SHINTA NURIYAH ABDURAHMAN WAHID : AMALKAN PANCASILA GUNA CEGAH INTOLERANSI

RUMPIN – Ibu Negara, Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid yang juga Ketua Yayasan Puan Amal Hayati, kembali melakukan acara sahur bersama warga Kabupaten Bogor. Kali ini, istri mendiang Presiden keempat RI Abdurahman Wahid (Gus Dur), bertemu muka dan membaca niat berpuasa serta makan sahur bersama warga Kecamatan Rumpin, tepatnya di Majlis Taklim Roudhotul Syafi’iyah Kp. Temanggungan  RT 3 RW 3 Desa Tamansari Kecamatan Rumpin, pimpinan Ustajah Hajjah Siti Nurlaela, Selasa (29/5/2017) dini hari.

Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid  datang ke lokasi sekitar pukul 03.45 WIB, dengan pengawalan aparat Polri dan TNI serta Paspampres Grup D. Kedatangannya disambut dengan aksi marawis dan pembacaan shalawat Nabi oleh para santri dan remaja mesjid di wilayah tersebut. Setibanya di dalam Majlis Taklim, giat pembukaan dimulai denganenyanyikan lagu Indonesia Raya. Tampak hadir Danramil Rumpin Kapten M. Hasan Bisri, Waka Polsek Rumpin AKP Suyono dan Kasi Trantib Kecamatan Rumpin Jumido serta sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Kegiatan sahur bersama yang diprakarsai oleh Yayasan Puan Amal Hayati dan Perempuan Konghucu Indonesia (Perkin) Majlis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) ini, nampak dipadati ratusan jama’ah kaum ibu. “Saya datang untuk sahur bersama warga, terutama kaum dhuafa. Sekaligus mengajak untuk berpuasa, menjalin silaturahmi, berbagi kasih sayang dan rasa kepedulian. Serta guna memperkuat rasa kebersamaan dan rasa kebangsaan bagi seluruh warga negara Indonesia,” ujar Shinta Nuriyah saat mengawali tausiyah kebangsaan yang disampaikannya.
Dia menjelaskan, lebih memilih kegiatan sahur bersama karena ingin mengajak semua lapisan masyarakat untuk melakukan ibadah puasa. “Karena dengan berpuasa, setiap orang diwajibkan menahan rasa lapar dan dahaga. Artinya puasa mengajarkan bagaimana sikap sadar, jujur dan memahami serta menjaga nilai persaudaraan, kasih sayang, kepedulian antara sesama manusia,” ujarnya. Shinta Nuriyah menerangkan, Negara Kesatuan Republik Indonesia, memiliki beragam suku bangsa dan  berbagai agama.
Namun semua perbedaan itu dibingkai dalam satu kekuatan abadi yaitu Bhineka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda namun tetap satu jua. “Artinya, semua orang Indonesia adalah saudara. Maka tidak pantas untuk saling menghujat, menghina, bermusuhan dan lainnya. Jadi perlu persaudaraan agar bisa hidup rukun dan damai,” tegasnya.
Shinta Nuriyah juga menandaskan, bahwa nilai persaudaraan, nilai kerukunan antara sesama anak bangsa, jauh lebih mahal harganya dari dari nilai uang berapapun jumlahmya. “Agama Islam mengajarkan setiap diri manusia untuk saling peduli, saling mengasihi, dan saling menjaga silaturahmi persatuan dan kesatuan. Ini juga termaktub dalam Al Qur’an dan juga Piagam Madinah saat zaman Rosululloh Muhammad SAW,” ungkapnya.

Sementara saat di wawancarai awak media dan dimintai tanggapannya terkait dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, terutama soal adanya disharmonisasi, sikap intolerasi, dan sebagainya, Shinta Nuriyah mengatakan, bahwa saat ini semua warga negara, tokoh pemimpin bangsa dan lainnya, harus segera kembali menggali nilai-nilai Pancasila serta mengamalkannya dengan baik. “Jadi mari kembali pada nilai  ajaran Pancasila dan mengamalkannya sebagai dasar dalam bernegara dan berbangsa. Hal ini guna mencegah sikap intoleransi, saling menghujat dan sebagainya.
Apalagi yang menyakitkan, karena ada pihak-pihak yang mau mengganti Pancasila. Semua ini harus dicegah demi terjaganya kebersamaan dan persatuan NKRI.”  himbaunya, (mul).

Comments