Oleh: Yayat Supriyatna
Manajer Pendidikan SIT Asy – syifa Qolbu dan Praktisi Pendidikan
Karena manusia lahir kedunia ini tidak diminta dan tidak bisa memilih dari seorang ibu yang mana, dari tempat mana, dan di waktu kapan. Inilah makna dan hakikat kemerdekaan sejati manusia. manusia dalam hal ini adalah makhluk yang memiliki keinginan, harapan, kemauan dan kehendak yang bebas, maka tidak berhak siapapun dan atas nama apapun untuk membatasi, mengekang dan bahkan menghilangkan kebebasan / kemerdekaan manusia. namun persoalan akan timbul ketika manusia yang sama – sama bebas bertemu diruang keluarga, ruang kelompok, dan ruang public. Kebebasan atau kemerdekaan dimaksud akan bersentuhan dan beririsan dengan yang selainnya. Dari sinilah dialog dan negoisasi terjadi untuk mencari solusi dalam mempertemukan dan bahkan menyatukan perbedaan, karena jika masing masing kemerdekaan itu dibiarkan lepas semaunya maka kekacauan dan ketidakstabilan ruang kehidupan akan terjadi yang akan berujung pada intrik, polemic dan konflik baik pada skala kecil, sedang, besar.
Ketika manusia merdeka itu mencoba membuka secara perlahan akal-pikiran dan hati-nuraninya, ia akan mengeluarkan keingintahuannya atas segala sesuatu yang dilihat, didengar, dan dirasakannya. Dalam hal ini manusia sebenarnya bebas untuk mengetahui berbagai hal yang ingin ia ketahui. Dari sinilah kemerdekaan berfikir hadir tegak berdiri yang tidak bisa dibungkam oleh siapapun, apapun, dan atas nama apapun. Keingintahuan alamiah pada manusia terjadi ketika manusia berada dalam uisa balita (masa sekolah TK), apapun dipertanyakan, bukankah ini lahir dari rasa penasaran karena ingin mengetahui apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya. Keingintahuannya yang tak terbatas dan tak terbendung ketika usia balita itu terhenti dan dibungkam ketika ia mulai masuk ke sekolah dasar dan seterusnya. Keingintahuannya dibatasi oleh mata pelajaran yang harus diterimanya, dan setiap anak dipaksa harus mendapatkan nilai sempurna diseluruh mata pelajaran yang tidak pernah bisa diraih oleh guru dan orangtua manapun ketika mereka sekolah. Pertanyaan fundamentalnya adalah: “apakah mata pelajaran itu dibutuhkan anak – anak?” dan “apakah mata pelajaran itu diminati atau disukai olehnya?” pertanyaan mendasar ini menguap ketika system Pendidikan itu dominative dan hegemonic untuk kepentingan kekuasaan. Bagaimana mungkin seekor katak diajari terbang seperti burung?, bagaimana mungkin pohon pisang dipaksa untuk berbuah durian, atau harus menumbuhkan berbagai jenis buah? Itulah Pendidikan kita selama ini, Pendidikan yang memaksa dan menindas.
Mungkin dari asumsi inilah Mentri Pendidikan mengeluarkan antithesis dengan menawarkan “merdeka belajar”. Apa itu merdeka bekajar? Mengapa harus merdeka belajar? dan bagaimana merdeka berlajar itu dijalankan? Merdeka belajar yang ditawarkan pak mentri adalah pada aspek metode pembelajaran, dimana ilmu pengetahuan yang berserak tidak cukup dialas oleh kurikulum yang ada, maka pengembangan metode belajar menjadi pilihan untuk mengetahui berbagai hal diluar jangkauan kurikulum. Karena bisa jadi, diluar jangkauan kurikulum itulah sebenarnya yang harus diketahui oleh peserta didik. Jika demikian adanya, maka konsep merdeka belajar baru menjawab pertanyaan filosofis (baca: pragmatism) “bagaimana merdeka belajar itu dijalankan”. Mungkin karena latar belakang pak mentri selaku penguasaha yang sukses maka cara berfikir pragmatis menjadi sulit untuk dihindari.
Kata merdeka belajar mengandung makna filosofis yang dalam dan luas yang seharusnya terlebih dahulu menjawab pertanyaan fundamental “apa dan mengapa merdeka belajar itu?” tanpa bisa menjawab persoalan fundamental ini, maka “merdeka belajar” akan kehilangan makna, hakikat atau ruhnya.
Secara alamiah ketika manusia membuka akal-pikiran dan hati-nuraninya, ia akan mempertanyaan segala sesuatu yang dilihat, dirasakan, dan didengarnya, kemudian ia akan berusaha mencari jawaban, jawaban yang sangat diharapkan adalah jawaban yang benar, dan kebenaran yang dibutuhkan adalah kebenaran yang asli, murni, suci, dan mutlak. Maka mencari kebenaran yang mutlak adalah kebutuhan fundamental manusia. Dimana kebenaran yang mutlak itu berada? Jawaban atas pertanyaan ini akan masuk keranah falsafah / ideologi / agama. Maka “merdeka belajar” seharusnya adalah bebas bagi manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran yang mutlak itu dan kemudian menjalakannya, karena kebenaran mutlak itu kebutuhan hakiki manusia yang lahir dari sifat alamiah yang tidak mau salah dan disalahkan, ia ingin benar dan dibenarkan.





