Mengutip kalimat yang disampaikan oleh mantan perdana menteri Britania Raya, Winston Churchill: “Demokrasi adalah sistem pemerintahan paling buruk, tapi tidak ada yang lebih baik dari itu”.
Demokrasi telah berhasil meruntuhkan kekejaman dan penindasan rezim otoriter dan totaliter (monarki absolut) yang mencabik – cabik nilai-nilai kemanusiaan, merobek nalar-rasional dan merusak kaidah sosial. Tapi Demokrasi juga memiliki penyakit yang bisa mematikan harapan mulia masyarakat. Demokrasi melahirkan hierarki institusional yang menindas, melahirkan pemerintah elitis yang jauh dari rakyat, membuka kesenjangan dan ketimpangan sosial, dan mengesampingkan kualitas. Demokrasi kini sedang sekarat, karena dibajak oleh penguasa dan pengusaha untuk kepentingannya.
Demokrasi menjadi jalan bagi orang – orang yang ambisius dan serakah untuk meraih kekuasaan. Orang – orang ambisius akan menggunakan berbagai cara untuk meriah, menjaga dan melanggengkan kekuasaannya, termasuk menggunakan modal ekonomi dari para pengusaha yang serakah. Sementara, orang – orang serakah (pengusaha) membutuhkan bantuan perlindungan hukum dan keamanan bagi keberlangsungan jalan usahanya. Inilah simbiosis mutualisme antara penguasa dan pengusaha yang menjadikan demokrasi sebagai alat dan cara untuk merebut dan mempertahankan kekuasaannya. Belakangan, para pengusaha pun terjun ke arena politik membeli demokrasi dengan harga yang murah dibanding keuntungan yang akan diraih ketika kekuasaan ada dalam kendalinya.
“Quo Vadis” demokrasi kita? ia sedang sekarat menunggu ajalnya. Tidak ada yang bisa menghidupkan kembali, kecuali menggantinya dengan yang lain?





