Pemkot Bogor dan PT KAI Teken MoU Penataan dan Pengembangan Kawasan Stasiun Bogor

BOGORONLINE.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melaksanakan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) penataan dan pengembangan kawasan Stasiun Bogor bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero), di Stasiun Bogor Gate Alun-alun Kota Bogor, Senin (7/9/2026).

Konsep pengembangan Stasiun Bogor ini merupakan sinergi antara PT KAI (Persero) bersama Pemkot Bogor dalam melakukan penataan kawasan untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang semakin dinamis.

Pada saat bersamaan juga dilaksanakan penandatanganan MoU antara PT KAI (Persero) dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang menjadi bagian dari kerja sama penataan.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim mengatakan, konsep dari PT KAI ini sejalan dengan langkah Pemkot Bogor dalam melakukan penataan wilayah Jalan Nyi Raja Permas, Jalan MA Salmun, dan juga Jalan Kapten Muslihat.

“Jadi kami menyambut baik, menyambut gembira, tinggal nanti menyinkronkan dengan apa yang sudah kami rencanakan dan apa yang sudah teman-teman PT KAI laksanakan,” ucap Dedie Rachim saat melakukan sesi wawancara dengan media di lokasi.

Sebagai langkah awal, Pemkot Bogor akan melaksanakan penataan di Jalan Nyi Raja Permas hingga ujung Jalan MA Salmun untuk meningkatkan ketertiban dan keindahan.

“Selanjutnya tahun depan, kita akan melaksanakan penataan Jalan Mayor Oking dan juga Kapten Muslihat,” ujarnya.

Di samping itu, pihaknya juga akan melakukan penataan Jalan Dewi Sartika untuk dijadikan sebagai jalan protokol yang diampu oleh Pemkot Bogor bersamaan dengan selesainya masa kontrak atau Build Operate Transfer (BOT) dari PT Propindo.

“Nanti kita akan lakukan pemotongan atau pembongkaran (bangunan yang menjorok ke jalan) supaya Jalan Dewi Sartika itu tidak ada obstaclenya, tidak terhambat oleh bangunan. Sehingga dari Alun-Alun sampai dengan Jalan Sawojajar itu lurus,” ungkapnya.

Direktur Utama PT KAI (Persero), Bobby Rasyidin mengatakan, dalam melakukan penataan kawasan ini pihaknya akan mengembalikan identitas Stasiun Bogor yang secara historis sangat kuat dengan bangunan tahun 1881 yang nantinya akan menjadi muka atau bagian depan dari New Stasiun Bogor.

Dalam penataan ini, PT KAI memiliki tiga konsep, yaitu konektivitas antara Stasiun Bogor dan Stasiun Paledang dengan kawasan sekitar.

“Kemudian juga akan connectivity dengan moda angkutan yang lainnya. Jadi intermodanya kita lihat juga, bagaimana kita nanti menjadikan ini pusat intermoda. Di situ ada Trans Pakuan, kemudian ada angkutan daring juga. Dan angkutan-angkutan yang lain, bahkan diskusi dengan Pak Wali juga bagaimana kita menghadirkan apakah konsepnya LRT perkotaan atau trem perkotaan. Nanti terintegrasinya semuanya di sini,” ungkapnya.

Selanjutnya, konsep utama berkaitan dengan spasialitas yang tidak hanya menciptakan ruang-ruang terbuka, tapi juga ruang usaha atau ruang ekonomi, atau yang dikenal dengan Transit Oriented Development (TOD).

“Jadi proses revitalisasi atau penguatan dari Stasiun Bogor ini sebenarnya sudah kita mulai. Teman-teman lihat sendiri selama 3 bulan kemarin sudah selesai, peron 6, 7, 8 kita tutup. Dan ini sudah kita buka lagi, sehingga sekarang itu peron 6, 7, 8 peronnya sudah panjang dan sudah ada kanopinya. Ini bisa menambah kapasitas angkut 30% harian daripada sebelumnya. Kita lihat juga sekarang ada peron 4 dan 5 kita tutup untuk penambahan kanopi, karena nanti untuk menghindari supaya para pelanggan atau pengguna tidak akan kehujanan,” ujarnya.

Kemudian, pada tahun depan pembangunan akan meliputi tata sisi sebelah selatan yang akan berfungsi menjadi pick-up and drop-off zone bagi angkutan Kota Bogor.

“Ini merupakan program dari pengembangan KRL sendiri, di mana dalam program besarnya nanti KRL ini akan sampai ke Sukabumi. Kemarin kan sudah ada jalur ganda sampai dengan Cigombong. Sehingga nanti, merupakan program 2027 kami, itu akan melakukan elektrifikasi sampai ke Stasiun Cigombong,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *