CIJERUK- Cuma satu hal yang diinginkan Munarsih (85). Cucunya, Andri Apriansyah yang baru berusia delapan tahun itu, bisa lepas dari gizi buruk dan keceriaan seperti anak seusianya terpancar kembali.
Harapan itu tersembul dari rumah bilik di Kampung Totopong RT05/01, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Di rumah itulah Andri, terbaring di atas kasur yang terhampar di ruangan tengah rumah Mak Narsih. Sepanjang hari ditutupi kain. Bukan lantaran kedinginan. Tapi itu dilakukan neneknya untuk menutupi tubuh cucunya yang hanya menyisakan tulang dibalut kulit.
Lagi-lagi, keterbatasan biaya memaksa Munarsih hanya bisa merawat cucunya itu di rumah. Sempat mencoba berbagai pengobatan. Alih-alih sehat, kondisi Andri justru kian memprihatinkan. Terlebih, Andri kerap sakit-sakitan sedari bayi.
Kemana orang tua si bocah? Keduanya sudah berpisah hingga ia dirawat oleh sang nenek bersama pamannya, Dedi (53) yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Cuma terbaring di rumah. Saking lamanya, sampai terdapat luka di bagian belakang tubuh bocah itu.
Munarsih dan Dedi bukannya tinggal diam. Memaksakan berobat ke puskesmas dan rumah sakit pun pernah di coba, meski kantong pas-pasan malah kadang kurang. Bukannya, ditangani dengan baik, Andri hanya diberi biskuit dan vitamin.
Hasilnya, Andri yang sudah kurus kering, tak pernah beranjak dari kasur tipisnya di rumah nenek Munarsih.
“Pernah dibawa ke Puskesmas Cijeruk. Tapinya cuma dikasih biskuit sama vitamin ajah,” ujar Dedi kepada BogorOnline.com, Selasa (6/12).
Enam bulan lalu, orang-orang puskesmas pernah datang ke rumah dan memeriksa kesehatan Andri. “Tapi sampai sekarang belum ada lagi,” tambah Dedi.
Nenek Munarsih lah yang harus wara-wiri merawat Andri. Makanannya pun sebatas roti dan susu yang dibelinya di warung. Itu saat Andri memintanya. Lagi, karena keterbatasan biaya. “Kalau rewel, paling dibeliin susu sama roti,” kata Mak Narsih.
“Emak ga pingin apa-apa. Cuma mau cucu emak sehat lagi dan main sama anak-anak lain,” tutupnya lirih. (cex)






