CIBINONG, BOGORONLINE.COM – Atas arahan Bupati Bogor, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melalui Dinas Kesehatan, terus memperkuat transformasi digital di sektor kesehatan melalui implementasi E-TPMB dan Dashboard Data Warehouse sebagai bagian dari upaya meningkatkan integrasi pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan primer.
Sosialisasi sekaligus peluncuran aplikasi E-TPMB dan Data Warehouse tersebut dilaksanakan di Harris Hotel & Convention Cibinong City Mall, Cibinong, Senin (28/9), dengan melibatkan Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB), Puskesmas, rumah sakit, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, organisasi profesi Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Diskominfo Kabupaten Bogor, Clinton Health Access Initiative (CHAI) Indonesia serta pengembang aplikasi PT Sisfomedika.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dr. Fusia Meidiawaty mengatakan, transformasi sistem kesehatan menuntut seluruh pihak untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi. Digitalisasi pelayanan kesehatan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan mutu pelayanan, efisiensi kerja, serta ketersediaan data yang cepat, tepat, dan akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan.
“Digitalisasi pelayanan kesehatan merupakan langkah strategis untuk meningkatkan mutu pelayanan, efisiensi kerja, serta ketersediaan data yang cepat, tepat, dan akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan,” ujar Fusia.
Ia menjelaskan, penerapan E-TPMB dan Data Warehouse sejalan dengan kebijakan Kementerian Kesehatan melalui platform SATUSEHAT yang mendorong pemerintah daerah memperkuat sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan primer agar semakin terintegrasi.
Menurutnya, Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) merupakan salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan anak yang menghasilkan berbagai data penting, mulai dari pelayanan antenatal, persalinan, pasca persalinan, bayi baru lahir dan balita, hingga pelayanan imunisasi.
Namun, pencatatan dan pelaporan yang masih dilakukan secara manual menyebabkan data pelayanan belum sepenuhnya terhubung dengan Puskesmas, rumah sakit, maupun Dinas Kesehatan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan keterlambatan pelaporan, terputusnya kesinambungan informasi pelayanan, serta keterbatasan dalam melakukan pemantauan cakupan dan mutu pelayanan secara cepat.
“Karena itu, kehadiran E-TPMB dan Data Warehouse merupakan langkah yang penting dalam memperkuat ekosistem data pelayanan kesehatan di Kabupaten Bogor,” kata Fusia.
Ia menjelaskan, aplikasi E-TPMB diharapkan dapat mendukung pencatatan pelayanan ANC, INC, PNC, dan imunisasi secara digital. Sementara itu, Data Warehouse menjadi bagian dari mekanisme integrasi data dari berbagai sumber pelayanan.
“Yang ingin kita bangun bukan sekadar aplikasi baru, yang kita bangun adalah sistem data kesehatan yang terhubung dan dapat dimanfaatkan,” tegasnya.
Fusia menambahkan, pembangunan ekosistem data kesehatan membutuhkan peran dari seluruh unsur pelayanan. TPMB berperan memastikan data pelayanan dicatat secara lengkap, benar, dan tepat waktu. Puskesmas memiliki peran dalam pembinaan, koordinasi, serta pemantauan pelayanan di wilayah kerjanya.
Rumah sakit juga menjadi bagian penting dalam kesinambungan pelayanan dan rujukan. Sementara Dinas Kesehatan bertanggung jawab dalam memastikan tata kelola, integrasi, pemanfaatan, serta pengembangan sistem data kesehatan di tingkat daerah.
Menurut Fusia, data yang dikumpulkan tidak boleh berhenti sebagai angka dalam sebuah dashboard. Data harus dimanfaatkan untuk membaca situasi, menemukan kesenjangan, menetapkan prioritas, melakukan intervensi, serta mengevaluasi hasil pembangunan kesehatan.
“Data yang lengkap, akurat, konsisten, dan tepat waktu akan menghasilkan informasi yang dapat dipercaya. Sebaliknya, kualitas data yang tidak baik akan berdampak pada kualitas perencanaan dan pengambilan keputusan,” jelasnya.
Saat ini, Kecamatan Cibinong menjadi wilayah percontohan implementasi E-TPMB dan Data Warehouse di Kabupaten Bogor. Fusia berharap implementasi tersebut tidak berhenti pada tahap peluncuran, tetapi dilanjutkan dengan aktivasi akun, pendampingan, penguatan kapasitas, pemantauan kelengkapan dan kualitas data, serta monitoring implementasi secara berkala.
Ia juga mengajak seluruh TPMB untuk menjadikan E-TPMB sebagai instrumen yang dapat mempermudah pelayanan dan pencatatan. Puskesmas diharapkan memperkuat fungsi pembinaan dan pendampingan, sedangkan IBI diharapkan turut mendukung terbentuknya budaya pencatatan digital yang berkualitas.
“Kami juga menyampaikan apresiasi kepada CHAI Indonesia dan PT Sisfomedika atas dukungan dalam pengembangan, uji coba, dan peluncuran E-TPMB serta Data Warehouse ini. Mari kita jadikan momentum ini sebagai langkah bersama menuju pelayanan kesehatan yang semakin terintegrasi, berbasis data, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” pungkas Fusia.





