BOGORONLINE.com — Pendiri Muhsinin Club, Dewa Eka Prayoga, menyalurkan sedekah sebesar Rp250 juta kepada Yayasan Kampoong Ecopreneur di Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, Senin (9/2/2026).
Bantuan tersebut ditujukan untuk memperkuat program pemberdayaan ekonomi berbasis lingkungan atau ecopreneur, dengan target melahirkan generasi miliarder baru yang mandiri, berkarakter, dan peduli lingkungan.
Dewa menjelaskan, Muhsinin Club merupakan komunitas para dermawan yang memiliki kepedulian sosial tinggi. Sejak berdiri pada 2022, organisasi ini telah menghimpun donasi hingga puluhan miliar rupiah yang disalurkan ke berbagai program kemanusiaan dan pendidikan.
“Kami ingin harta yang kami miliki memberi dampak positif bagi manusia. Karena sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada manusia lainnya,” kata Dewa.
Ia merinci, dana yang terkumpul telah digunakan untuk membina ratusan santri penghafal Al-Qur’an, memberangkatkan 158 hafidz Al-Qur’an secara gratis, serta menyalurkan bantuan berupa beras dalam jumlah besar untuk para santri di berbagai daerah.
Menurut Dewa, dukungan kepada Kampoong Ecopreneur dilandasi kesamaan visi dalam membangun kemandirian ekonomi umat yang berpijak pada nilai keagamaan serta kepedulian terhadap lingkungan.
Sementara itu, Pendiri Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini, menegaskan yayasan yang ia dirikan berfokus mencetak santri yang memiliki kepemimpinan, kekuatan spiritual, kemandirian ekonomi, dan kesadaran lingkungan.
“Cita-cita kami adalah melahirkan santri the next billionaire, seperti Nabi Sulaiman—menjadi pemimpin sekaligus memiliki kekuatan harta,” ujar Jamil.
Kampoong Ecopreneur juga mengembangkan konsep One Family One Ecopreneur, yakni setiap keluarga didorong memiliki satu unit usaha produktif berbasis lingkungan. Program ini tengah dikembangkan di wilayah Sadeng Kolot, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, serta direncanakan diperluas ke daerah lain.
Jamil menyebutkan, pada 2026 pihaknya menargetkan produk pertanian masyarakat binaan mampu menembus pasar ekspor.
“Kami menargetkan tahun ini pemberdayaan masyarakat itu mengekspor ubi ungu dan kopi ke Singapura dan Malaysia. Kami sudah memiliki tim yang memberdayakan masyarakat dan telah mengekspor ubi ungu ke negara-negara itu,” katanya.
Di sisi lain, Kampoong Ecopreneur juga menempatkan isu lingkungan sebagai pilar utama melalui program sedekah oksigen. Dalam kurun tiga bulan terakhir, yayasan tersebut telah menerima donasi sekitar 2.000 pohon kopi dari para donatur.
Selain itu, Institut Pertanian Bogor (IPB) berkomitmen menyuplai ribuan bibit tanaman produktif, seperti nangka, rambutan, dan alpukat, untuk ditanam di kawasan Kampoong Ecopreneur. Dukungan juga datang dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menyatakan kesiapan memberikan satu juta pohon sebagai bagian dari program penghijauan.
“Kami ingin mencetak santri tahfizh preneur—hafizh Al-Qur’an yang memahami tadabur alam, membangun usaha, dan menjaga lingkungan,” pungkas Jamil.
Dengan sinergi antara filantropi, pemberdayaan ekonomi, dan kepedulian lingkungan, Kampoong Ecopreneur diharapkan mampu melahirkan generasi wirausaha tangguh sekaligus berkontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan.





