by

DPRD Tolak Rencana Pemkot Bogor Pinjam 768 M

BOGORONLINE.com, Kota Bogor – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bogor menolak rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengajukan pinjaman daerah melalui Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp768 miliar.

Ketua DPRD Kota Bogor Atang Tristanto mengatakan, dalam ekspose Wali Kota Bogor Bima Arya beserta jajaran pada Senin (23/11) malam memaparkan rencana pinjaman Rp768 miliar, yang dialokasikan untuk membangun Stadion Pajajaran. Berkaitan hal itu, DPRD menyampaikan masukan dan catatan tak kurang ada tiga poin catatan.

“Pertama, skema pinjaman ini bagaimana cara pembayaran angsurannya dan sekaligus bunga yang harus dibayarkan pemkot. Kedua itu soal tujuan dari pembangunan ini untuk apa saja. Dan ketiga, itu dari besaran (pinjaman),” katanya kepada awak media, Selasa (24/11/2020).

Atang mengungkapkan, dari skema tetap bahwa Pemkot Bogor akan membayarnya dalam waktu delapan tahun. Hal ini, menurutnya, akan membebani Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) pada tahun-tahun kedepan. Terlebih, pembangunan stadion Pajajaran dinilai belum mendesak dan prioritas untuk saat ini.

Ia melanjutkan, bahwa yang menjadi prioritas di tengah situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini adalah bidang kesehatan. Seperti membangun Rumah Sakit (RS), fasilitas pelayanan kesehatan serta penyediaan SDM (Sumber Daya Manusia) kesehatan untuk bisa menyelesaikan masalah-masalah kesehatan masyarakat.

Selain itu, masih kata politisi PKS itu, ada persoalan infrastruktur pendidikan hingga infrastruktur jalan ataupun lingkungan yang dianggap lebih prioritas.

“Kita lihat bahwa dana Rp760 miliar lebih itu untuk hanya satu program terbesar. Apa tidak bisa dialihkan saja untuk kegiatan yang benar-benar mendesak untuk kepentingan masyarakat seperti yang telah disebutkan tadi, untuk kesehatan pendidikan maupun infrastruktur publik,” tegasnya.

Hal senada diungkapkan Anggota DPRD Atty Somaddikarya. Ia menyatakan tidak setuju pinjaman PEN sebesar Rp 768 miliar hanya membangun satu tujuan pada revitalisasi GOR Pajajaran apalagi di situasi di tengah pandemi Covid-19.

“Dalam situasi sekarang yang kita butuhkan dann sebagai program prioritas pemerintah harus tertuju pada pemulihan ekonomi. Dan saya setuju jika pinjaman PEN dipergunakan tepat sasaran untuk membuka jalu-jalur alternatif supaya berdampak pada tumbuhnya ekonomi di wilayah-wilayah Kota Bogor di pinggirin-pinggiran,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Atty, terkait bidang kesehatan alangkah baiknya menambah RSUD dengan membangun RSUD tipe C lantaran masyarakat masih sulit mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal di rumah sakit milik swasta terlebih pada peserta BPJS PBI.

“Kemudian pengadaan 68 ambulan untuk setiap kecamatan dan membuka lapangan kerja buat supir di setiap kelurahan. Bangun rumah rakyat yang roboh dan sekolah-sekolah SD dan SMP yang jauh dari kata layak sebagai tempat menimba ilmu bagi generasi penerus bangsa kedepan,” tambahnya.

Masih kata politisi PDI Perjuangan itu, kegiatan pelatihan-pelatihan ketetrampilan ditambah modal usaha dan diberikan fasilitas tempat usaha bagi yang sudah lulus pelatihan sebagai binaan Pemkot Bogor di bawah Dinas Koperasi dan UMKM. Kegiatan ini dijadikan satu kawasan yang disiapkan sebagai wilayah penghasil satu produk dan tenaga trampil yang handal yang tidak dimiliki daerah lain.

“Sekali lagi pinjaman ini harus tepat sasaran jika memang pemkot membutuhkannya dan sy tegaskan saya tidak setuju pemkot mengajukan pinjaman PEN hanya untuk revitasisasi GOR saat ini, kalaupun harus diakui secara jujur revitalisasi GOR juga perlu dan penting tapi bukan prioritas,” tegasnya.

Terpisah, Ketua Fraksi PPP DPRD Kota Zaenul Mutaqin mengatakan, anggaran Rp768 miliar untuk membangun gedung stadion berstandar internasional itu hal yang biasa saja. Akan tetapi, pembangunan itu dilakukan disaat kondisi pandemi covid-19 seperti sekarang ini, dimana perekonomian sedang mengalami goncangan, masyarakat sedang kesulitan karena pandemi. “Ini baru luar biasa, luar biasa tidak masuk akal maksudnya,” ujar Zaenul, kemarin.

Lanjut politisi senior yang akrab disapa ZM ini memaparkan, anggaran sebesar itu dananya berasal dari pinjaman yang tentu saja akan membebani APBD Kota Bogor, sementara masih banyak infrastruktur publik yang belum terselesaikan, contohnya jalan R3 yang belum rampung, BIRR, Mesjid Agung yang sekian tahun mangkrak, jembatan yang sudah tua dan mengkhawatirkan konstruksinya, kondisi pasar tradisional yang harus dibangun, dan masih banyak lagi.

“Saya setuju dengan progran PEN yang digulirkan oleh pemerintah dengan tujuan untuk segera merecovery sektor ekonomi. Dalam hal ini, Pemkot Bogor seharusnya lebih memiliki sense of crisis melihat kondisi masyarakat Kota Bogor.

Memang secara regulasi dalam hal pinjaman dana untuk membangun stadion ini tidak harus meminta persetujuan dewan, tapi kami juga mempunyai hak untuk berpendapat dan menilai penting atau tidaknya membangun stadion dengan biaya sebesar itu disaat kondisi seperti sekarang ini,” jelasnya.

Tambah ZM, logikanya dimana, untuk memulihkan ekonomi masyarakat dengan cara membangun stadion yang megah dengan biaya fantastis? Ingat, masih banyak masyarakat Kota Bogor yang khawatir rumahnya ambruk ketika musim hujan tiba. “Jadi dana PEN itu harus dan wajib tepat sasaran,” tandasnya. (Hrs)

ARTIKEL REKOMENDASI

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *