tidak kreatif, tidak bermanfaat. Terkadang yang dikritisi adalah karakter-karakter yang muncul….
Yang menarik, kata CITAYAM yang menjadi ikon yang menyatukan para remaja tersebut, sebenarnya bukan hanya menunjukkan asal domisili mereka, tapi lebih menunjukkan kebersamaan, karakter dan mimpi-mimpi mereka. Lihat saja, remaja-remaja yang menonjol di SCBD ternyata berasal dari berbagai area sub-urban pendukung Jakarta (bukan hanya berasal dari Citayam), misalnya Bonge adalah remaja Bojonggede, Jeje yang berdiam di Kemang, Kurma yang berasal dari Tambun Bekasi, dan Roy dari Cikarang.
Kesamaan demografi yang menonjol pada kelompok remaja ini, selain berasal dari area sub-urban kota penyangga DKI Jakarta, adalah mereka merupakan remaja pada fase middle, yang berusia antara 14-17 tahun (pada tahapan usia ini mereka mulai membangun identitas diri dan kemandirian agar tidak terus bergantung dengan orang tuanya, juga mulai memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis). Disini penulis menamakan pengunjung SCBD ini sebagai Sub-Urban Teenager. Sebagian di antara mereka sudah memiliki penghasilan sendiri, misalnya dengan mengamen, membuat content, atau berniaga online. Banyak diantara mereka yang memilih untuk tidak menyelesaikan sekolah lanjutan pertamanya, bahkan Bonge yang sibuk mengamen, tidak berhasil menamatkan sekolah dasarnya. Dan tentu saja, penyebab putus sekolah lainnya adalah karena orang tua mereka tidak memiliki cukup uang, kelas sosial ekonomi menengah ke bawah.

Kembali lagi tentang reaksi yang muncul di masyarakat, pro kontra, suka dan tidak suka, positif dan negatif, penulis mencoba melihat secara objektif, apa sajakah kesan-kesan yang ditangkap dari aktifitas Citayam Fashion Week yang viral di dekat area stasiun Sudirman Jakarta. Hal-hal tersebut coba dituliskan pada tabel berikut:
Tabel 1. Beberapa Hal yang Positif dan Negatif tentang SCBD
Dengan banyaknya pro kontra yang terjadi, antusias masyarakat untuk hadir di SCBD ternyata tetap tinggi. Saat penulis berkunjung ke lokasi pada hari Senin siang, lokasi relatif sepi, karena memang ada rumor aktifitas ini sudah dilarang pemerintah. Tetapi tetap ada rombongan Ibu-ibu dari berbagai kota dan wilayah di Indonesia, dan ada kelompok-kelompok kecil model professional, anak-anak maupun remaja menjelang dewasa di lokasi tersebut, dan tetap ada pengunjung dengan karakter pengunjung tetap SCBD.


Produk yang paling menonjol pada kelompok sub-urban teenager yang berkumpul di wilayah SCBD ini tentunya adalah Citayam Fashion Week. Apa sajakah yang dibutuhkan dari pemerintah? Bagaimanakah kebutuhan peralatan? Bagaimana cara mencapai lokasi agar tidak membuat semakin semrawut keadaan? Beberapa coba digambarkan oleh penulis pada tabel berikut:
Tabel 2. Terkait Produk, Peran Pemerintah, Kebutuhan Pendukung dan Transportasi

Foto-foto untuk Dimuat di Sebuah Online Shop
Kegiatan kreatif anak-anak SCBD, dengan ikon fashion show Citayam Fashion Week, merupakan wadah positif yang akan memberikan banyak peluang bagi siapa pun. Ini seolah pembuktian, bahwa siapa saja bisa menjadi idola, banyak cara kreatif untuk menjadi terkenal dan menghasilkan uang. Penghasilan halal yang sangat berarti bagi diri sendiri, keluarga dan lingkungannya.







