BOGORONLINE.com – Komisi III DPRD Kota Bogor melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke proyek revitalisasi jembatan Otto Iskandardinata (Otista).
Kedatangan rombongan yang dipimpin Ketua Komisi III Zenal Abidin untuk memastikan progres pembangunan yang dibiayai senilai Rp49 miliar tersebut.
Usai di lokasi proyek, para legislator yang membidangi pembangunan dan lingkungan itu langsung meninjau sejumlah pekerjaan.
Setelah itu Komisi III melanjutkan rapat dengan pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Bogor dan kontraktor PT. Mina Fajar Abadi.
Kepada awak media, Zenal Abidin mengungkapkan, progres pembangunan jembatan Otista sampai saat ini menunjukkan deviasi positif 1 persen.
“Karena kami di bidang pengawasan, kami melihat situasi pembangunan yang sekarang sudah masuk 1,06 persen,” kata Zenal, Jumat (19/5/2023).
Pihaknya menyatakan mendukung pembangunan ini dikarenakan jembatan tersebut dibangun untuk mengurai kemacetan di Kota Bogor.
Namun, kata Zenal, di sisi lain terkait dugaan jembatan Otista yang masuk dalam bangunan cagar budaya, pembongkaran jembatan tersebut ditunda untuk sementara oleh kontraktor.
Penundaan itu, lanjutnya, seperti disampaikan DPUPR tidak akan mempengaruhi waktu pengerjaan. Sebab, pengerjaan lain masih berjalan sesuai jadwal.
Dalam hal ini, pihak kontraktor juga telah memiliki plan B atau rencana cadangan ketika jembatan yang diduga masuk dalam cagar budaya tidak bisa dibongkar.
“Jadi di sini juga ada plan B. Bilamana jembatan ini (cagar budaya) mungkin bisa dinaikkan dengan jumlah kurang lebih 6 persen,” ujarnya.
Untuk ini juga, Komisi III akan memanggil dinas terkait dalam waktu dekat. Hal itu guna kepastian status dari bangunan jembatan tersebut.
“Hari Senin kami akan memanggil Dinas PUPR, Disbudpar, dan bagian hukum biar cepat mendapat kepastian,” tegasnya.
Sementara, Wakil Ketua Komisi III, Iwan Iswanto menuturkan dengan deviasi positif 1 persen, pembangunan jembatan Otista memiliki progres sehingga bisa selesai selama 7,5 bulan.
“Tadi ada beberapa yang terjadwalkan berkaitan dengan logistik, kadang-kadang yang sering terjadi manpower-nya banyak, logitiknya tersendat, jadi kami juga memberikan masukan berkaitan dengan penjadwalan logistik tersebut,” tuturnya.
Ia menegaskan, untuk pekerjaan, pihak kontraktor harus bisa mengantisipasi kondisi cuaca yang tidak menentu di Kota Bogor.
Ia juga dalam rapat meminta jika terjadi hujan di siang hari, pihak kontraktor bisa mengejar pekerjaan di malam hari.
“Karena harapan kita jembatan ini bisa secepatnya selesai dan bisa memberikan solusi agar Kota Bogor tidak macet,” ujarnya.





