Manusia adalah mahluk tiga dimensi: pertama, sadar diri. Kesadaran diri sejatinya lahir dari pemahaman akan nilai yang telah diseleksi secara ketat melalui fakultas akal pikiran. Melalui nilai yang diyakininya sebagai kebenaran akan membentuk identitas dirinya. Mengetahui identitas diri sama dengan mengetahui siapa dirinya, ada dimana dan harus berbuat apa? Nilai seperti apa yang bisa menghadirkan sosok manusia sepert itu? Dari sinilah ilmu, fisafat dan agama lahir dan turun mencari dan memberi tahu tentang eksistensinya di muka bumi ini.
Kedua, kehendak bebas. Manusia adalah satu satunya mahluk yang memiliki kehendak bebas untuk memikirkan dan tidak memikirkan, untuk merasakan dan tidak mau merasakan dan melakukan atau tidak melakukan apapun. Kehendak bebas adalah sifat Tuhan yang hanya diberikan pada manusia. Dengan sifatnya inilah manusia menjadi mahluk yang bermoral.
Ketiga, kreatifitas. Melalui daya kreatifitasnya inilah peradaban lahir, tumbuh, berkembang dan maju. Salah satu alat dan caranya adalah dengan adanya perubahan dan kemajuan sain-tekhnologi. Perubahan sain dan tekhnologi bagaikan pedang bermata dua, ia bisa memberi manfaat seluas luasnya dan ia pun bisa memberi mudharat selebar lebarnya. Tekhnologi telah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan, termasuk di dunia Pendidikan. Perubahan dan kemajuan tekhnologi itu diantaranya dengan kemunculan ChatGPT sebuah chatbot AI berupa model bahasa generatif yang menggunakan teknologi transformer untuk memprediksi probabilitas kalimat atau kata berikutnya dalam suatu percakapan ataupun perintah teks. Aplikasi ini akan menggeser peran guru atau dosen dalam Pendidikan atau pengajaran dan dalam membuat sebuah karya ilmiah. Dan berbagai aplikasi lainnya yang memberikan kemudahan bagi para pelajar dan mahasiswa untuk mengetahui lebih dulu dan menguasai lebih pandai. Bahkan diprediski, kecerdasan buatan ini akan mengalahkan kecerdasan manusia. Inilah yang menjadi ancaman bagi dunia Pendidikan baik pada ranah infrastruktur yang bisa jadi pada masa yang akan datang ada sekolah digital yang tidak memerlukan bangunan sekolah. Maupun pada ranah sumber daya manusia (guru dan dosen).
Tekhnologi adalah alat termasuk dalam dunia Pendidikan, sebagaimana alat pada umumnya ia bisa digunakan atau tidak atau bahkan disalahgunakan. Ini semua tergantung pada manusia yang menciptakan, memegang dan mengendalikannya.
Adapun yang masih bisa dijadikan peluang terbesar bagi dunia Pendidikan adalah, Pendidikan focus pada penanaman nilai untuk menjawab kebutuhan dasar manusia yang dengan kebutuhan itu manusia memiliki kesadaran tertinggi dan terdalam hingga ia mengatahui dan memahami apa yang harus dilakukannya, termasuk sikapnya pada tekhnologi. Manusia yang memiliki kesadaran terdalam tentang hakikat dirinya akan menempatkan kehendak bebas dan kreatifitasnya memiliki tujuan, jalan dan arah yang benar, baik dan tepat sesuai dengan kebutuhan, masalah dan tantangannya. Kehendak bebas dan kreatifitas yang mengakar pada kebenaran dan kemaslahatan akan menjadikan kebebsan berkehendak dan berkreasi dalam hal ini memiliki tanggungjawab moral untuk menjaga dan menyelamatkan keberlangsungan kehidupan manusia. (*)
Artificial Intellegence (AI) Ancaman atau Peluang bagi Dunia Pendidikan?





