Hiperealitas dapat dipahami kurang lebih sebagai sebuah keadaan dimana kenyataan sudah tidak bisa dipahami lagi baik secara rasional, spiritual, dan imajinasi. Pada awalnya, peradaban dimunculkan dan digerakan oleh ruh keagamaan, kemudian beralih dalam kendali akal-rasional, dan kini peradaban ada dalam kendali naluri liar yang licik dan culas. Naluri itulah yang kini mempengaruhi dan mengendalikan gerak dan perubahan sejarah. Ironinya, naluri itu mendapat legitimasi dari ruh keagamaan dan akal-rasional manusia. Dengan kata lain, ruh keagamaan dan akal-rasional manusia dipengaruhi, dikendalikan dan diarahkan oleh naluri liar, licik dan culas.
Dunia yang kini tungganglanggang seperti “juggernaut” (truk toronton) yang remnya blong dan semua manusia berada didalamnya. Peperangan sebagai sampah peradaban kini dipungut kembali dan dijadikan alat untuk saling meniadakan dan memusnahkan. Sebuah keadaan yang tidak bisa dimengerti secara rasional, tidak bisa dipahami secara spiritual, dan imajinasi yang terliar dalam diri manusia pun sulit untuk mengerti dan memahaminya. Siapa dan ada apa dengan manusia? Pertanyaan reflektif ini harus terus dimunculkan ditengah tengah ketidakpastian keadaan.
Siapa manusia itu? Untuk apa ia hidup di dunia ini? dan akan kemana setelah kehidupan di dunia ini? Inilah pertanyaan kuno dan abadi yang akan dan harus selalu muncul, dan manusia siapapun, dimanapun dan kapanpun harus akrab dengan pertanyaan abadi ini. Manusia, sejatinya memiliki dua kehidupan: kehidupan intern dan kehidupan ekstern. Seringkali atau keadaan memaksa kita untuk selalu fokus pada kehidupan ekstern hingga abai pada kehidupan internnya. Abainya manusia terhadap kehidupan internnya, membuat ia lupa dan bahkan terasing dari dirinya sendiri. Untuk apa semua ini? pertanyaan yang jarang muncul atau tertutupi oleh kesibukannya. Akhirnya, manusia kehilangan makna, nilai dan moral dalam menjalani kehidupannya. Kekeringan spiritual inilah yang membuat manusia resah, galau dan bahkan prustasi.
Dunia yang carut marut dan tunggang langgang ini menandakan abahwa manusia sedang mengalami prustasi, hingga tidak ada jalan keluar untuk mengatasinya. Ketiadaan jalan keluar menandakan bahwa manusia sudah salah tujuan, jalan dan arah yang ditempuhnya, hingga dunia ini menjadi salah arah. Kesalahan yang akan membawa kita terperosok kedalam rawa sejarah.





