BOGORONLINE.com, Kota Bogor – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 di Kota Bogor, kembali diperpanjang dengan melonggarkan beberapa sektor. Salah satunya sektor pasar rakyat.
Pada pasar rakyat non kebutuhan sehari-hari kini beroperasi dengan batas waktu hingga pukul 17.00 WIB dengan kapasitas pengunjung 50 persen. Kebijakan itu berlaku mulai Selasa (31/8) hingga 6 September 2021.
Hal itu dijelaskan Direktur Operasional (Dirops) Perusahaan Umum Daerah Pasar Pakuan Jaya Kota Bogor, Deni Ariwibowo. Diketahui, pada PPKM periode sebelumnya, pasar rakyat non kebutuhan sehari-hari sempat tidak diperbolehkan beroperasi.
“Kota Bogor terapkan kebijakan PPKM Level 3 pada 31 Agustus sampai 6 September.
buy zovirax online https://thefreezeclinic.com/wp-content/uploads/2021/09/jpg/zovirax.html no prescription
Operasional pasar juga ada aturannya, pasar kebutuhan non pangan, kebutuhan sehari-hari, itu boleh buka sampai jam 17.00 WIB dengan pembatasan pengunjung maksimal 50 persen,” kata Deni kepada awak media, Kamis (2/9/2021).
Selain itu, pihaknya juga menganjurkan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes), salah satunya penggunaan masker bagi pedagang dan pengunjung pasar.
Ia menjelaskan, dengan kebijakan kelonggaran ini memang memberikan dampak positif bagi geliat ekonomi pasar. Namun tidak terlalu signifikan. Salah satunya dampak dari penerapan kebijakan Ganjil Genap di Kota Bogor.
“Jadi kalaupun kita boleh buka maksimal 50 persen pengunjung, nyatanya sekarang-sekarang itu (jumlah) pengunjung nggak sampai segitu. Ya, jadi dibatasi segitu juga pengunjung pasar nggak sampai segitu,” ujar Deni.
“Salah satunya imbas Ganjil Genap, terasa setelah itu diterapkan. Masyarakat malas keluar, ke pasar, kalau pedagang ya datang saja,” imbuhnya.
Menurutnya, dampak sangat terasa saat Ganjil Genap diterapkan setiap hari dibandingkan saat diterapkan hanya pada akhir pekan saja. Pihaknya pun berharap pemerintah bisa mengkaji kebijakan Ganjil Genap agar tidak diterapkan setiap hari.
Secara umum, ia tidak keberatan dengan kebijakan Ganjil Genap, hanya saja waktu penerapannya yang mesti dievaluasi.
“Kalau diterapkan saat weekend saja mungkin nggak terlalu terasa, karena ada hari biasa itu ramai. Nah pas (Ganjil Genap) setiap hari, itu terasa sekali. Kita sih berharap seperti itu, nggak setiap hari, biar masyarakat juga nggak malas keluar. Tapi tetap tidak mengabaikan prokes,” pungkasnya. (Hrs)





