ROHIYAH, JANDA TUA PENGHUNI RUMAH BILIK YANG NYARIS ROBOH DI RUMPIN

 

RUMPIN – Seorang janda tua yang tinggal bersama dua anak dan dua cucu serta menantu harus rela tinggal di gubuk reyot dan selalu was – was dibayangi ancaman bahaya rumah roboh. Apalagi ketika hujan deras dan angin kencang menerjang, rasa takut semakin menghantui keluarga ini.

Pasalnya, rumah yang ditempati janda tua dan 5 anggota keluarganya ini sudah bocor disana-sini dan nyaris ambruk. Itulah sekelumit keluh kesah yang disampaikan Rohiyah (50) warga kampung Maloko RT 04/07 Desa Sukasari, Kecamatan Rumpin.

Janda tua yang tinggal di sebuah rumah berukuran 8 X 6 meter, dengan pagar bilik bambu dan sebagian ditutup terpal plastik guna menahan hembusan angin dan masuknya air hujan ke dalem rumah. Rohiyah mengaku, saat ada hujan dan angin kencang, dia dan anak-anaknya langsung mengungsi ke rumah tetangga.

“Saya takut bangunan rumah ini roboh. Apalagi tiang rumah sudah pada rusak, makanya dipasangin tiga batang bambu untuk penahan bangunan rumah. Mungkin kalau tidak diberi penyangga batang bambu, rumah ini sudah roboh.” ungkap Rohiah (50) dengan nada lirih saat ditemui bogoronline.com, Selasa (25/07/2018).

Sementara Sumardi (31) menantu Rohiyah mengatakan, keluarganya bukan tidak ingin mperbaiki rumah, namun kondisi ekonomi dan keuangan yang sangat tidakungkinkan. “Saya sehari-sehari menjadi buruh harian lepas. Penghasilan saya hanya cukup untuk menutupi biaya makan sehari – sehari, dan itupun kadang tidak dapet uang,” ungkapnya.

Dia menuturkan, dengan kondisi rumah yang sudah rusak, rasa takut dan khawatir akan terjadinya musibah selalu menghantui mereka. “Terutama saat hujan turun dan angin kencang. Karena rumah ini sudah bocor genteng-gentengnya, sehingga kayu-kayunya sudah pada keropos dan patah,” keluhnya.

Sedangkan seorang teetangga Rohiyah bernama Seri (42) mengaku sangat prihatin melihat kondisi ibu Rohiah yang memiliki rumah hampir roboh ini.

Menurutnya, melihat kondisi rumah Rohiyah, memang sangat berbahaya dan sudah tidak layak. “Rumah itu bisa roboh kapan saja ketika ada hujan dan angin kencang menerpa. Namun mau bagaimana lagi, keluarga mereka untuk mencari buat makan saja kesulitan. Kami pun para tetangga belum bisa membantu apa-apa.” Ujanya.

Dikonfirmasi keluhan warganya, Kepala Desa Sukasari Suryanto mengaku, pemerintah desa (Pemdes) Sukasari tahun 2018 ini tidak mendapatkan anggaran dana Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), meski pihaknya berdalih sudah mengajukan usulan program bankeudes RTLH.

Suryanto berjanji akan berupaya mencari solusi guna memperbaiki rumah Rohiyah yang kondisinya sudah sangat berbahaya tersebut. “kami akan mencoba bekerjasama dengan pihak PT Holcim,  perusahan yang terdekat dengan lingkungan desa kami, melalui sistem kerjasama menggunakan dana CSR perusahan tersebut. Insya Allah pengajuannya pun sudah disetujui oleh pihak perusahaan.” Ucapnya. (MUL)