Oleh: Yayat Supriyatna
Manajer Pendidikan SIT Asy – syifa Qolbu dan Praktisi Pendidikan
Di abad 21 dan seterusnya, pengetahuan akan menjadi alat yang efektif dalam menaklukan sebuah negara. Siapa yang mengusai pengetahuan ia akan mengusai sejarah atau peradaban manusia. Dalam lintasan sejarah peradaban manusia kita mengetahui bahwa tegaknya peradaban Yunani kemuncukannya digerakan oleh filsafat, untuk kemudian, peradaban Islam mengambil alihnya melalui era keemesannya dimana kala itu kecintaan kepada ilmu pengetahuan telah menggerakan umat islam untuk menerjemahkan berbagai karya diantaranya karya kaum filosof Yunani untuk kemudian dikembangkan dalam perspektif keislaman yang akhirnya Islam sebagai sebuah peradaban menyinari dunia melalui ilmu pengetahuan, dan akhirnya sampai sekarang sejak masa renasiance, Barat mengambil alih peradaban mulia dan agung itu dengan menjadikan materilisme sebagai payung yang menutupi peradaban dunia hingga kiwari.
Ilmu pengetahuan mustahil akan muncul tanpa budaya literasi (membaca) didalamnya. Dengan membaca manusia akan berfikir (merenung, menelaah, menganalisa) hingga lahir darinya kreatifitas dan inovasi yang tidak akan pernah berhenti menciptakan berbagai kebutuhan manusia. Jika budaya baca disebuah negara lemah dan lambat, maka perubahan, perbaikan dan kemajuan negara tersebut pun akan lambat dan lemah. Survei memberitahu kita bahwa budaya baca orang Indonesia baru mencapai 0,001% dari jumlah penduduknya. Ini menandakan minat baca yang masih rendah yang akan merendahkan negeri dan bangsanya sendiri. Realitas ini tidak sejalan dengan visi yang diusungnya, yakni: “Mencerdaskan kehidupan bangsa”
“Mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah tugas sub-sistem dari sebuah negara, yaitu sistem pendidikan. kecerdasan dimaksud adalah, cerdas secara intelektual (IQ), cerdas secara emosional (EQ), dan cerdas secara spiritual (SQ). dengan demikian pendidikan adalah upaya transfer pengetahuan, transfer nilai, dan transfer pengalaman kepada peserta didik, agar mereka (peserta didik) menjadi pribadi – pribadi yang memiliki pengetahuan tentang dunia dengan segala permasalahannya, hingga mereka dapat berkreasi dan berinovasi menciptakan sesuatu untuk kebergunaan dan kemanpatan hidup bersama, agar peserta didik cerdas dan cakap secara emosional dan social, hingga mereka menjadi pribadi – pribadi yang baik yang bisa diterima oleh masayarakat, menyatukan masyarakat dan akhirnya bisa menggerakan masyarakat kearah yang lebih baik, dan agar peserta didik memiliki kedekatan secara intim dengan Allah SWT, hingga mereka bisa memiliki sikap ikhlas, sabar, dan tawakal kepada Allah SWT.
Untuk mewujudkan atau merealisasikan hajat mulia diatas (mencerdaskan kehidupan bangsa), maka terlebih dahulu pendidikan harus memiliki strategi atau cara, bagaimana mencerdaskan guru – guru yang akan mencerdaskan peserta didik? Untuk mencerdaskan kehidupan guru, maka mengasah akal-pikiran dan hati-nurani menjadi sebuah keharusan, alat untuk mengasah itu adalah “membaca”. Dengan membaca, manusia akan terbuka akalnya dan tersentuh hatinya, akal yang terbuka dan hati yang bersih mendorong manusia untuk mengetahui, mengerti, dan memahami segala sesuatu yang dilihat dan dirasakannya. Dengan membaca manusia akan selalu terbarukan dalam cara pandang (melihat masalah), terbarukan dalam sikap dan pendirian, dan terbarukan dalam perbuatan. Bagi seorang guru itu sangat penting, seiring perubahan zaman yang semakin akseleratif (terbarukan). Maka guru pun harus sering merubah cara beripikir, bersikap dan bertindak kaitannya dengan pergerakan dan perubahan di dunia pendidikan.
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) menjadi sebuah gerakan yang harus disikapi dan diapresiasi secara kreatif dan inovatif. Sekolah seharusnya merespon gerakan literasi sekolah ini diantaranya melalui kegiatan guru membaca dan guru menulis. Gerakan ini diharapkan bisa berdampak luas baik secara intern (sekolah) dan ekstern (masayarakat secara luas). Gerekan Literasi ini untuk meneguhkan dan mengukuhkan cara pandang guru guru Indonesia dalam melihat, menguatkan, membesarkan, dan memajukan pendidikan di Indonesia.
Bangsa yang maju, akan lahir dari system Lembaga Pendidikan yang maju, Lembaga Pendidikan yang maju hanya bisa digerakan oleh guru – guru yang berfikiran luas, maju, dan jauh kedepan, dan guru yang berfikiran luas, besar, jauh, dan maju kedepan adalah guru – guru yang memiliki kesadaran tinggi untuk rajin membaca.
Sekolah sebagai kawah candradimuka intelektualisme menjadi sebuah ironi jika didalamnya budaya baca rendah. Budaya akan tercipta melalui kesadaran dan pemaksaan. Jika kesadaran belum tumbuh, maka harus ada system yang memaksa yang membuat siapapun terpaksa-terbiasa-bisa-luarbiasa. Karena budaya baca masih rendah berkait dengan kesadaran, maka setiap sekolah harus memiliki system dalam menciptakan budaya baca yang tinggi.
Sekali lagi perlu kita ingat dan sadari bahwa pengetahuan menjadi instrument yang paling penting dalam menaklukan sebuah negara. Maka bangsa yang bodoh akan menjadi objek penaklukan bangsa yang berpengatahuan.





