Sebagai organisasi dan gerakan berbasis keagamaan, kepemimpinan di Muhammadiyah perlu mengakomodasi kalangan yang memiliki kualifikasi dan kompetensi di bidang keagamaan. Sejauh ini, Muhammadiyah telah menunjukkan praktik baik kepemimpinan yang searah dengan ketentuan tersebut. Praktik baik ini harus dipertahankan. Tentu, akan menjadi pertanyaan publik secara luas apabila pimpinan di level puncak tidak memenuhi kriteria di bidang keagamaan tersebut, mengingat Muhammadiyah telah dikenal karena karakter dan identitas keagamaannya. Apalagi, Muhammadiyah juga memiliki semangat kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, pun demikian Kepemimpinan di Muhammadiyah Juga haru memiliki pemgalaman dan wawasan keilmuan multidisipliner; tidak hanya ilmu keagamaan tetapi diperkuat juga dengan wawasan keilmuan lainnya. Di samping itu, pemimpin juga harus memiliki pengalaman dan pergaulan dengan berbagai kalangan (syamsul A )
Menurut Ayahanda Syafiq A. Mughni, di jurnal kepemimpinan Muhammadiyah Abad ke – 2, Kepemimpinan itu amanah, yang dimensi pertanggungjawabanya tidak hanya duniawi tetapi juga ukhrawi, prasyarat yang diperukan ialah komitmen, Muhammadiyah memerlukan pemimpin – pemimpin yang memiliki komitmen kuat terhadap organisasi, mereka adalah orang – orang yang seharusnya selalu berijtihad dan berjihad untuk memajukan Muhammadiyah, pemimpin juga memerlukan wawasan yang luas tidak hanya memahami Muhammadiyah saja tetapi juga dinamika masyarakat secara umum, selain itu juga memiliki ketrampilan manajerial , pemimpin Muhammadiyah memikul amanah untuk melaksanakan keputusan – keputusan organisasi , tanpa kemampuan manajerial tidak mungkin pemimpin mampu melaksanakan amanah dengan baik.
Membuka kembali memori kita pasca Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-20 di Stikes Muhammadiyah Ciamis Tahun 2015, dengan segala macam pemahaman dan presepsi seluruh kader persyarikatan jawa barat, khususnya para pemegang mandate Musyawarah saat itu, kita tentunya mengambil pelajaran yang pahit dan berharga, dari hasil Musywil yang kemudian harus menjadi ketetapan yang mungkin tidak berkenan bagi sebagian kader Persyarikatan, tetapi merupakan keputusan Organisasi sesuai dengan ruh Muhammadiyah.
Demikianpun dalam proses perjalanan kepemimpinan , Pemegang kendali Persyarikatan Jawa Barat harus memilih jalan kebangsaan, beritikad untuk mengabdi di ranah kebangsaan meskipun belum diberi kesempatan untuk melaksanakan niat baiknya.
Regenerasi dan kaderisasi kepemimpinan menjadi persoalan yang sangat penting dan strategis, yaitu untuk menyiapkan lapisan kepemimpinan di arena persyarikatan, arena keumatan dan arena kebangsaan dan kenegaraan. Maka dari itu kalimat komitmen para pimpinan yang disebutkan diatas kiranya perlu di pertegas di permusyawaratan kali ini, baik untuk kalangan Muda terlebih golongan tua.
Membaca dan melihat hasil Muspimwil dengan ditetapkanya 39 Calon Tetap Pimpinan dominasi Anak Muda berada di urutan teratas, saya hanya melihat 20 suara tertinggi sepertinya seimbang antara generasi Muda dan tua ,
Disana ada Anak muda yang bisa manjadi referensi dan alternative kepemimpinan PWM Jawa Barat , Saudara Feryal Abadi saat ini sebagai sekretaris PDM Kabupaten Bekasi,kang Iu Rusliana Mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, Kang Ijang Faisal saat ini juga aktif di Komisi Penyiaran , kang Naufal Ramadhian mantan Ketua PDM Kabupaten Bogor / Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Bogor, Kang Muharrom Universitas Muhammadiyah Bandung, Kang Maman Lukmanul Hakim dan Kang Zaenal Ikhsan mantan Pemuda Muhammadiyah Jabar.
untuk Generasi Tua saya kira Ketua dan Sekretaris PWM saat ini masih dibutuhkan semangat dan pemikiranya , H. suhada dan Kang Jamjam Erawan, Ustd. Dadang Syaripudin dengan konsep kaderisasinya, bapak Muhammad Gopar ketua PDM Kabupaten Bogor dengan idiopolitiernya, Prof. Dahlan dengan keilmuan akademiknya.
Tentunya PDM , PCM, PRM yang mempunyai mandat suksesi Kepemimpinan Muhammadiyah Jawa Barat Muswil ke – 21 telah memiliki catatan – catatan / profil calon Pengurus PWM lima tahun kedepan.
kita berharap kepada 39 calon Pimpinan Muhammadiyah Jawa Barat, siapapun yang nanti dimandatkan musyawirin mampu menjaga Komitmen memimpin persyarikatan,
selamat bermusyawarah dengan bergembira , mari kita Memajukan Jawa Barat, Mencerahkan Indonesia, Fastabiqul Khairaat.
dari berbagai sumber.





