by

“Quo Vadis” Guru Indonesia

Oleh : Yayat Supriyatna

Manajer Pendidikan SIT Asy – syifa Qolbu dan Praktisi Pendidikan

Mau dibawa kemana (Quo Vadis) anak – anak Indonesia oleh guru – guru Indonesia? Pertanyaan ini sedang mempertanyakan visi atau tujuan yang dimiliki oleh seorang guru. Karena ketiadaan visi atau tujuan pilihan dan langkah apapun menjadi tidak penting dan tidak berguan. Visi dan tujuan seperti apa yang “seharusnya” dimiliki oleh seorang guru? Untuk pertanyaan pertama, sedang mempertanyakan kepemilikan akan visi dan tujuan menjadi seorang guru, dan untuk yang kedua sedang mempertanyakan apakah visi dan tujuannya itu benar? Guru yang tidak memiliki visi atau tujuan ia tidak berhak untuk mengarahkan atau mendidik, karena dirinya sendiri tidak mengetahui arah dan tujuan yang harus ditempuhnya, dan jika visi atau tujuannya salah atau keliru maka sudah dipastikan ia akan membawa yang dididiknya kearah dan tujuan yang salah dan keliru,. Guru seperti ini tidak bisa diikuti karena ia sendiri tersesat dan akan menyesatkan.

Apa itu visi dan tujuan? Setiap manusia memiliki harapan dan keinginan, jika harapan dan keinginannya itu dipikirkan secara mendalam dan luas ia akan membentuk sebuah cita – cita atau visi. Jadi visi adalah gambaran dari harapan dan keinginan yang luhur, luas dan mendalam. Luas atau sempitnya, besar atau kecilnya, dan dalam atau dangkalnya sebuah visi sangat ditentukan oleh seluas atau sesempit, sebesar atau sekecil, dan sedalam atau sedangkal cara berfikirnya. Apa yang ada diisi kepalanya seperti itulah visi dan tujuannya?

Karena manusia makluk identifikasi (ingin seperti apa dan siapa?). Status social (guru) menjadi media seseorang ketika memilih menjadi seorang guru. Harapan dan keinginan seperti apa yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru? Menemukan harapan dan keinginan yang seharusnya, sama dengan menemukan harapan dan keinginan yang benar. Siapa yang berwenang atau yang memiliki otoritas untuk memastikan bahwa harapan dan keinginannya itu memang seharusnya dimilikinya? Apakah bisa manusia yang terbatas secara pengetahuan karena dibatasi ruang dan waktu bisa menjadi sumber otoritas yang menentukan dan memastikan harapan dan keinginan yang seharusnya dimiliki manusia? pencarian akan sumber otoritas itulah, maka manusia akan sampai kepada Allah SWT sebagai sumber yang memiliki otoritas yang benar, pasti, dan jelas. Dalam hal ini, ketika ia memilih menjadi seorang guru maka ia harus menyerahkan otoritas atas harapan dan keinginannya kepada Allah SWT. Apa yang diharapkan dan diinginkan Allah SWT untuk para guru? Jika harapan dan keinginannya tidak bersumber dari Allah SWT, maka ada sumber lain yang menjadi otoritas yang membentuk harapan dan keinginannya. Sumber yang lain itu sudah pasti salah, keliru, dan menyesatkan.

Manurut Muhammad Qutb bahwa tujuan Pendidikan dalam Islam itu adalah “Allah Sentris”. Dunia yang Allah SWT ciptakan dengan segala bentuk dan isinya ini harus diketahui dan dikenali. Proses ini akan melahirkan ilmu-pengetahuan. Dalam Islam ilmu pengetahuan itu lahir dari kesadaran keimanan yang mendesaknya untuk mengetahui dunia dengan segala bentuk dan isinya, kemudian darinya ia akan melahirkan ilmu pengetahuan yang akan lebih menguatkan keimanannya. Karena ilmu pengetahuan akan memberitahu siapa yang menciptakan ini semua. Jadi, jika Pendidikan tidak membantu untuk mengetahui, mempercayai, meyakini dan bahkan sampai mencintai Allah SWT, atau dengan kata lain Pendidikan dimaksud menjauhkan manusia dari Tuhannya maka sudah dapat dipastikan Pendidikan itu salah dan gagal.

Siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya, dan siapa yang mengenal Tuhannya ia akan mengenali dunia yang Tuhan ciptakan. Siapa yang mengenali duniaNya ia akan bertindak secara benar, baik dan tepat.

Dalam hal ini, tanggungjawab moral seorang guru dalam mengajar dan mendidik peserta didiknya melalui ilmu pengetahuan yang disampaikannya harus bisa mengenalkan peserta didik pada Tuhannya kemudian ia mencintai-Nya akhirnya ia akan bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Tuhannya. Inilah visi dan tujuan yang sehrusnya dimiliki oleh seorang guru.

ARTIKEL REKOMENDASI

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *