BOGORONLINE.com, Kota Bogor – Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menyikapi kebocoran pipa transmisi air baku di jalur intake Ciherang – IPA Dekeng yang terjadi di area proyek jalur ganda kereta Bogor – Sukabumi di Kelurahan Genteng, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor beberapa waktu lalu.
Dedie meminta pelaksana proyek jalur ganda atau double track tersebut agar lebih hati-hati dalam melakukan pengerjaan di area tertanamnya pipa tranmisi air baku milik Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor.
Dedie mengatakan, kebocoran pipa tak hanya berdampak pada 70 ribu pelanggan Perumda Tirta Pakuan di Kota Bogor, namun suplai air bersih di Istana Bogor berasal dari sumber pengolahan air yang sama.
“Sumber air Istana Bogor saja berasal dari sumber air yang sama. Dari pipa yang sama. Makanya pengembang coba dilihat lagi prosedur prosesnya sehingga tidak mengganggu pipa,” ucap Dedie, belum lama ini.
Terlebih, lanjutnya, Pemerintah Kota Bogor sudah berkoordinasi dengan Balai Teknik Perkeretaapian Jawa Barat yang menyepakati tidak menggeser pipa transmisi dalam kegiatan proyek double track tersebut.
“Pipa tersebut tidak digeser. Yang digeser itu trasenya, relnya. Memang dalam pelaksanaannya ada kendala. Teknisi lapangan yang harus dicermati. Kita minta mereka untuk mencermati,” tegasnya.
Meski demikian, Dedie masih memaklumi ketika pekerjaan double track yang yang bersinggungan dengan pipa transmisi air baku kerap berdampak. Untuk itu, dia kembali meminta pelaksana proyek lebih hati-hati melakukan pengerjaan di area keberadaan pipa transmisi tersebut.
“Iya, namanya proyek. Kami sudah komunikasi terus. Memang ada titik-titik rawan. Namanya proyek itu tentu tidak ada unsur kesengajaan, tapi kita minta pelaksana untuk melaksanakan pekerjaan dengan penuh kehati-hatian,” imbuhnya.
Disisi lain, Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor telah mengambil langkah perbaikan terhadap pipa yang mengalami kebocoran. Selain itu, langkah antisipasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan terdampak dengan menyediakan mobil tangki air dan Terminal Air Hidran Umum (TAHU) di kantor kecamatan.
“Pihak PDAM sudah ambil langkah teknis, perlu waktu 2×24 jam untuk pemulihan. Kami juga minta pelaksana maupun PDAM siapkan tangki-tangki air untuk distribusi kebutuhan warga terdampak,” tutupnya. (Hrs)





