Bima Arya, Pancasila Dan NKRI Harga Mati

Kota Bogor – bogorOnline.com
Terkait kedatangan Bima Arya ketika menghadiri undangan dari Dpd Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Bogor, dan adanya beberapa pertanyaan di medsos dan grup2 chat, kenapa Bima datang menghadiri undangan tersebut, Bima menanggapi hal tersebut.
Bima mengungkapkan. Pemimpin harus mengayomi dan merawat silaturahmi, perbedaan keyakinan, agama, cara pandang, politik tak boleh jadi hambatan untuk dapat menjalin bersilaturahmi. Berbeda pendapat dengan kawan – kawan HTI, termasuk soal Khilafah serta cara pandang terhadap agama dan negara. Dirinya banyak tidak sependapat dengan konsep manifesto Khilafah Hizbut Tahrir. Ini sampaikan secara terbuka di hadapan orang banyak dalam acara Hizbut Tahrir tersebut pada Minggu 08 Februari 2016 lalu.

“Bagi saya Bima Arya, NKRI, Pancasila sudah final, dan ini sudah harga mati, pendirian saya soal ini pun tidak akan berubah sampai kapanpun juga. Saya juga tidak setuju dengan kelompok-kelompok yang mencoba memecah belah NKRI. Mengganti Pancasila,” ungkap Bima dalam siaran persnya pada Kamis (10/2/16).

Bima menambahkan, tapi saya lihat ada juga persamaan semangat soal melihat musuh bersama seperti korupsi, kemiskinan, pengangguran, HIV AIDS, kriminalitas dan lain sebagainya. Pihaknya mengajak HTI untuk fokus pada program penyelesaian persoalan real yang dihadapi rakyat sekarang ini, karena pada aspek ideologi sudah selesai, Pancasila dan NKRI adalah harga mati.

“Saya mengajak HTI untuk fokus pada program penyelesaian persoalan yang dihadapi rakyat sekarang ini, dan NKRI adalah harga mati,” tambah Bima.
Pekerjaan rumah kita saat ini adalah menuntaskan dan meringankan beban masyarakat, perbedaan adalah keniscayaan. Tapi kebersamaan harus diperjuangkan, Kita masih harus terus belajar dari pendiri bangsa ini untuk mengelola perbedaan, dan mengedepankan kebersamaan. Karena Pemerintah tidak bisa sendiri menyelesaikan persoalan. Dirinya berterima kasih atas kritik dan koreksi yang disampaikan padanya, ini bagian dari proses dialektika menuju Indonesia yang lebih maju.
“Menuntaskan dan meringankan beban masyarakat adalah pekerjaan rumah terbesar kita saat ini,” pungkasnya.ujarnya.(bunai)