Dari 15 Kambing, Kelompok Tani Cipicung Bangun Usaha Pertanian-Peternakan Terintegrasi

Daerah, Ekbis14 views

 

SUKABUMI — Berawal dari 15 ekor kambing, Kelompok Tani Cipicung di Desa Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, mulai mengembangkan model usaha yang menghubungkan peternakan dengan kegiatan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan anggotanya.

 

Sejak program dimulai pada 2025 bersama Star Energy Geothermal Salak Ltd. (Star Energy Geothermal), ternak tersebut tidak hanya menjadi sumber pendapatan baru. Kotoran ternak diolah menjadi pupuk organik dan dimanfaatkan kembali di lahan pertanian anggota, sementara kebutuhan pakan dipenuhi secara mandiri dari rumput yang ditanam dengan sistem tumpang sari di antara tanaman buah.

 

Hingga saat ini, kelompok telah menghasilkan sekitar 3,4 ton pupuk organik padat. Tiga ekor kambing betina juga telah berkembang biak dan menghasilkan empat ekor anakan.

 

Apri selaku Ketua Kelompok Tani Cipicung mengatakan, pengembangan peternakan memberikan manfaat yang lebih luas karena dapat diintegrasikan dengan kegiatan pertanian kelompok.

 

“Bantuan ini sangat membantu kami karena kambing yang dipelihara tidak hanya dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan, tetapi kotorannya juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk lahan pertanian. Dengan begitu, kami bisa memanfaatkan sumber daya yang ada secara lebih optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.

 

Dari Kebun Kembali ke Kebun

 

Kelompok Tani Cipicung beranggotakan 40 orang yang aktif di sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Mereka mengelola berbagai komoditas seperti jeruk, cengkeh, pala, dan pisang. Pisang menjadi salah satu sumber pendapatan rutin anggota dengan siklus panen setiap 15 hari.

 

Integrasi pertanian dan peternakan membuat kelompok dapat memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara lebih efisien.

 

Rumput untuk pakan kambing ditanam dengan sistem tumpang sari di bawah tanaman buah. Dengan pola ini, anggota dapat merawat tanaman sekaligus menyediakan pakan ternak ketika bekerja di lahan perkebunan.

 

Sementara itu, kotoran kambing tidak menjadi limbah. Sejak November 2025, kelompok telah mengolahnya menjadi sekitar 3,4 ton pupuk organik yang kemudian didistribusikan kepada anggota untuk digunakan kembali di lahan pertanian.

 

“Sekarang kami tidak hanya mendapatkan manfaat dari kambingnya, tetapi juga dari kotorannya yang bisa diolah menjadi pupuk. Pupuk ini kami gunakan kembali untuk tanaman anggota, sehingga hasil dari peternakan dapat mendukung kegiatan pertanian kami,” ungkap Apri.

 

Pola tersebut menciptakan siklus sederhana di tingkat kelompok: kebun menyediakan pakan bagi ternak, ternak menghasilkan pupuk bagi kebun, sementara perkembangan populasi ternak membuka sumber pendapatan tambahan bagi anggota.

 

Membangun Usaha yang Tumbuh Bersama

 

Pengelolaan peternakan dilakukan secara kolektif. Sedikitnya dua anggota kelompok bertugas setiap hari untuk merawat ternak.

 

Kambing yang berkembang biak juga menjadi bagian dari pengembangan aset kelompok. Empat anakan yang telah lahir direncanakan dijual menjelang Idul Adha sebagai tambahan pendapatan.

 

Kelompok menerapkan mekanisme bagi hasil untuk menjaga agar manfaat ekonomi dapat dirasakan anggota sekaligus memastikan usaha memiliki modal untuk terus berkembang. Sebanyak 60 persen pendapatan dibagikan kepada anggota sebagai insentif, sedangkan 40 persen dialokasikan kembali ke kas kelompok.

 

Kolaborasi Star Energy Geothermal dengan Kelompok Tani Cipicung diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan sumber penghidupan yang dapat dikelola dan dikembangkan secara mandiri.

 

Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan semata sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai pelaku utama yang mengelola aset, mengembangkan usaha, dan menentukan bagaimana manfaat ekonomi yang dihasilkan digunakan untuk memperkuat kelompok.

 

Melalui integrasi peternakan dan pertanian, apa yang bermula dari 15 ekor kambing kini berkembang menjadi sebuah ekosistem usaha sederhana: menghasilkan pendapatan, menyediakan pupuk organik, memanfaatkan sumber daya lokal, dan menciptakan modal untuk pertumbuhan berikutnya.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *