Bima Arya, Sosok KH. Sholeh Iskandar Pemersatu dan Multitalenta

Bogor – bogorOnline.com

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Hal tersebut ditegaskan salah satu pendiri bangsa (Founding Father), Ir. Soekarno saat pidato peringatan hari pahlawan 10 November 1961.

Di Peringatan Hari Pahlawan Tahun 2017 tingkat Kota Bogor, selain mengikuti Upacara di Taman Makam Pahlawan Dreded, Wali Kota Bogor secara khusus mengunjungi kediaman almarhum putra KH. Sholeh Iskandar, Didi Hilman di Perum Sindangbarang Asri, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jumat (10/11/17).

Menurut Bima hal ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengingat, menghargai, dan belajar dari tokoh bangsa dimasa lalu untuk membangun generasi muda Indonesia yang lebih baik.

“Saya kesini karena generasi muda sekarang jangan hanya mengenali pahlawan nasional saja, tetapi ada pahlawan di Bogor yang luar biasa yang levelnya seharusnya sama menjadi pahlawan nasional,” kata Bima.

Sosok KH. Sholeh Iskandar kata Bima adalah sosok pemersatu dan multitalenta, tidak hanya sebatas tokoh ulama dan ilmuwan yang berdakwah membela agamanya tapi juga seorang panglima yang mengangkat senjata membela bangsa dan negaranya.

“Almarhum KH. Sholeh Iskandar itu kebanggan warga Bogor karena beliau itu merupakan santri, tentara berjiwa nasionalis, dan pengusaha. Ini luar biasa yang harus menjadi contoh dan teladan anak muda sekarang karena kiprahnya multitalenta yang sangat kita kagumi,” sebutnya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor telah mengusulkan nama KH. Sholeh Iskandar sebagai pahlawan nasional karena merupakan sosok ulama dan pejuang asal Bogor yang semasa hidupnya telah memberikan sumbangsih yang cukup besar, baik saat masa revolusi maupun pasca revolusi, mulai dari tingkat lokal hingga internasional.

“Kita telusuri pengusulan itu sampai dimana, karena kita ingin sekali ada pahlawan asal Bogor yang diakui secara nasional dan bisa menginspirasi kita semua,” ujar Bima.

Sementara itu, putra keenam almarhum KH. Sholeh Iskandar, Didi Hilman (61) didampingi istrinya Retno Mulati (59) menceritakan sosok KH. Sholeh Iskandar yang dahulu merupakan militer, berlatar belakang pendidikannya di Pesantren. Saat masa revolusi Sholeh Iskandar memimpin pasukan yang jumlahnya mencapai 1.000 personel, saat memimpin Batalyon VI salah satu bukti ketangguhannya mampu meledakan tank baja sekutu terbesar jenis Sherman di daerah Leuweung Kolot, Ciampea, Bogor. Lokasi peledakan itu kemudian dinamai Kampung Tank dan Batalyon VI direorganisasi menjadi Batalyon 0.

Pasca revolusi, tidak sedikit capaian yang ditorehkan Sholeh Iskandar yang juga dikenal sebagai kyai, di tingkat Internasional pada tahun 1950 beliau berhenti menjadi militer dan membangun perumahan modern di Desa Pasarean, Pamijahan, Bogor, prestasinya diakui UNESCO (United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization) sebagai perumahan modern pertama di dunia ketiga.

“Jadi beliau memiliki visi pengembangan masyarakat pedesaan,” terang Didi.

Kemudian di tahun 1960, Sholeh Iskandar mendirikan lembaga pendidikan agama sekaligus keterampilan hidup yang pertama didunia islam internasional yaitu Pondok Pesantren (Ponpes) Pertanian Darul Fallah di Ciampea, Bogor dan tahun 1988 memprakarsai berdirinya Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesai (LPPOM MUI) yang kemudian berkembang menjadi lembaga sertifikasi halal tingkat internasional.

Di tingkat nasional, pada tahun 1959 bersama rekan-rekan seperjuangannya, Sholeh Iskandar mendirikan perusahaan Karoseri pertama di Indonesia dan pada tahun 1963 direorganisasi membentuk PT.Gunung Tirtayasa, mendirikan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) tahun 1957, mendirikan museum perjuangan Bogor (1958), mendirikan Badan Kerjasama Pondok Pesantren Jawa Barat (1972) yang berkembang menjadi Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKPPI).

Sementara itu, di tingkat lokal, pejuang yang lahir pada 5 April 1922 itu mendirikan Universitas Ibnu Chaldun Bogor (1961) dan diubah menjadi Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) pada tahun 1974, mendirikan Yayasan Rumah Sakit Islam Bogor (YARSIB) yang kemudian berhasil membangun Rumah Sakit Islam Bogor, memprakarsai berdirinya Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) Amanah Ummah (1992) dan banyak lagi sumbangsih lainnya yang diberikan semasa hidupnya.

Didi yang merupakan Ketua Pengurus Yayasan Ibn Khaldun sekaligus dosen di Fakultas Hukum ini mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Wali Kota Bogor Bima Arya dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta usulan dari masyarakat mengusulkan nama KH. Sholeh Iskandar sebagai pahlawan nasuonal.

“Atas nama keluarga saya mengucapkan terima kasih, seperti apa yang tadi pak Wali Kota sampaikan akan ditelusuri lagi usulannya, apalagi pak Presiden Jokowi sekarang tinggal di Bogor. Mudah-mudahan atas semua perhatiannya itu bisa terwujud,” pungkasnya.

Untuk mengenang jasa dan perjuangan KH. Sholeh Iskandar kini namanya diabadikan menjadi nama jalan utama di Kota Bogor, tepatnya di wilayah Kecamatan Tanah Sareal. (Nai/hms)

Comments