bogorOnline.com-KLAPANUNGGAL
Ratusan hektare lahan persawahan di Desa Bojong, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, kini dalam kondisi kritis. Krisis air irigasi yang terjadi selama hampir lima bulan terakhir membuat para petani terancam gagal tanam dan kehilangan mata pencaharian.
Persoalan ini mencuat ke permukaan dalam agenda Reses DPRD Kabupaten Bogor Daerah Pemilihan (Dapil) II yang digelar di Kecamatan Klapanunggal kemarin.
Salah satu perwakilan petani Desa Bojong RT 11 RW 05, Sanukri atau yang akrab disapa Oking mengungkapkan bahwa mampetnya aliran irigasi ini mulai dirasakan warga sejak adanya pembangunan proyek Perumahan Pesona Kahuripan 13 (PK 13) di wilayah mereka.
Aliran Sungai Terputus dan Saluran “Menggantung”
Menurut Oking, pasokan air yang biasanya melimpah dari Kali Cibarengkok Cilalai kini tidak lagi mengalir ke sawah sawah warga. Meski pihak pengembang sempat membuat saluran air alternatif, infrastruktur tersebut dinilai tidak memadai dan tidak fungsional.
”Dulu saya sudah beberapa kali mengajukan ke pihak PT (pengembang). Katanya nanti musim kemarau pun air tetap mengalir. Tetapi sekarang justru airnya mati. Saluran yang dibuat juga terlalu kecil dan posisinya seperti menggantung, jadi airnya tidak bisa sampai ke sawah,” keluh Oking kepada awak media usai kegiatan reses.
Akibat terhentinya pasokan air ini, ekosistem pertanian di wilayah tersebut lumpuh. Lahan seluas lebih dari 100 hektare kini telantar. Padahal, dalam kondisi normal, para petani di Desa Bojong mampu melakukan siklus tanam hingga dua sampai tiga kali dalam setahun.
”Hampir lima bulan kami tidak bisa menanam lagi. Biasanya selesai panen langsung tanam. Sekarang, sebagian petani yang telanjur menebar benih juga cemas karena tanahnya kering kelontang akibat tidak ada air,” tambahnya.
Perekonomian Petani Penggarap Terguncang
Mampetnya jalur irigasi ini langsung memukul sektor perekonomian warga lokal. Mayoritas petani di wilayah tersebut berstatus sebagai petani penggarap yang sangat menggantungkan hidup dari hasil panen musiman.
Oking mengaku pihaknya tidak tinggal diam. Ia bersama warga telah berulang kali mengadukan persoalan ini ke berbagai instansi terkait, mulai dari Pemerintah Desa Bojong, pihak Kecamatan Klapanunggal, Babinsa, Bhabinkamtibmas, UPT Pengairan, hingga Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bogor.
”Kami sudah mengadu ke mana-mana, bahkan sempat turun langsung bersama dinas terkait ke lokasi. Memang ada respons untuk dibuatkan saluran, tapi kenyataannya sampai sekarang air tetap belum mengalir ke sawah kami,” jelas Oking masygul.
Melalui forum Reses DPRD Kabupaten Bogor ini, para petani menaruh harapan besar agar para wakil rakyat dan pemerintah daerah segera menekan pihak pengembang untuk mengembalikan fungsi irigasi seperti sedia kala.
”Harapan kami sederhana, hanya ingin bisa bertani lagi seperti dulu. Mudah-mudahan keluhan ini segera mendapat solusi nyata,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengembang Perumahan Pesona Kahuripan 13 belum memberikan pernyataan resmi atau konfirmasi terkait keluhan yang disampaikan oleh warga dan para petani Desa Bojong.(rul)





