Prospek Masa Depan Pengembangan Agroindustri Berkelanjutan

BOGORONLINE.com – Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB University, Prof. Dr. Ir. Illah Sailah, M.S. mengatakan, sebagaimana diketahui bahwa pada umumnya hasil pertanian bersifat kamba, mudah rusak, sehingga berumur pendek, dan harganya murah.

Oleh karena itu, perlu adanya transformasi bahan mentah hasil pertanian menjadi produk tertentu yang diharapkan dapat memperluas pemasaran, karena lebih memiliki umur simpan yang lebih panjang.

Upaya itu dituangkan dalam sebuah sistem yang saling berhubungan yang dikenal dengan agroindustri, yang oleh pencetusnya dinyatakan bahwa agroindustry brings agriculture into perfection.

“Jantung dari agroindustri adalah teknologi proses yang dapat melibatkan perubahan fisik, kimia, dan kombinasi keduanya,” kata Prof. Illah Sailah saat konferensi pers pra orasi ilmiah dengan judul “Peran, Tantangan Teknologi Proses dan Prospek Masa Depan Pengembangan Agroindustri Berkelanjutan” secara virtual, Kamis (8/12).

Prof. Illah Sailah melanjutkan, peran teknologi proses dalam sebuah industri dapat menentukan tingkat efisiensi, efektifitas, dan produktivitas. Namun dengan adanya isu SDGs, maka pemilihan teknologi proses harus disertai dengan pertimbangan eco efficiency untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Dengan demikian, sambungnya, peran teknologi proses sangat dominan pada peningkatan nilai tambah hasil pertanian, dapat menghasilkan produk bernilai jual tinggi, meminimalkan limbah, atau memanfaatkan limbah menjadi produk yang lebih berguna, memenuhi kebutuhan pasar serta dampaknya pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Namun begitu, kata Prof. Illah Sailah, terdapat beberapa tantangan dalam teknologi proses, yaitu optimasi proses yang menyeimbangkan antara keuntungan secara ekonomi dengan dampak terhadap sosial dan lingkungan.

“Bisa jadi proses yang dipilih akan menguntungkan secara ekonomi, namun menghasilkan polutan yang tinggi, sehingga perlu biaya penanganan limbah yang lebih besar,” katanya.

Ia mengatakan bahwa teknologi proses dapat berperan mentransformasi limbah menjadi produk yang berguna, bahkan mengandung unsur komersiaslisasi produk dengan nilai tinggi.

Ia mencontohkan, buangan pabrik minyak kelapa sawit POME (palm oil mill effluent) mengandung COD, dan BOD tinggi, jika dibuang langsung membahayakan lingkungan. Namun, dengan teknologi proses yang tepat, yaitu elektrokoagulasi, limbah yang terbuang sudah layak dialirkan ke perairan umum.

Di masa depan dengan perkembangan teknologi semakin maju, terang Prof. Illah Sailah, pada bidang agroindustripun harus banyak menyesuaikan dan beradaptasi dengan kebutuhan.

Dimana, agroindustri masa depan akan banyak memerlukan material maju melalui teknologi nano, material untuk aplikasi 3D printing dan produk cerdas, seperti smart packaging.

“Tantangan agroindustri dengan menggunakan teknologi maju adalah keberlanjutan persediaan bahan baku dari sisi kualitas dan kuantitas. Disamping itu, penyediaan sumberdaya manusia yang adaptif dengan kemajuan teknologi akan memerlukan standar kompetensi kerja yang baru,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan, bahwa penciptaan keuntungan ekonomi bukan satu-satunya tujuan utama dalam trend perkembangan industri global. Kondisi tersebut telah berkembang menjadi peningkatan kualitas lingkungan dan masyarakat industri mengunakan konsep eco-efficiency untuk mengukur hubungan keduanya.

Dalam rangka mempertahankan agroindustri tetap beroperasi, ia menyampaikan, maka diperlukan perhatian bukan hanya pada faktor ekonomi, namun operasi agroindustri melalui transformasi sebagai value creation yang memperhatikan faktor sosial dan lingkungan.

Sedangkan dalam rangka menjamin ketersediaan bahan baku yang bersandar pada sebagian besar petani berlahan sempit, maka perlu penguatan kelembagaan persediaan bahan baku.

Ia juga mengatakan, pemilihan teknologi proses senantiasa harus mencakup pengamanan limbah atau produk samping yang dihasilkan. Oleh karena itu, sangat tepat manakala pengembangan agroindustri mengarah pada kawasan industri terpadu (eco-industrial zone) dengan fokus pada keunggulan lokal dan menggunakan teknologi proses nir limbah, menerapkan prinsip green chemistry dan cleaner production.

“Tentunya dari sisi ekonomi, agroindustri perlu cerdas dalam penggunaan tenaga kerja, penghitungan biaya penanganan limbah, mengefisienkan penggunaan energi dan optimalisasi sumberya lainnya,” pungkasnya. (*/Hrs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *