Hj. Tuti Alawiyah dan BKMT

bogoronline.com
Indonesia kembali kehilangan putri terbaiknya, yakni, mantan menteri negara pemberdayaan perempuan, Prof. Dra. Hj. Tuty Alawiyah Abdullah Syafi’ie, yang lahir di Jakarta, pada 30 Maret 1942. Tuty meninggal di Jakarta, 4 Mei 2016 pada usia 74 tahun. Tuty meninggalkan lima orang anak dan 13 orang cucu.
Tuty menjabat Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada tahun 1998 hingga tahun 1999 pada Kabinet Pembangunan VII dan Kabinet Reformasi Pembangunan. Lulusan IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan ini, juga pernah menjabat sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari tahun 1992 hingga 2004 dari Utusan Golongan.

Sepanjang hidupnya, ia telah menerbitkan 30 buku. Pada tahun 1981, ia mendirikan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT). organisasi ini telah banyak berkontribusi dalam membangun umat Islam di Indonesia, khususnya Muslimah.

“BKMT sebagai salah satu organisasi Muslimah besar di Indonesia ini bisa menjadi corong untuk kemajuan umat,” kata Sekretaris BKMT Syifa Fauziyah, yang merupakan putri dari Tuty Alawiah.

Syifa mengatakan, sejak didirikan 35 tahun lalu, kini BKMT sudah dapat dijumpai di 400 kabupaten/kota di Indonesia. “Diperkirakan sudah ada 10 jutaan lebih anggota BKMT di seluruh Indonesia yang aktif,” jelas dia.

Selain di Indonesia BKMT juga telah merajut jejaring internasional atas peran yang dilakukan oleh seorang Tutty Alawiyah sebagai ketua BKMT dan juga ibunya. “BKMT sendiri sudah ada BKMT Hong Kong, yang sudah pernah kita lantik juga di sana. Kita sebenarnya tidak menutup di negara lain untuk membentuk perwakilan,” kata dia.

Padahal, kata dia, pada awalnya BKMT hanya menargetkan di Jabodetabek saja.

Menurut Syifa, kemajuan-kemajuan kaum Muslimah tersebut merupakan pencapaian tersendiri bagi Tutty Alawiyah sebagai pendiri.  Selain karena sosok tokoh Tutty Alawiyah, terdapat beberapa faktor lain yang membuat BKMT dapat berkembang pesat menjadi besar seperti saat ini. Menurut Syifa, faktor lain tersebut salah satunya karena ibu-ibu majelis taklim melihat BKMT terlepas dari partai politik.

BKMT tidak berafilisiasi dengan partai mana pun sehingga mereka bebas dalam bergabung. “Bahkan dari Muhammadiyah atau NU pun bisa tetap masuk BKMT. Jadi, tidak ada embel-embel warna, tidak ada embel partai,” ucap dia.

Kemudian, lanjut Syifa, faktor kedua yang membuat BKMT menjadi besar adalah di setiap daerah sebelumnya pasti sudah ada majelis taklim, baik di mushala atau di masjid, sehingga sesama majelis taklim ada keterikatan satu sama lain. “Aktivis-aktivis BKMT daerah juga mau turun ke pelosok-pelosok untuk menyuarakan BKMT. Jadi, saya rasa itu juga menjadi suatu kemajuan dan bisa menjadi besar seperti sekarang ini,” kata dia.

Syifa mengatakan, Tutty Alawiyah sudah berhasil membangun kemajuan umat lewat bidang pendidikan, dakwah, dan sosial. Di sektor dakwah, kata Syifa, sudah ada BKMT sendiri, di bidang pendidikan sudah ada UIA, sedangkan di bidang sosial sudah ada Pesantren Yatim. “Nah, itu terlihat juga di ibu-ibu di daerah,” ujarnya

Ia mencontohkan, seperti para pengurus BKMT di daerah, tidak sedikit dari mereka yang juga telah mempunyai institusi pendidikan dan banyak dari mereka yang membantu membiayai para yatim piatu juga. “Jadi, kita juga memberdayakan hal itu bahwa kita khairunnas anfauhum linnas, ” ujarnya.

Tidak hanya itu, Syifa juga melihat para anggota BKMT juga semakin kaya dengan pemberdayaan ekonomi. Jika melihat laporan mereka dalam setiap rakernas, kata syifa, banyak dari mereka yang sudah mempunyai koperasi. Bahkan, ada juga yang sudah mendirikan semacam supermarket halal, toko-toko UKM, kerajinan UKM, dan lain-lain.

Untuk membuat anggota BKMT juga dapat berdakwah, Tutty Alawiyah juga telah melakukan kaderisasi untuk ustazah BKMT yang dilaksanakan setiap Selasa pagi. “Itu khusus ustazahnya, baik itu dari Karawang, Bekasi, Bogor, dan lain-lain. Bentuknya pengajian, tapi banyak disisipi soal pengaderan BKMT di daerah,” jelas dia.

Kendati demikian, ada beberapa daerah yang memang menjadi tantangan tersendiri buat BKMT karena pengurusnya kurang bekerja dengan maksimal. “Ada berbagai daerah yang seperti itu. Tapi, justru surprise-nya adalah daerah-daerah yang jauh dan bukan mayoritas Muslim seperti Manado atau Bali itu justru BKMT kuat di sana,” kata dia.

Syifa menambahkan, seorang ibu merupakan madrasah bagi anak-anak dan keluarga. Karena itu, kata dia, dengan memberikan pemahaman terhadap ibu-ibu majelis taklim, BKMT ingin memajukan wanita Muslimah dari segi pendidikan, ekonomi, atau politik.

“Seorang ibu pasti mempunyai dampak besar di keluarga dan lingkungannya, apalagi jika dia aktif di BKMT, banyak hal yang bisa dilakukan sehingga bisa memartabatkan majelis taklim,” ujarnya.

Kepergian Tuty Alawiah tentunya meninggalkan duka mendalam. Bukan hanya bagi keluarganya tapi keluarga besar Indonesia Raya. Selamat Jalan Ibu, Perjuanganmu tidak akan sia-sia. (ful/wik/rep)
Anak :
H. Moh. Reza Hafiz
H. Dailami Firdaus
Hj Nurfitria Farhana
Hj Lily Kamalia Ihsana
Hj. Syifa Fauzia

Cucu :

Maria Qibtia Reza/ Irfan Fakhri Reza/ Nadia Safira Prayogi/ Abizar Hadi Ghifary/ Sarah Rahmania Prayogi/ Finda Dania Fadhilla/ Bintang Akbar Yusuf/ Raihan Zulfikar Reza/ Fadly Farhan Sultan Prayogi/ Bunga Dania Fajriyah/ Zulfikar Ahmad Faried Aprian/ Alika Ihsania Aprian/ Andi Siti Aliyya Rahima Aprillah /