Sentul City Berulah, Karyawan PT AVE “Tersandera”

Babakan Madang – Sejumlah karyawan PT Acecode Venture Equity (AVE) merasa “tersandera” setelah PT Sentul City menutup akses keluar masuk perusahaan tersebut dengan memasang pagar panel yang terletak di RW 04 Desa Citaringgul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Pemilik PT AVE Hasan Sjafei mengatakan, dengan telah dipagar akses jalan menuju perusahaannya, ia mengaku mendapatkan kerugian.

“Tanah kami seluas 2.400 meter memang tidak dikalim, tapi akses masuk dari jalan desa seluas tiga meter itu dikalim miliknya. Memang betul mereka memberitahukan sebelumnya tetapi ketika saya tanya mana SPK, mana IMB nya, mereka tidak dapat menunjukkan,” kata Hasan Sjafei, kemarin.

Hasan menambahkan, dengan dalih pengamanan aset milik Sentul City, namun aneh nya tidak dilakukan penutupan sepanjang jalan tersebut. “Kenapa tidak ditutup semuanya, termasuk depan Hotel Haris atau akses ke Pesantren, ini ada apa, jangan-jangan nanti semua akses ke perkampungan warga juga di tutup,” imbuhnya.

Ia mengaku, atas kejadian ini ada upaya pemerasan terhadap dirinya. Karena menurutnya, sertifikat yang dimilikinya, berbatasan langsung dengan jalan desa.

“Saya yakin ini merupakan upaya pemerasan, sertifikat saya dalam batas nya itu langsung berbatasan dengan jalan desa. Selain telah melaporkan kepada pemerintah desa, Muspika dan Muspida, kami juga akan melaporkan hal ini kepada penegak hukum,” ungkapnya.

Kepala Desa Citaringgul Efredi Agustian yang juga datang ke lokasi pemagaran mengatakan, pihak desa tidak ada komunikasi dengan Sentul City atas pemagaran yang dilakukan nya.

“Sebagai pemerintah desa, bagaimana caranya agar situasi di masyarakat tetap kondusif dengan meminta pengertian dari kedua belah pihak. Saya berharap keduanya ada mediasi untuk mencari jalan keluar persoalan ini,” kata Efredi.

Ketua RW 04 Desa Citaringgul Bustomi juga mengatakan, bahwa akses jalan menuju mall Belanova itu merupakan jalan desa. “Setahu saya dan masyarakat disini dari dulu itu merupakan jalan desa,” kata Bustomi.

Namun demikian, imbuh Bustomi, sebelum melakukan pemagaran pihak Sentul City telah datang kepada dirinya untuk berkoordinasi. “Memang betul, sesuai apa yang ada dalam batas milik Sentul City. Tapi anehnya pemagaran itu lebih maju ke jalan, kok ada dua pemagaran panel nya, sehingga saya laporkan ke desa,” imbuhnya.

Sementara itu, Deputi Land Division Sentul City, Budi Purwanto ketika dikonfirmasi menjelaskan, bahwa pemagaran yang dilakukan pihaknya merupakan upaya pengamanan aset milik Sentul City.

“Kami melakukan pemagaran diatas HGB Sentul City, artinya kita memiliki alas hak yang jelas. Dan kami juga telah memberikan pemberitahuan kepada yang dekat disitu. Jadi selama ini yang terjadi justru kami tidak mempermasalahkan HGB kami yang dilewati tanpa ijin. Disini kami tidak mengklaim jalan desa, kami hanya melakukan penertiban,” jelas Budi.

Tujuan dari pemagaran seluas tiga meter kali sepanjang kurang lebih satu kilometer yang dilakukan, menurut Budi, adalah untuk memperindah. “Biasanya ada warung liar dan menjadi tempat buang sampah. Nanti akan kami bikin taman, buat jalur hijau,” tuturnya.

Ia menambahkan, bahwa dibelakang pemagaran itu, lebih dari 90 persen merupakan milik Sentul City. “Maka yang kami lakukan adalah mengurangi spekulan yang berupa mengklaim tanah kami. Memang tidak semuanya, termasuk milik Hasan Sjafei,” imbuhnya.

Atas dirusak nya pagar panel yang dilakukan oleh Hasan Sjafei, pihak Sentul City juga akan menempuh jalur hukum.

“Kalau itu tanah milik kami, terserah mau diapain juga ya, justru kalau tidak dilakukan pemagaran malah kami yang salah. Tapi dengan pengrusakan pagar, kami akan laporkan ke kepolisian,” tukasnya. (adi)

Comments