Oleh: K.H. Jalaludin Al Mahali, S.Pd. M.M.
Kepala Badan Penge;ola Islamic Center (BPIC) Kab. Bogor
Doktrin liberalisme dalam pendidikan yang ditekankan pada peserta didik telah membuat siswa berlaku tidak etis dan mengabaikan etika moral Islam. Sopan santun dengan guru yang sudah mulai diabaikan hingga tawuran antar pelajar adalah fenomena yang sangat mengkhawatirkan akan terus berkembang pada dunia pendidikan di Indonesia. Bagaimana pendidikan Islam merespon dan menyikapi hal seperti ini? Para ulama Islam sejak dahulu telah merumuskan bagaimana pendidikan Islam mampu memberikan solusi total dalam dunia pendidikan. Salam satu dari mereka adalah Abu Abdillah Syams al Din Muhammad ibn Abu Bakar ibn Ayyub ibn Sa’adkiyanwar ibn Huraiz al Zur’iy al Damsyiqi atau yang dikenal dengan Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah.
Teori pendidikan Islam perspektif Ibnu Qayyim adalah mencakup tarbiyah qalb (pendidikan hati) dan tarbiyah badan secara sekaligus. Adapun konsep pendidikan Islam menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah adalah: Tujuan pendidikan yang diarahkan pada empat aspek tujuan yaitu: tujuan jismiyyah (fisik), tujuan akhlakiyyah (akhlak), tujuan fikriyyah (akal) dan tujuan maslakiyyah (skill). Sasaran pendidikan yang diarahkan pada sembilan sasaran pendidikan yaitu: pendidikan imaniyyah (iman), pendidikan ruhiyyah (rohani), pendidikan ‘athifiyyah (perasaan), pendidikan khulukiyyah (akhlak), pendidikan ijtimaiyyah (bermasyarakat), pendidikan iradiyyah (kehendak), pendidikan badaniyyah (jasmani) dan pendidikan jinsiyyah (seksual). Menurut Ibnu Qayyim seorang guru harus memiliki adab-adab yang harus dipenuhi untuk dirinya sendiri, maupun adab terhadap muridnya. Selain itu beliau juga menghimbau agar seorang guru harus bisa memahami teori kejiwaan anak didik. Menurut beliau seorang murid itu harus memenuhi adab-adab seorang murid yang telah dinasehatkan beliau. Baik adab terhadap gurunya maupun terhadap dirinya sendiri. Selain itu, beliau juga menasehatkan agar seorang murid itu bermulazamah (menyertai) gurunya dan senantiasa ia menuruti nasehat dan petunjuknya. Dalam lembaga pendidikan, Ibnu Qayyim menawarkan lembaga pendidikan yang dilakukan di rumah (keluarga), masjid, majlis ilmu dan madrasah sebagai tempat yang kondusif (cocok) untuk amalan tarbiyah. Sedangkan tanggung jawab dalam pendidikan Islam itu dibebankan di atas pundak bapak, murabbi (pendidik) dan mereka yang bertanggung jawab atas perawatan dan pendidikan anak (keluarga). Dibebankan kepada para nabi, para rasul dan para ulama yang menjadi pewaris para nabi (pendidikan umat secara umum).
Istilah pendidikan berasal dari bahasa yunani terdiri dari kata “pais” artinyaanak dan “again” berarti membimbing.[ Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h.69.] Pendidikan merupakan bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Dengan demikian pendidikan berarti usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang atau ia menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Dengan demikian pendidikan berarti segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dalam anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani.[ Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia,1998), h.l1.]
Pengertian pendidikan Islam secara umum yaitu usaha dan asuhan terhadap anak didik agar kelak esok pribadinya bisa berubah ke arah yang lebih baik dan dilaksanakan berdasarkan ajaran Islam.[ Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta Bumi Aksara, 1995), h.92.] Apabila sasaran pendidikan adalah manusia, maka pendidikan di sini akan membantu peserta didik untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi kemanusiaannya.[ Umar Tirtoraharjo dan Lasula, Pengantar Pendidikan, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Rineka Cipta, 1991), h.1.]
Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan, karena pendidikan juga merupakan sarana mencapai modernisasi. Di sisi lain, pendidikan juga dipandang sebagai passion (kekuatan) yang menjadikan suatu masyarakat atau negara berkembang pesat sejajar dengan negara lain. Mengingat sangat pentingnya pendidikan bagi kehidupan bangsa dan negara maka hampir seluruh negara di seluruh dunia ini menangani secara langsung masalah-masalah yang berhubungan dengan pendidikan. Dalam hal ini masing-masing Negara menentukan sendiri dasar dan tujuan pendidikan di negaranya. Masing-masing bangsa mempunyai pandangan hidup sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, begitu juga dengan penddidikan Islam.
Sejak awal perkembangan pendidikan Islam telah berdiri tegak di atas dua sumber pokok yang amat penting yaitu al-Qur’an dan sunnah nabi di dalam kitab suci ini terkandung ayat-ayat mufasshalat (terinci) dan ayat-ayat mubayyinat (yang memberikan bukti-bukti kebenaran) yang mendorong kepada orang untuk belajar membaca dan menulis serta untuk menuntut ilmu, memikirkan dan menganalisis ciptaan langit dan bumi.
Pendidikan Islam mulai dilaksanakan oleh Rasulullah SAW sebagai Muballigh Agung di tengah masyarakat di rumah arqam bin al arkam di Mekkah. Beliau mengajarkan tentang ajaran Islam dan semua ayat al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, dengan membacakan secara berurutan dan bertahap, pendidikan Islam mempunyai sejarah panjang dan berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri. Dalam konteks masyarakat Arab, dimana Islam lahir dan berkembang, kedatangan Islam sarat akan usaha-usaha pendidikan yang diupayakan untuk menanamkan nilai–nilai ajaran Islam dan sekaligus memperbaiki perilaku masyarakat Arab waktu itu (rahmatal lil ‘alamin).
Pendidikan Islam dalam era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini semakin dipertanyakan keberadaan dan sumbangsihnya, apalagi bila dikaitkan dengan peran dan kontribusinya pada pembentukan budaya modern yang tentu saja sangat dipengaruhi dengan dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan di era modern ini lebih banyak menyentuh kecerdasan akliyat (aspek kognitif) dan kecerdasan ajsamiyat (aspek psikomotorik) dan kurang memerhatikan kecerdasan rukhiyat (afektif). Hal ini terbukti dari produktivitas pendidikan yang banyak melahirkan siswa dan kesarjanaan cerdas dan terampil, tetapi masih banyak siswa yang tawuran, perkelahian, dan lain sebagainya serta masih banyak juga sarjana berdasi yang korupsi, menindas, maling hak rakyat. Semua kejadian ini adalah indikator bahwa pendidikan yang diperoleh siswa belum lengkap. Walaupun ada yang berhasil tapi jumlahnya tidak banyak. Padahal Islam menuntut secara keseluruhan meskipun dengan bijak.[ Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2005), h.5.]
Pendidikan Islam sekarang ini sedikit banyak juga mengalami degradasi fungsional, hal ini dapat diketahui dari kenyataan bahwa pendidikan saat ini semakin berorentasi pada sifat materialistik. Ia cenderung ditetapkan hanya asset nasional yang memiliki fungsi khusus dalam menyiapkan tenaga kerja yang akan memenuhi tuntutan dunia (lapangan kerja) dan bercorak industrialis. Akurasi suatu program kerja pendidikan dilihat dari sejauh mana output pendidikan itu dapat berperan aktif dalam mengisi lapangan kerja yang disediakan oleh dunia industri.[ M. Rusli Karim, Pendidikan Islam dan Transformasi Sosial, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), h.127.]
Meskipun demikian, tentu tidak dapat secara apriori menyalahkan kemajuan teknologi, karena bagaimanapun juga ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi tumpuan harapan manusia. Diharapkan suatu bentuk kehidupan yang paling baik berkat kemajuan yang telah diraihnya, namun pada gilirannya justru harus menanggung resiko yang makin komplek yang mencemaskan batin manusia.
