Bogor – Marlyn Maisarah mendorong generasi muda untuk mengambil peran lebih besar sebagai penggerak pembangunan dan kehidupan sosial di tingkat desa. Hal itu menjadi salah satu pesan utama dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama komunitas Formasi Pemuda Enam Berdedikasi di Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan tersebut membahas penerapan nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sosialisasi, pembahasan Empat Pilar tidak hanya diletakkan dalam konteks kebangsaan dan ketatanegaraan, tetapi juga dikaitkan dengan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Di antaranya kepedulian terhadap lingkungan, mulai terkikisnya budaya gotong royong, tantangan hoaks dan disinformasi, hingga pentingnya meningkatkan partisipasi generasi muda dalam pembangunan desa.
Marlyn menekankan pentingnya menghadirkan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Kegiatan sederhana seperti menanam pohon, membersihkan sungai, mengelola sampah, menjaga kebersihan lingkungan, serta merawat fasilitas umum merupakan bagian dari kepedulian sosial yang sejalan dengan semangat Pancasila.
“Pemahaman terhadap Pancasila, tidak seharusnya berhenti pada tataran teori. Nilai kebersamaan, kemanusiaan, musyawarah, gotong royong, dan keadilan sosial perlu tercermin dalam aktivitas masyarakat sehari-hari,” kata Marlyn.
Marlyn menjelaskan, budaya gotong royong menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut. Perubahan pola kehidupan, meningkatnya kesibukan, serta kecenderungan individualisme menjadi tantangan dalam mempertahankan partisipasi warga dalam kegiatan bersama.
“Padahal, gotong royong selama ini menjadi salah satu kekuatan sosial masyarakat Indonesia, terutama di tingkat desa. Kerja bakti, menjaga lingkungan, membantu warga yang membutuhkan, hingga merawat fasilitas bersama merupakan bagian dari budaya yang perlu terus dipertahankan,” jelas dia.
Dalam konteks itu, pemuda dinilai memiliki posisi strategis untuk menghidupkan kembali semangat kebersamaan. Komunitas pemuda dapat menjadi penggerak berbagai kegiatan sosial sekaligus menjembatani partisipasi warga dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan masing-masing.
Keterlibatan Formasi Pemuda Enam Berdedikasi dalam Sosialisasi Empat Pilar menjadi salah satu contoh pentingnya memberikan ruang lebih luas bagi generasi muda untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat.
Pemuda, lanjutnya, tidak hanya diharapkan hadir dalam kegiatan formal, tetapi juga ikut mengambil bagian dalam pelestarian lingkungan, kegiatan sosial, kewirausahaan, pemanfaatan teknologi, hingga pembangunan desa.
“Kepedulian terhadap lingkungan dinilai bukan semata-mata persoalan kebersihan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga kualitas hidup masyarakat,” papar dia.
Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan lingkungan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan yang berkelanjutan.
Kolaborasi antara pemuda, masyarakat, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan komunitas lokal dinilai penting untuk memastikan kegiatan pelestarian lingkungan dapat berjalan secara konsisten.
Selain isu lingkungan, Sosialisasi Empat Pilar turut membahas tantangan generasi muda di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial.
Kemudahan memperoleh informasi membawa banyak manfaat, namun pada saat yang sama juga meningkatkan risiko penyebaran hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, serta berbagai konten provokatif.
“Generasi muda yang aktif menggunakan media sosial perlu memiliki kemampuan literasi digital yang semakin baik. Pemuda didorong untuk mampu memeriksa sumber informasi, membedakan fakta dan opini, serta tidak terburu-buru menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” papar dia.
Kemampuan mengelola informasi juga memiliki hubungan erat dengan upaya menjaga persatuan. Informasi yang membawa isu suku, agama, politik, maupun identitas kelompok dapat menimbulkan gesekan di tengah masyarakat apabila diterima dan disebarkan tanpa sikap kritis.
Dalam konteks tersebut, nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika tetap relevan sebagai pedoman dalam berinteraksi di ruang digital. Sikap saling menghormati, bertanggung jawab, serta tidak mudah terprovokasi menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial yang harmonis.
Sosialisasi juga menyoroti pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat. Perbedaan agama, budaya, latar belakang sosial, kondisi ekonomi, profesi, hingga pandangan politik merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang harus dikelola secara bijak.
Semangat Bhinneka Tunggal Ika menjadi penting agar perbedaan tidak berkembang menjadi sumber konflik. Dialog, musyawarah, toleransi, dan saling menghormati perlu terus dikedepankan dalam menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat.
Kerukunan juga menjadi modal penting dalam pembangunan desa. Lingkungan sosial yang kondusif akan memudahkan masyarakat untuk bekerja sama, menjalankan kegiatan sosial, serta menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.
Melalui kegiatan di Desa Cijayanti, Sosialisasi Empat Pilar didorong agar tidak berhenti pada penyampaian materi kebangsaan secara formal.
Nilai Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika perlu diterjemahkan ke dalam aktivitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Penerapannya dapat dilakukan melalui kegiatan gotong royong, penghijauan, gerakan bersih sungai, pengelolaan sampah, edukasi antihoaks, kegiatan sosial, penguatan toleransi, hingga keterlibatan generasi muda dalam pembangunan desa.
Pendekatan yang lebih kontekstual tersebut diharapkan dapat membuat masyarakat, terutama generasi muda, lebih mudah memahami hubungan antara nilai-nilai kebangsaan dengan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.
Kegiatan bersama Formasi Pemuda Enam Berdedikasi sekaligus menegaskan bahwa pemuda dan komunitas lokal memiliki peran penting dalam membumikan Empat Pilar.
“Melalui partisipasi yang lebih luas, generasi muda diharapkan tidak hanya memahami nilai-nilai kebangsaan, tetapi juga mampu menjadi penggerak di lingkungannya, peduli terhadap persoalan sosial dan lingkungan, kritis dalam menerima informasi, menghargai keberagaman, serta aktif menjaga persatuan dan berkontribusi dalam pembangunan desa,” tutupnya.





