Cijeruk – Dalam kancah dunia pertanian dan peternakan, HPPMI (Himpunan Petani dan Peternak Milenial Indonesia) telah melakukan berbagai kegiatan di bidang tersebut. Dalam sektor peternakan, beberapa tahun silam, HPPMI melakukan usaha penggemukan sapi pedaging varietas lokal. Namun pada saat itu, faktor cuaca tidak terlalu bersahabat. Suhu ekstrim yang terjadi di area peternakan menyebabkan terkendalanya produktivitas sapi yang diternakan oleh HPPMI. Suhu udara yang panas dan hujan turun secara tiba-tiba menyebabkan nafsu makan ternak menjadi berkurang. Ternak sapi mengalami stres akibat cuaca yang tidak menentu pada saat itu. Demikian halnya dengan budidaya bebek yang pernah dilakukan oleh mereka. Walaupun tingkat kematian bebek yang dipelihara sangat rendah, namun pertumbuhannya tidak normal. Bobot dagingnya tidak sesuai dengan yang diinginkan karena bulunya yang tebal.
Namun demikian, pengalaman kegagalan beternak yang pernah dialami oleh para peternak yang tergabung dalam HPPMI tersebut tidak membuat semangat mereka menjadi surut.
Pada kesempatan yang berbeda, Yusuf Bachtiar – Ketua HPPMI Kabupaten Bogor, menceritakan kisahnya tersebut kepada seorang pegawai Kementan yang tidak secara sengaja bertemu di sebuah tempat yang tidak jauh dari lokasi milik HPPMI di Cijeruk – Bogor. Yusuf menceritakan kiprahnya HPPMI dalam dunia peternakan. “Anggota kami pernah melakukan usaha penggemukan sapi pedaging tetapi merugi, karena sapi-sapi yang dipelihara tidak memiliki nafsu makan seperti biasanya, bahkan beberapa ekor sapi ada yang mati. Demikian juga dengan ternak Bebek Peking, tingkat kematiannya rendah tetapi hasilnya tidak maksimal. Masa panen bebek relatif lama yaitu sekitar tiga bulan dan bobot bebek tidak optimal, sedangkan bulunya sangat tebal.” Kata Yusuf kepada media ini. Sabtu (5/4).
Yusuf menyampaikan bahwa pertemuan dan percakapannya dengan seorang pegawai kementerian pertanian (Wahyu Priatno, SE., M.S) berharap bisa mendapatkan bimbingan cara berternak bebek pedaging dan penggemukan sapi yang sukses.
“Kami berharap budidaya bebek pedaging dan usaha penggemukan sapi yang akan dilakukan oleh anggota HPPMI bisa berjalan sesuai yang diharapkan, bahkan mampu menutupi kegagalan dan kerugian masa silam.
Di hari yang sama, pada saat mengunjungi lokasi, Wahyu melihat secara langsung bekas kandang peternakan milik HPPMI. Wahyu mengaku sangat senang dan tidak merasa keberatan jika bisa membantu para peternak khususnya yang tergabung dalam HPPMI untuk melanjutkan usaha peternakannya kembali. “Insya Allah saya siap memberikan bimbingan cara beternak yang berkelanjutan, agar hasil panen bisa optimal sesuai dengan yang diharapkan” tutur Wahyu. Tidak hanya dari aspek budidaya, Wahyu juga menyampaikan skema usaha peternakan yang meliputi pembuatan pakan mandiri, peluang pasar, penanganan pasca panen, serta pengelolaan limbah ternak, agar menghasilkan nilai tambah secara ekonomi.
Sementara itu, Pembina HPPMI Kabupaten Bogor, Andri Sastrahudiah, sebagai penyedia lahan untuk peternakan, tidak mengaku kapok dengan kegagalan yang pernah dialami oleh HPPMI. “Selagi kita masih punya kesempatan dan peluang, hayu bareng-bareng kita bangun kembali. Lahan dan fasilitas yang ada masih bisa digunakan kembali untuk melanjutkan usaha peternakan.” Kata Andri.
Andri mengakui kegagalan yang dialami menjadi pelajaran yang sangat berharga bahkan menjadi motivasi kami untuk bisa berhasil. “Ada rasa kecewa, tapi kami tidak kapok, kita upayakan terus. Dengan cara beternak yang benar yang dibantu oleh tenaga berpengalaman saya yakin peluang untuk berhasil tetap ada. Pengalaman adalah guru yang sempurna. Kami berharap akan mampu mendukung program pemerintah untuk swasembada pangan melalui sektor peternakan“ Kata Andri, optimis. (IST)





