BOGORONLINE.com – Prevalensi obesitas dan diabetes mellitus dari tahun ke tahun terus meningkat baik di dunia maupun di Indonesia.
Di Indonesia diperkirakan angka obesitas mencapai 21,8 persen (2018) dan diabetes 10,6 persen (tahun 2021 untuk umur 20-79 tahun).
Hal itu dipaparkan Guru Besar Departemen Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University Profesor Hasim dalam penyampaian pra orasi ilmiah bertajuk Potensi Herbal Indonesia sebagai Antiobesitas dan Antidiabetes secara virtual melalui zoom meeting, Kamis (19/10/2023).
Profesor Hasim lanjut menjelaskan obesitas dapat mengakibatkan peningkatan mortalitas dan morbiditas yang signifikan terkait dengan penyakit kardiovaskular (jantung koroner, hipertensi, stroke), diabetes tipe 2, sindrom metabolik, dan kanker.
Obesitas juga bertanggung jawab atas 80-85 persen perkembangan diabetes tipe 2. Ia mengatakan, riset antiobesitas dan antidiabetes mellitus terus dilakukan, terutama yang bersumber dari herbal.
“Penelitian yang kami lakukan terdiri dari metode in silico, in vitro dan in vivo menggunakan tikus sebagai hewan coba,” katanya.
Ia menambahkan hasil meta-analisis yang dilakukan, diperoleh 10 tanaman terbaik di Indonesia yang memiliki potensi antiobesitas.
Ke 10 tanaman itu yakni daun kelor (Moringa oleifera), daun kemangi (Ocimum basilicum), daun asam jawa (Tamarindus indica), buah asam gelugur (Garcinia atroviridis), dan rimpang lengkuas (Alpinia galanga).
Kemudian, rimpang kencur (Kaempferia galanga), daun kumis kucing (Orthosipon aristatus), daun jambu biji (Psidium guajava), serai wangi (Cymbopogon nardus), dan kayu secang (Caesalpinia sappan).
Dari studi in silico potensi antiobesitas melalui interaksi senyawa aktif dengan enzim lipase pankreas dengan metode molecular dokcing, terang Profesor Hasim, diperoleh ligand terbaik yang berasal dari daun kelor (Moringa oleifera), yaitu kaempferol; daun kemangi (Ocimum basilicum), α-amyrin; kayu secang (Caesalpinia sappan), hematoksilin; daun jambu biji (Psidium guajava), asam jakumarat; buah asam gelugur (Garcinia atroviridis) dan serai wangi (Cymbopogon nardus).
Senyawa yang sama, 2-hidroksimetil-5-metoksifuranokromon glukosida; kumis kucing (Orthosipon aristatus), likoagrosida A; kencur (Kaempferia galanga), 2,4-bis(4-hidrokdibensi) fenol.
Herbal dengan potensi antidiabetes antara lain angkak dan bekatul (Oryza sativa L), batang kayu ular (Strychnos lucida), daun murbei (Morus alba L.), kulit kopi arabika gayo (Coffea arabica L.), dan daun serai wangi.
Ia mengatakan, berdasarkan kajian tanaman obat sebagai obat herbal antiobesitas dan antidiabetes yang terdaftar pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia 5 tahun terakhir (2019-2023), diperoleh irisan potensi herbal yang memiliki aktivitas antiobesitas dan sekaligus antidiabetes antara lain daun jati belanda (Guazuma umifolia), kunyit (Curcuma domestica), madu (Mel depuratum), lidah buaya (Aloe vera), teh hijau (Camelia sinensis), meniran hijau (Phyllanthus niruri), daun binahong (Anredera cordifolia), mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), propolis dan kulit manggis (Garcinia mangostana).
“Hasil kajian kami, potensi antiobesitas tanaman obat secara bibliometrik melalui vos viewer pada rentang waktu 2012-2021 diketahui bahwa peningkatan penelitian antiobesitas signifikan terjadi pada tahun 2015,” katanya.
Adapun tema besar penelitian yang tercatat yakni penemuan kandidat senyawa aktif dari bahan alam yang berpotensi sebagai antiobesitas, profil dan manajemen obesitas, antiobesitas melalui peningkatan pengeluaran energi, penurunan berat badan serta penelitian terkait ekspresi gen yang bertanggung jawab dalam perkembangan kondisi obesitas.
Selanjutnya, pengembangan riset tanaman herbal antiobesitas dan antidiabetes selanjutnya adalah formulasi kombinasi berbagai herbal yang berkhasiat.
“Biodiversitas tanaman herbal adalah anugerah Allah SWT bagi bangsa Indonesia yang harus disyukuri melalui pemanfaatannya dan dapat menjadikan Indonesia sebagai apotek dunia,” tandasnya. (*)