Uraian di atas merupakan gambaran kehidupan pada masa kini dan masa depan yang senantiasa mengandalkan intelektualitas dan logika, tanpa memperhatikan perkembangan mental spiritual dan nilai agama dalam arena kehidupan yang digambarkan oleh para ahli yang cenderung mengatakan adanya suatu kesuraman dan kekusutan karena berbagai dampak IPTEK yang mengerosi nilai-nilai seluruh bidang kehidupan, maka masalah yang muncul kemudian, apa dan bagaimana orientasi pendidikan sehingga bisa memberikan peran yang paling baik.
Memang bila melihat realitas yang berkembang sekarang ini dekadensi moral sangat luar biasa berpengaruh negatif pada masyarakat, khususnya para remaja dan pemuda yang notabene kebanyakan dari mereka adalah siswa.
Metode pembelajaran yang ditetapkan sekolah-sekolah dewasa ini sangat dipengaruhi oleh budaya modernisme yang berkiblat ke dunia Barat yang tentu saja banyak mengabaikan nilai-nilai budaya lokal dan nilai-nilai ajaran agama.
Doktrin liberalisme dalam pendidikan yang ditekankan pada peserta didik telah membuat siswa berlaku tidak etis dan mengabaikan etika moral yang selama ini kita hargai dan junjung tinggi. Dalam satu sisi liberalisme pendidikan yang dalam hal ini di tekankan pada kreatifitas dan memberikan kebebasan berfikir memberikan kontribusi positif, karena dengan demikian peserta didik diharapkan mampu bersifat kreatif dan inovatif dalam berfikir, akan tetapi dampak negatifnya juga tidak ringan karena kebebasan yang didoktrinkan lewat semangat liberalisme pendidikan sangat mereduksi nilai moral dan etika, yang dalam hal ini menyebabkan erosi dan dekadensi moral di kalangan siswa bergeser ke arah perbuatan negatif. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana pendidikan Islam merespon dan menyikapi hal seperti ini.
Berdasarkan persoalan di atas, maka sangat dibutuhkan adanya konsep pendidikan Islam yang komprehensif, universal dan integral yang dapat mendidik manusia dari segala sisinya yaitu; jasad, akal dan ruhnya serta mendidik manusia dari sejak lahir hingga ajalnya. Sehingga diharapkan peserta didik akan memiliki bekal dan perisai dalam menghadapai tuntutan dan tekanan hidup di era global ini. Disini peran seorang pendidik, masyarakat, pemerintah sangat dibutuhkan untuk mencapai cita-cita pendidikan yang masih belum tercapai.
Masyarakat Islam yang berdiri tegak di atas manhaj Allah Azza wa Jalla yang senantiasa memperhatikan individu sejak kelahirannya, mengatur hubungannya dengan Rabb dan penciptanya, juga akan mengatur hubungannya dengan jiwanya sendiri, keluarga, lingkungan sekitarnya dan masyarakat pada umumnya. Ia juga akan memperhatikan urusan masyarakat dan mengatur urusan kehidupannya. Sesungguhnya masyarakat itu terbentuk dari individu-individu yang memiliki kecondongan dan perasaan bermasyarakat, mereka adalah penanggung jawab terhadap masyarakat yang didiaminya dan terhadap kemakmuran dunia, penangung jawab atas tegaknya kebenaran, mendakwahkan, membela dan menyebarkannya kepada manusia. Maka tarbiyah yang ada di dalamnya adalah tarbiyah Rabbaniyatul ghayah (berorientasi ketuhanan), yang hadaf (tujuan) dan sarananya ditetapkan dengan jelas dan bertujuan membentuk dan mewujudkan pribadi yang shalih dan masyarakat yang shalih (baik).
Jadi, masyarakat Muslim itu memiliki konsep tarbiyah yang tersendiri. Tidak akan sesuai bagi mereka pola (sistem) tarbiyah apa pun yang dibangun di atas falsafah sesat, seperti falsafah komunis dan kapitalis. Menerapkan selain tarbiyah Islamiyah dalam masyarakat muslim akan mendatangkan bencana, kecelakaan dan menghapus ashlahah Islamiyah. Tetapi pada kenyataannya, tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat yang kuat dan berkuasa di dunia ini pasti akan menyebarkan falsafah dan pemikiran tarbiyahnya kepada umat-umat yang kalah dan lemah.





