Ditulis oleh :
Alma Rizkia Shaina ,Citra Yasmina Ananda dan Dini Fitriani Nugraha
Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
Ditengah maju dan pesatnya perkembangan kuliner di Indonesia akibat globalisasi, membuat akses, informasi, dan variasi terhadap makanan mudah dijangkau. Namun, dibalik semua kemudahan itu terdapat bahaya yang mengancam dan tidak banyak orang yang menyadarinya. Mengambil contoh kecil dari kasus Ibu Melati yang baru menyadari bahwa anaknya yang masih berusia 12 tahun menderita diabetes yang umumnya diderita oleh orang dewasa.
Penyebabnya sederhana, yaitu berawal dari rasa cinta terhadap anaknya, sehingga membiarkan sang buah hati mengonsumsi minuman kekinian berupa Boba dengan Milk Tea rutin setiap minggu yang amat disukainya. “Awalnya, tidak ada gejala yang serius tapi saya perhatikan setiap dia selesai buang air kecil kok banyak semut di klosetnya. Saat diperiksa ke dokter, saya kaget ternyata anak saya menderita diabetes. Saya sedih karena dia harus meminum banyak obat untuk seumur hidupnya di usianya yang masih belia ini,” curhat Ibu Melati sedih.
Berdasarkandata GrabFood (2018), jumlah pemesanan bubble tea terus mengalami kenaikan. Dapat dilihat dari persentase pertumbuhan bubble tea pada tahun 2018 di Indonesia sebanyak >8.500% dari Januari – Desember dan Filipina sebesar >3.500% dari Juni – Desember 2018. Rata-rata, setiap orang di Asia Tenggara minum sebanyak 4 gelas bubble tea setiap bulan melalui pemesanan di GrabFood. Konsumen di Thailand menjadi konsumen dengan rata-rata konsumsi bubble tea tertinggi dengan jumlah 6 gelas bubble tea per orang setiap bulannya, sedangkan di Indonesia sebanyak 3 gelas per orang tiap bulannya. Selain itu, topping yang paling digemari di Indonesia dan negara Asia tenggara lain adalah boba.
Pemesanan bubble tea ini sejalan dengan peningkatan diabetes. Berdasarkan data American Dietition Association bahwa terdapat 15-45% data kasus terbaru penderita diabetes terjadi pada anak-anak dan remaja dikarenakan peningkatan angka obesitas. Hal ini sesuai dengan pernyataan IDAI yang menyebutkan bahwa obesitas merupakan salah satu faktor risiko terjadinya diabetes. Faktor lainnya adalah pola makan ridak seimbang dan kurangnya aktivitas fisik.
Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dinyatakan bahwa penyelenggaraan pangan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pangan yang aman, bermutu, dan bergizi bagi konsumsi masyarakat. Selain itu, menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan telah mengamanatkan upaya perbaikan gizi untuk meningkatkan mutu gizi perorangan dan masyarakat, antara lain melalui perbaikan pola konsumsi makanan; perbaikan perilaku sadar gizi, aktivitas fisik, dan kesehatan; serta peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan undang-undang tersebut, sudah semestinya orang tua memperhatikan kandungan gizi makanan yang akan dikonsumsi oleh anak nya dan menerapkan perilaku sadar gizi untuk mengontrol jumlah gula dan energi sesuai kebutuhan anak. Sebagai contoh, kita dapat tetap mengonsumsi milk tea dengan memilih kandungan gula sedikit atau less sugar dan tidak memakai tambahan topping seperti bobar. Namun, perilaku sadar gizi juga harus didukung dengan peran orang tua dalam mengajarkan anak membeli jajanan yang sehat dan mengurangi frekuensi jajan karena sebagian besar anak menjadikan orang tua sebagai role model mereka. Oleh sebab itu, diperlukan pemberian informasi mengenai pangan apa saja yang baik, jajanan yang baik serta dampak yang ditimbulkan apabila anak tidak mengonsumsi pangan yang bergizi dan seimbang.. (Pedoman Jajanan Anak Sekolah untuk Pencapaian Gizi Seimbang BPOM 2013)..
Referensi
BPOM RI. 2013. Pedoman Pangan Jajanan Anak Sekolah untuk Pencapaian Gizi Seimbang Bagi Orang Tua, Guru dan Pengelola Kantin. Jakarta. BPOM RI
Grab. 2018. Demam Bubble Tea di GrabFood. [online] Available at: https://www.grab.com/id/press/tech-product/demam-bubble-tea-di-grabfood/ Accessed on 27 Nov 2019
IDAI. 2017. Waspadai Diabetes Melitus pada Anak. [online] Available at: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/waspadai-diabetes-mellitus-pada-anak Accessed on 27 Nov 2019
Pulgaron Elizabeth , Alan M. Delameter. 2014. Obesity and Type 2 Diabetes in Children: Epidemiology and Treatment. Curr Diab Rep. Vol 14 (8) :508 Available from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4099943/ Accessed 27 Nov 2019





