Latih Warga Hingga Bentuk Forum Pengurangan Resiko Bencana

Cuaca ekstrem masih akan terjadi hingga awal tahun nanti. Untuk itu warga Kota Bogor harus berhati-hati atau waspada setiap terjadi hujan, khususnya warga yang tinggal di wilayah rawan bencana banjir, tanah longsor dan angin puting beliung (selengkapnya lihat grafis,red).

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor juga berikhtiar dengan melakukan sosialisasi kepada warga di wilayah rawan bencana tersebut dan melakukan langkah antisipasi terjadi bencana tersebut.

“Di Bogor Selatan ada daerah rawan kekeringan, yakni di Mulyaharja serta rawan angin puting beliung di Kelurahan Genteng,” kata Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Bogor, Priyatnasyam.

Pihaknya juga melakukan kordinasi dengan wilayah. Terutama dengan Kelurahan Tangguh Bencana, yang sudah dibentuk. Mereka adalah warga sudah dilatih untuk menanggulangi bencana. Selain itu, masing – masing kelurahan juga dibentuk forum pengurangan resiko bencana. Untuk piket di BPBD sendiri disiagakan selama 24 jam.

“Dalam musim penghujan ini kita tingkatkan eskalasinya, dibanding dengan bulan – bulan yang sebelumnya. Sampai Desember yang diprediksi BMKG, kita siagakan di titik – titik tersebut,” terangnya.

“Kami ada pusdalops dengan nomor 088809112569, bisa langsung menghubungi itu jika ada bencana. Kami lakukan dulu assesment tergantung dari tingkat bencananya. Nanti baru tim reaksi cepat yang bergerak. Apa yang harus dia lalukan dan peralatan yang harus disiapkan dan dibawa,” tutupnya.


Sementara itu di wilayah Bogor Barat kerap menjadi langganan longsor. Camat Bogor Barat, Juniarti Estiningsih meminta semua masyarakat di Bogor Barat menekankan program- menghijaukan lingkungan.

“Kita terus antisipasi juga dengan menerapkan kondisi penghijauan. Masyarakat harus menanam pohon untuk lahan-lahan kosong. Sekecil apapun pemanfaatan lahan terkait penghijauan ini akan mengurangi eksistensi terkait dengan bencana lingkungan. Baik itu bencana yang sifatnya rendah, sedang, maupun berat,” tegas Juniarti pernah menjabat Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor ini.

Dirinya bersyukur, kesadaran itu mulai dijumpai di sebagian besar kelurahan. Buktinya, Bogor Barat menempatkan wakilnya sebagai finalis pada lomba kebersihan dan lingkungan yakni Bogorku Bersih. Antusiasme masyarakat dalam menjaga lingkungan sudah bisa ditakarnya melalui kebersamaan sederhana semacam itu.

Pihaknya pun terus menggalakkan upaya penghijauan melalui penanaman pohon secara terus-menerus. Salah satunya, dengan menyebar 2.100 pohon sukun di seluruh wilayah Bogor Barat. Selain fungsi penghijauan, ketahanan pangan masyarakat juga bisa terjaga.

“Kita bekerja sama dengan Gerakan Tanam Pohon (GTP). Karena di masa pandemi ini banyak titik, khususnya wilayah tepi sungai atau masyarakat-masyarakat di bagian dalam, tingkat kemiskinannya bertambah karena terdampak Covid-19 juga, apalagi kekurangan bansos. Jadi, sukun itu bisa jadi pengganti makanan pokok,” bebernya.

Program penghijauan dengan pohon sukun itu sekaligus untuk menjaga kelangsungan ketahanan pangan masyarakat. Menurut Esti, kandungan karbohidrat dalam sukun itu juga tergolong tinggi. Masyarakat bisa menjadikannya alternatif pengganti nasi dalam kondisi darurat di 16 kelurahan tersebut. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *