BOGORONLINE.com – Bentrokan antara warga Desa Sukajaya dengan massa yang mengawal aktivitas alat berat terjadi di wilayah Sukajaya, Kabupaten Bogor, Kamis (6/8/2026). Peristiwa tersebut dipicu masuknya alat berat ke lahan yang diklaim sebagai lahan garapan warga.
Seorang warga Sukajaya bernama Agus menuturkan, aktivitas di lokasi bermula sekitar pukul 07.00 WIB saat para petani menjalankan kegiatan seperti biasa di lahan garapan mereka.
Sekitar pukul 08.00 WIB, kata Agus, alat berat memasuki kawasan tersebut dengan pengawalan sejumlah orang. Ia mengklaim alat berat melintasi lahan pertanian warga sehingga menyebabkan kerusakan pada tanaman yang sedang dibudidayakan.
“Alat berat masuk menerobos lahan milik warga Sukajaya. Nah, mereka tuh arahnya dari bawah dari lahan salah satu warga. Mereka terus aja merangsek masuk nerobos lahan warga yang menyebabkan kerugian pertanian di lahan yang sedang mereka sedang garap. Lahan yang terkena dampak secara langsung tersebut ada yang sedang proses tanam sampai sedang menunggu panen,” ungkap Agus di lokasi kejadian, Kamis (6/8/2026).
Menurut Agus, antara pukul 08.30 hingga 09.00 WIB warga bersama sejumlah pendamping mulai berdatangan untuk menghadang laju alat berat. Dalam situasi tersebut, ia menyebut sebagian warga mengalami tekanan psikologis akibat kerusakan lahan dan kehadiran massa pengawal alat berat yang, menurutnya, merupakan orang-orang yang dikerahkan oleh PT PMC.
“Warga dan pendamping sudah sangat ketakutan, sebagian dari mereka itu ibu-ibu dan bapak bapak yang sudah lanjut usia,” lanjut Agus.
Memasuki pukul 10.00 WIB, Agus mengklaim jumlah massa yang mengawal alat berat terus bertambah. Ia menyebut dua unit alat berat telah mencapai lahan milik seorang warga bernama Anung.
Agus juga mengaku memperoleh informasi bahwa jumlah massa di lokasi mencapai sekitar 400 orang. Klaim tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen.
“Dari informasi yang kami terima, akan lebih banyak preman yang menebos masuk ke Sukajaya. Sekarang sudah ada sekitar 400 preman di tempat kejadian,” ucap Agus.
Situasi disebut mulai memanas sekitar pukul 10.20 WIB dan berkembang menjadi adu argumentasi pada pukul 10.30 WIB. Menurut Agus, bentrokan fisik terjadi sekitar pukul 11.00 WIB.
Ia menuduh sebagian massa membawa senjata tajam dan benda tumpul yang disembunyikan di balik daun pisang.
“Kita melihat dengan mata kepala kita sendiri mereka menggunakan parang, bambu, besi, kayu dan batu untuk mengeroyok warga,” katanya.
Sekitar pukul 11.10 WIB, aparat pemerintah dan kepolisian tiba di lokasi. Namun Agus menilai aparat belum mampu menghentikan bentrokan yang terjadi. Ia juga mengklaim seorang warga sempat mendapat tindakan kekerasan dari aparat.
“Warga kami, Asep sempat dipiting oleh aparat kepolisian. Mereka bukan membela dan menjaga kami justru malah melakukan kekerasan juga terhadap kami,” lanjut Agus.
Agus mengatakan hingga pukul 11.30 WIB sedikitnya 16 warga mengalami luka akibat dugaan pemukulan dan pengeroyokan. Dua orang di antaranya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
“Ada 2 warga kami yang dilarikan ke Rumah Sakit. Pertama Anjar, mengalami luka robek parah dibagian wajah. Satu lagi Asep, sampai saat ini masih di Rontgen karena dikeroyok oleh preman. Situasi terakhir Asep sakit hebat dibagian dada dan kesulitan bernafas,” ujar Agus.
Keterangan serupa disampaikan seorang warga yang meminta identitasnya disamarkan dengan nama Una. Ia mengaku menjadi korban pengeroyokan saat berusaha menghentikan alat berat.
“Saya dikepung, terus dikeroyok sama preman. Saya coba menghentikan alat berat dengan berdiri di depan, ternyata malah mereka mau menabrak saya untungnya sama ditarik sama warga. Selain saya, banyak ibu-ibu lansia yang udah 60 70 tahun juga diseret-seret dan kena pukul oleh preman,” ucap Una.
Menurut Agus, kondisi mulai berangsur kondusif sekitar pukul 12.15 WIB setelah warga yang mengalami luka dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis. Namun, ia mengklaim massa masih berada di sejumlah lahan dan rumah warga.
Ia juga menyebut sekitar pukul 13.00 WIB terdapat warga yang tidak dapat keluar dari lokasi karena masih dikuasai massa sehingga dilakukan evakuasi ke tempat yang dinilai lebih aman. Rumah dan lahan yang disebut masih diduduki massa, menurut Agus, merupakan milik Acang, Agus, dan Ridho.
Pada pukul 14.00 WIB, kata Agus, aparat kepolisian mengundang perwakilan warga dan pendamping untuk mengikuti mediasi dengan pihak PT PMC di Aula Kecamatan Tamansari. Meski demikian, ia mengklaim aktivitas alat berat di lapangan masih terus berlangsung saat proses mediasi akan dilakukan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak PT PMC maupun kepolisian terkait tuduhan pengerahan massa, dugaan kekerasan terhadap warga, serta kronologi bentrokan yang disampaikan oleh para narasumber. Redaksi akan memperbarui pemberitaan setelah memperoleh konfirmasi dari seluruh pihak terkait.




