“QUO VADIS” SEKOLAH PENGGERAK?

Headline, IPTEK997 views

Oleh: Yayat Supriyatna

Manajer Pendidikan SIT Asy -syifa Qolbu & Parktisi Pendidikan

Menurut seorang filosof Yunani, bahwa setiap yang “ada” dalam keadaan mengalir atau bergerak / berubah. Mengalir, bergerak, dan berubah mensyaratkan adanya tujuan, maka hakikatnya setiap yang ada di muka bumi ini bertujuan. Tujuan itulah yang menjadi standar / ukuran bagi setiap yang ada dan akan menjadi identitasnya.

Tujua yang akan membuat sesuatu / seseorang itu bergerak dan berubah, dan dengan tujuannya itulah sesuatu / seseorang itu memiliki identitas. Ketika tujuannya tidak jelas, maka identitasnya tidak jelas, ini akan berpengaruh pada gerak dan perubahannya pun tidak jelas. Ketika tujuannya salah, maka identitas dirinya pun akan salah, dan gerak serta perubahan yang dilakukannya pun akan salah.

Sejak kapan sekolah itu ada? Untuk apa ia diadakan? Mengapa ia harus ada? dan bagaimana keberadaannya sampai sekarang? Seperti apa jawaban – jawaban atas pertanyaan mendasar ini, seperti itulah falsafah / paradigma / pandangan dunia (system nilai) yang memberinya identitas dan memberinya tujuan, arah, dan jalan bagi sekolah dalam bereksistensi dalam ruang dan waktu yang terus berubah dan bergerak. Sekolah adalah suatu lembaga yang berani mengambil tanggungjawab untuk mendidik manusia. Untuk apa Pendidikan diberikan manusia? Jawaban atas pertanyaan ini diberikan oleh berbagai pakar dengan satu kesimpulan atau jawaban adalah: Pendidikan dilakukan tiada lain untuk “memanusiakan manusia”. Manusia seperti apa yang dikehendaki Pendidikan? Pertanyaan ini akan mengejar pada pertanyaan final, untuk apa manusia diciptakan? Jawaban atas pertanyaan ini tidak mungkin bisa dijawab utuh oleh manusia, ia harus dijawab oleh pencipta manusia, karena hanya DIA yang paling tahu untuk apa ia menciptakan manusia. Maka hakikat dan sejatinya Pendidikan itu mengacu kepada pengetahuan dan pemahaman tentang hakikat penciptaan manusia. Dengan kata lain Pendidika sejatinya dikembalikan pada penciptanya. Darisinilah tujuan itu tergambar dengan jelas dan pasti, hingga pergerakan dan perubahan itupun akan berjalan secara jelas dan pasti menuju tujuan hakikinya.

Ketika sekolah belakangan diasumsikan berjalan apa adanya dan seadanya atau dengan kata lain beku dan diam, yang dilakukan itu itu saja dan pengulangan. Menteri Pendidikan memberikan antithesis atas persoalan ini dengan menawarkan “Sekolah Penggerak”. Untuk apa sekolah penggerak hadir? Mengapa ia harus dihadirkan? dan bagaimana menyelenggarakan sekolah penggerak? lagi – lagi pertanyaan ini penting, mendesak dan mendasar diajukan untuk memastikan bahwa kehadiran Sekolah Penggerak itu memang solusi alternatif dari kebekuan dan kemandekan sekolah selama ini. Untuk bisa memastikannya perlu pula memastikan tujuan dari kehadirannya. Seperti apa tujuan dari kehadiran sekolah penggerak? Tujuan yang benar, baik dan tepat akan memastikan gerak dan perubahan yang diidealkan oleh sekolah penggerak menjadi benar, baik, dan tepat sesuai dengan kebutuhan mendasar akan penyelenggaraan Pendidikan yang ideal. Akhirnya yang harus dipastikan adalah, tujuan dari sekolah penggerak itu harus lahir dari tujuan Pendidikan itu sendiri. Akhirnya sekolah penggerak harus dipertanyakan landasan filosofisnya kaitan dengan falsafah / paradigma / pandangan dunia sepeti apa yang menginsfirasinya? Karena melalui falsafah / paradigma / pandangan dunia itulah sekolah penggerak menjadi jelas identitasnya dan jelas pula tujuan, jalan, dan arah yang akan ditempuhnya.

Sekolah Penggerak seharusnya bukan hanya membuat cara / metodologi bagaimana Pendidikan itu dijalankan, bicara metodologi / cara bersifat spekulatif yang akhirnya coba – coba. Sekolah penggerak harus memberi kepastian tentang tujuan, jalan dan arah dan itu menyangkut aspek paradigma / pandangan dunia yang menginpirasinya. “Quo Vadis” sekolah penggerak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *